Cinta.

915 Kata
Malam pun terlihat sangat gelap walaupun ribuan bintang di langit tampak menyinarinya. Kemudian, Ken menyalakan lampu hias yang sudah terpasang di dalam Basket untuk membuat cahaya agar tidak terlalu gelap. Ken dan Dita terlihat sangat menikmati perjalanan sambil melihat bintang-bintang di langit. Namun, Aziz merasa begitu bosan dan tidak tahan dengan perjalanan yang memakan waktu yang sangat lama ini. Karena Balon udara tidak bisa berjalan dengan cepat seperti Pesawat pada umumnya. Aziz pun memutuskan untuk terbang dan pergi terlebih dahulu menuju suatu tempat. “Gue terbang dulu Ken. Balon Udaranya sudah gue arahkan ke Pulau Starbuck. Jenuh gue cuma duduk doang disini. Nanti pagi gue balik lagi”. ucap Aziz sambil terbang meninggalkan Ken dan Dita. “Si sinting gak jelas”. Kata Dita dalam hati. Setelah itu, Dita melihat Ken yang tampak sedang menikmati pemandangan dari ketinggian. Ia merasa Ken terlihat begitu manis ketika sedang melamun. Namun, ia juga merasa kebingungan. Apakah karena ada Api di atas kepalanya? Atau kah karena dia sedang bersama pengendali Api? Karena saat ini ia merasakan kehangatan yang tidak biasa ketika sedang bersama Ken. Dita pun langsung menghampiri Ken dan merangkul tangannya. “Apakah ada yang mau kamu ceritakan?”. Tanya Dita. Namun, Ken hanya menatap wajah Dita sambil tersenyum. “Aku ingin sekali mengetahui semua tentangmu”. Ucap Dita sambil memegang wajah Ken. Ken sempat terkejut karena melihat Dita yang terlihat begitu cantik dan manja. Dan kebetulan, Ken ingin memberitahu Dita tentang apa yang ia rasakan selama ini. Sambil menatap bintang, Ken pun berkata. “Saat gue mendadak hidup sendirian, gue merasa seperti orang yang hidupnya sudah hancur. Hati gue rasanya kosong dan hampa. Tapi dalam kegelisahan gue yang cemas akan kesendirian, Gue tetap gak pengen bergantung sama orang lain. Tapi, semuanya terasa kayak mimpi buruk. Gak! Bahkan mimpi buruk gak pernah se-hampa itu. Mungkin waktu itu gue merasa selalu ingin sendirian. Tapi, gue gak bisa membohongi diri gue kalau gue membutuhkan seseorang yang ingin bersama gue hingga akhir. Bocil dan Aziz pun datang ke dalam hidup gue. Tapi, semua terasa sama saja. Gak ada yang bisa mengisi kekosongan hati gue walaupun mereka berdua selalu ada untuk gue. Lalu, pas lo hadir di hidup gue. Semuanya terasa kayak keajaiban. Saat lo bicara ke gue, saat pertama kalinya lo berbuat baik ke gue, saat lo mengulurkan tangan lo, saat lo memeluk gue, saat lo bilang ingin tinggal bersama gue. Bisa bertemu sama lo, terasa seperti keajaiban. Gak ada orang lain yang menjadi sangat berharga bagi gue. Cuma dari tatapan matanya, cuma dari senyumannya. Orang yang telah menjadi segalanya buat gue. Karena itu lah..” Belum sempat meneruskan perkataannya, Dita pun langsung memeluk Ken dengan erat. “Aku pernah berpikir, tidak masalah siapa orangnya. Aku cuma ingin ada seseorang yang selalu ada untuk aku. Terima kasih tuhan karena kamu sudah mempertemukan aku dengan Ken”. ucap Dita “Dita.. Gue ini sebenarnya selalu ada di sisi lu hanya demi diri gue sendiri. Dulu ataupun sekarang gue merasa harus menantikan seseorang. Lo ini sudah gue  anggap sebagai orang yang sangat berharga. Buat gue, sekarang gak ada lagi yang lebih berharga dari lo. Mungkin Tante Nisa, Dr. Ali, dan Bocil juga berharga. Namun, lo itu berada di tempat yang paling indah. Karena itu lah, sampai kapan pun gue akan terus berada di sisi lo. Alasan gue hidup ke dunia ini adalah untuk hidup bersama lo. Apa boleh gue berpikir seperti itu?”. Dita pun tidak kuasa menahan Air matanya. Kemudian, Dita memegang wajah Ken dan mencium Ken dengan lembut. Di tengah bulan yang terlihat sangat besar dan terang tersebut, mereka berdua pun berciuman. Setelah itu, Ken memasangkan sebuah kalung yang ia pakai sejak kecil untuk Dita. Kalung itu adalah kalung peninggalan Ibunda Ken. Ia menaruh semua harapan hidupnya ke Dita. Sampai akhir pun, Ia hanya ingin hidup bersama Dita. Hari pun sudah menjelang pagi. Namun, perjalanan masih sangat jauh sekali. Tiba-tiba, Aziz datang membawakan makanan untuk sarapan bersama Ken dan Dita. Mereka bertiga pun melakukan sarapan bersama. Setelah sarapan, Aziz terlihat tampak kesal dengan kecepatan Balon Udara tersebut. Melihat Aziz yang begitu kesal, Ken pun memiliki sebuah rencana. Ia ingin Aziz mengarahkan Balon Udara tersebut ke lautan luas. Karena Aziz tidak begitu mengerti, ia pun langsung menggerakkan Balon Udara tersebut begitu saja ke arah laut yang luas. Setelah mereka sudah berada di atas laut yang luas, Ken pun mematikan Apinya dan menurunkan Balon Udara tersebut hingga berada di atas permukaan laut. Setelah berada di permukaan laut, Ken menyuruh Dita untuk segera membuat sebuah gelembung Air besar yang melingkari seluruh Basket. Setelah itu, Ken menyuruh Aziz membuat Angin untuk pernapasan mereka nanti ketika berada di dalam laut. Mereka pun melakukannya sesuai permintaan dari Ken. Setelah mereka sudah berada di dalam laut. Ken pun memindahkan tangan kanannya ke belakang Basket. “Pulau Starbuck di arah mana Ziz?”. Tanya Ken. “Tinggal lurus aja Ken”. Jawab Aziz. “Bersiaplah. Pegangan yang kencang ya”. Kata Ken. Ken pun mengeluarkan Api dari tangan kanannya dan membuat Basket tersebut melaju dengan kencang. Dita pun berusaha menggerakkan Basket tersebut agar tidak menabrak Ikan dan karang laut, Sedangkan Aziz berusaha menyeimbangkan Basket tersebut dan membuat Angin sejuk agar mereka tetap bisa bernapas di dalam laut. Mereka melakukan kerja sama yang sangat baik. Walaupun memakan waktu yang cukup lama, akhirnya mereka bisa sampai di Pulau Starbuck dengan selamat. “Tempat gak jelas macam apa ini? Gak ada kehidupan sama sekali”. Kata Aziz yang sedang melihat-lihat isi pulau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN