11 | The Headquartes

1462 Kata
Tidak ada masalah yang selesai dengan cara lari, karena ada masalah lain yang akan datang menanti, maka selesaikan masalahmu hari ini. -Raquilla- ••• "Ciee diantar sama siapa, tuh?" Nabilla menoleh, dia mendapati Yogi Kakaknya tengah bersedekap sambil menaik-naikkan alis. "Kakak nggak perlu tau ih. Kepo!" jawab Nabilla. "Elah lu, manja. Gue bilangin sama Bunda nih. BUNDA! BUNDA! NABILLA MULAI NAKAL NIH, BUNN." Yogi berteriak seraya masuk ke dalam rumah. Nabilla mencak-mencak, ia menghentakkan kaki kesal. "Kak Yogi, apaan sih?! Aku nggak nakal tau, BUNDA JANGAN DIDENGERIN!" gerutu Nabilla ikut masuk ke dalam rumah. Bundanya yang ternyata sedang menonton TV di ruang tengah menggelengkan kepala, lantas saja wanita berhijab peach itu mengecilkan volume TV ketika Yogi sudah duduk di sampingnya. Nara menatap Yogi. "Kenapa lagi sih Yogi? Kamu apain lagi adik kamu?" Yogi menunjuk ke arah Nabilla yang berkacak pinggang. "Itu Bun, si manja udah mulai nakal. Tadi aja dianterin sama cowok." "Cuma dianterin aja! Nabilla nggak ngapa-ngapain kok. Kak Yogi ih bikin kesel, bikin bete!" "Halah. Pake ngeles kayak bajai. Hukum aja, Bun. Jemur tuh di luar biar hitem," saran Yogi tertawa puas. "Kak Yogi!" teriak Nabilla geram. "Sudah! Sudah! Aduh, pusing ini kepala Bunda kalau kalian berantem mulu," sungut Nara, ia menatap Yogi dan Nabilla bergantian lalu memijat pelipis. "Kalian udah gede, sadar sama badan dong." Telunjuk Nabilla mengarah pada Yogi. "Tapi Kak Yogi yang mulai, Bunda. Hiks." Kali ini air mata Nabilla luruh, ia menangis sesegukan. Yogi memang sudah keterluan. Nabilla menyeka ingusnya. "Yah, nangis lagi," cibir Yogi. "Yogi udah," tegur Nara, kemudian menatap Nabilla. "Nabilla sini duduk sama Bunda." Nabilla menuruti saja apa kata bundanya, dia duduk di samping Nara setelah menyeka air mata. Sempat melirik sinis pada Yogi, yang dibalas cowok itu dengan peletan lidah. Nabilla makin tambah kesel jadinya. "Nabilla, tatap mata Bunda," Nara menaikkan dagu putrinya hingga tatapan mereka sejajar. "Tadi beneran diantar sama cowok?" Nabilla mengangguk pelan, dia enggan berbohong, kata Bundanya berbohong bukanlah hal yang baik. "Itu juga terpaksa, Bunda. Ponsel Nabilla baterainya habis. Terus Damar udah pulang duluan. Tinggal Kak Raqa aja lagi harapan Nabilla." "Emang Kak Raqa itu siapa? Temen kamu? Kenalin dong sama Bunda." "Ish, Bunda, dengerin dulu. Kak Raqa itu ketua OSIS, jadi tadi tuh dia nabrak aku, terus aku ngambek, sebagai gantinya aku minta Kak Raqa nemenin aku ngegambar bunga di taman belakang sekolah. Cantik banget. Aku suruh deh Kak Raqa nemenin sampe selesai," jelas Nabilla panjang lebar. Bundanya manggut-manggut paham. "Itu namanya modus adik geblek." Entah kenapa Nara mendadak tertawa mendengar penjelasan Nabilla, putrinya benar-benar polos, mungkin diluaran sana banyak menganggap Nabilla hanya modus mendekati kakak kelas. Tapi dia yakin, Nabilla tidak punya udang di balik tahu, eh salah, udang dibalik batu. "Kamu ini, berapa kali Bunda katakan jangan suka nyuruh-nyuruh orang," ucap Nara. Nabilla cengengesan. "Setelah itu nggak ada apa-apa lagi, kan?" sambungnya. Oke, karena Nabilla itu orangnya baik hati dan tidak sombong, jadilah dia menganggukan kepala. "Nggak ada. Tapi ... adek nyuri kesempitan dikit." "Kesempatan woi," tandas Yogi. "Ya itulah pokoknya, Kak Yogi ikut-ikutan aja deh. Sana gih, hush." "Ya elah." Nabilla mendengus geli, dia kembali menatap Nara. "Jadi adek tuh tadi sempet masukkin nomor adek ke ponsel Kak Raqa. Terus ngehapal balik nomor Kak Raqa. Nggak papa, kan Bunda ya. Hihi. Biar jadi koleksi." Bundanya mendengus pasrah. "Iya nggak papa, asalkan jangan macem-macem." "Horeee. Nabilla janji," cewek itu mengangkat dua jari di tangan kirinya. Mulut Nara terbuka lebar, buru-buru dia meraih tangan Nabilla yang di perban itu dan mengusapnya. "Astagfirullah. Ini kenapa tangan kamu sayang?" "Oh ini. Lecet dikit doang, nggak papa kok, Bunda." Dua kali Bundanya menghembuskan napas lega, diusapnya sebelah pipi putrinya penuh kasih sayang. "Ya udah sana kamu mandi gih, habis itu perbannya Bunda ganti." "Iya, Bunda." -Raquilla- Dari tadi, Raqa diam di dalam mobil, ia malas jika harus masuk ke dalam rumah. Apalagi rumah itu dihuni oleh Arga Dinata-ayahnya. Sehabis pulang, seperti biasa, pasti akan ada pertanyaan yang dilontarkan Arga masalah sekolah. Menemukan jalan, Raqa akhirnya memutuskan pergi ke markas khusus yang hanya ia, Risa, neneknya dan teman-temannya yang tahu. Teman-teman itu tidak lain adalah Juan, Ragil dan Gheral, dulu mereka satu geng sejak SMP tapi sekarang harus terpecah karena Raqa memutuskan jadi ketua OSIS. Meski seperti itu, ketiganya tetap berteman walau mereka terpisah di berbagai bidang. Sedangkan untuk Bryn, dia adalah orang baru di hidup Raqa. Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil Raqa sudah terparkir di halaman markasnya. Dia turun, dan mendapati pintunya terbuka, Raqa bergegas menghampiri rumah kecilnya. "Hai Babe, sini duduk. Eike udah lumutan nich nungguin dare tade." Suara itu milik Gheral, dia seenaknya duduk bersandar di sofa. "Kurang cabe ya sis. Sini mulutnya ane sumpelin kacang." Ragil melempar kacang ke mulut Gheral, sayangnya lepas. "Yah, coba lagi sis. Ente belum beruntung, eike udah kepanasan nich, eh kamu, cepet nyalakan kipas," perintah Gheral pada Raqa. Ragil melempar sekali lagi kacangnya, dan wups. Kacang itu berhasil ditangkap oleh tangan yang berjalan mendekat ke arahnya. "Gubluk! Rumah gue bukan tempat dosa. Minggat sana lo betiga!" Raqa melempar kacang tadi ke jidat Ragil. Cowok itu meringis. "Aduh abang gangguin aja nich. Nggak tau apa dedek lagi asik cipokan. Tuh liat!" Gheral menunjuk ke sofa di sudut ruangan. Di sana ada Juan yang lagi asik cipokan bersama wanita berbaju seksi di pangkuan. "Lah, cewek darimana lagi itu, anjir. Kagak pernah liat gua. Siket aja, Raq. Siket. Makin panas tuh kalo dibiarin," ujar Ragil. "Ngiri aja lu habis di tolak Cathrine," serang Gheral pada Ragil. "Eh, gua masih punya harga diri ya cipokan di tempat kebuka kayak gini. Gue sih milih di toilet." "Sama aja, oneng." "Lah, itu pinteran dikit. Kalau ketutup, kan gue bisa grepe-grepe. Hahaha." Mereka berdua tertawa, sementara Raqa mendengus keras, cowok itu menghampiri Juan yang sedang asik cipokan, seolah dunia hanya milik mereka berdua, Raqa menjabak keras rambut si wanita berseragam SMA itu hingga cipokan keduanya pun terlepas. "Aduh!" rintih Sang wanita. "Sakit g****k! Nggak usah dijambak napa sih?" Raqa memutar bola mata malas. "Minggat sana lu!" "Nggak. Ganggu aja lo," jawab Sang wanita. Raqa melirik name tagnya, Mery Theresia-kelas XI IPA-4. "Adik kelas?" "Etdah, lumayan juga selera lu, Wan! Cantik, body goals, dan seksi Kagak nyangka gua," ucap Gheral. Ragil mengusap dagu. Mendadak ia teringat sesuatu "Bukannya tuh cewek yang sering keluar masuk BK?" "Ha ah, Neng. Gua ingatlah, udah kayak setrikaan bolak balik tiap hari. Kagak bosen?" tanya Gheral. "Kagak!" jawab Mery, dia turun dari pangkuan Juan lalu membenarkan bajunya yang berantakan. "Urusin hidup lo aja deh." "Nah iya. Gue juga males ngurusin hidup lu." Mery mengerucutkan bibir, dia menatap Juan lalu mencolek hidung mancung cowok itu. "Thanks." Juan menggangguk, Mery pun melenggang keluar setelah melempar tatapan sinis pada Raqa. Gheral tertawa ringan, sementara Raqa sudah duduk di sofa kosong sampingnya sambil menyesap rokok. "Enteng bat dah tinggal pulang. Kan dedek jadi iri, bang Juan. Cariin satu lah." "Nabilla aja gimana? Kan imut dah tuh cewek, pendek, bikin gemes," saran Juan. Dia gemas sendiri membayangkan wajah Nabilla. "Tapi, menurut gue nggak cocok sih. Ya kali bocah polos gitu dicipokin, yang ada dia malah nangis. Ye nggak, Raq?" Raqa hanya mendelik lalu mengangguk pasrah. "Kenapa lu? Capek? Bosen jadi ketua OSIS?" tanya Ragil. "Ya iyalah, kerjaan cuman ngehukum anak orang," cibirnya. Gheral mendengar nada sinis dari ucapan Ragil, dia mengernyit. "Napa, Gil? Lo demen sama Nabilla?" tanya Gheral. Ragil menggidikan bahu acuh. Raqa menghembuskan asap rokoknya ke udara. "Kalo lo demen ngomong, biar gue bisa lepas dari tuh bocah manja." "Lepas? Behahaha. Emang siapa yang ngasih lu lem sama Nabilla? Kagak ada tuh di belakang," desis Juan, tertawa. Gheral menoyor kepala Juan. "Bukan itu maksudnya, nyet! Pintaran dikit napa." "s***p lu bedua! Maksudnya tuh cewek selalu ada di sekeliling gue. Gue rese jadinya, mana nangis mulu lagi, berisik," kekeh Raqa. Juan tertawa sementara Gheral menepuk pundaknya. Ragil tidak berkomentar apa pun, malah asik memainkan ponsel, ia seperti tidak tertarik dengan pembicaraan ini. "Ternyata dunia ini terlalu sempit ya, bro." "Celana dalam lo sempit b*****t!" tandas Raqa. Ia menginjak habis rokoknya. "Pokoknya lu betiga harus cari cara supaya Nabilla ngejauhin gue." "Baru sehari abang Raqa. Duh, gue kayak homo ya. Diemin aja dulu selama beberapa hari. Nah kalau tuh cewek masih nemplok, pasukan siap bergerak. Lagian Nabilla cantik, kaga tertarik napa?" tanya Juan. Raqa tertawa meremehkan. "Nggak! Abis aja gue jadi babu." Drrt ... drrt ... Mendadak ponselnya berbunyi, Raqa merogoh saku celana dan menaikkan alis kala menemukan nama Nabilla Cantik tertera di notifikasi ponselnya. Tunggu-tunggu. Nabilla Cantik? Sejak kapan Raqa menyimpan nomor bocah manja itu? Ah sialan, Raqa mengacak rambutnya frustasi. Dia beranjak dari duduk dan melempar sembarang jas almamater maroonnya. Menyisakan kaos putih polos dan celana jeans hitam panjang. "Mau kemana, Raq?" tanya Gheral. "Club," jawab Raqa lalu mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celana. -Raquilla-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN