Ada kalanya kata yang hendak terucap ditelan kembali, agar tidak ada pihak manapun yang tersakiti.
-Raquilla-
•••
Jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, selesai makan malam bersama keluarganya, Nabilla duduk di atas kasurnya seraya memainkan ponsel. Dilihatnya lagi nomor Raqa yang sudah ia simpan.
Nabilla tersenyum, entah kenapa, padahal hari ini begitu melelahkan. Mulai dari acara MOS dimulai, sampai acara itu selesai, Nabilla ingat banyak kesialan yang menimpanya.
Meski demikian, Nabilla tidak pernah marah pada Tuhan, karena ia selalu ingat kata Nara jika musibah adalah salah satu wujud rasa sayang Tuhan pada makhluknya. Atau sejenis hukuman atas perbuatan dosa yang makhluknya lakukan.
Jika Nabilla masuk dalam kategori kedua, maka dia akan senang hati memperbaiki kesalahannya. Jika pun masuk dalam kategori pertama, Nabilla sangat bersyukur karena Tuhan menyayanginya.
Sebab itu sekarang Nabilla tersenyum, hanya satu, mengingat semua sikap Raqa padanya. Cowok ganteng itu, ya, dia memang labil, kadang bikin kesel, tapi Nabilla suka. Kadang suka ngehukum tanpa sebab, tapi yang ini tidak bisa ditoleransi.
Nabilla mendengus, ia sudah mencoba mengerjai Raqa dengan menelpon cowok itu. Tapi, hasilnya? Bikin Nabilla pengen nyakar dinding. Dia tidak menyerah, mencoba menelpon Raqa lagi dan untuk ketiga kali ini Raqa mengangkat telponnya? Oh, waw! Seperti mimpi. Saking girangnya, Nabilla menendang-nendangkan kakinya ke udara.
Apalagi bocah manja, pendek?! Berhenti ganggu gue!
Belum sempat Nabilla bersuara, suara berat di seberang sana memekak telinganya.
"Aku ganggu berarti ya? Duh, maaf ya kak. Hihi."
Nggak usah ditanya! Pake ketawa-ketiwi lu! Tutup telponnya!
"Nggak mau ih, pengen denger suara Kakak. Boleh ya?"
Kaga! Gua males denger suara lu, cempreng!
"Ish. Nabilla nggak cempreng tau! Ini gara-gara ngomongnya kenceng."
Lu kira gue d***u?
"Duh, bukan gituuu. Disana kayaknya ribut, makanya aku kencengin ngomongnya. Kakak lagi dimana, sih? Kok banyak suara kaset rusak?"
Bukan kaset rusak! Ini DJ.
Nabilla terkekeh pelan. "Oh. Emang kakak ada kerjaan lain ya nge-DJ malam-malam gini?"
Andai Nabilla tau di seberang sana Raqa ingin sekali mencekiknya.
Terserah lu, g****k!
Nabilla mengerucutkan bibir, ia menyandarkan punggung di sandaran kasur. "Tuh, kan ngomongnya pakai urat lagi. Bikin-"
Tut tut tut.
Sambungan terputus tiba-tiba, dan Nabilla tau Raqa yang memutusnya. Mungkin Kak Raqa ngerasa diganggu, batin Nabilla. Ia tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting, Nabilla sudah denger suara Raqa. Haha.
Memilih tidur, Nabilla menarik selimut hingga sebatas d**a lalu mulai memejamkan mata. Namun, belum juga ia memasuki alam mimpi, ponselnya berdering. Tunggu, apakah itu dari Raqa? Dengan semangat Nabilla meraih ponselnya di samping bantal. Dan ternyata...
Grub Samena-mena? Sejak kapan dia ada di grub w******p ini? Lalu kenapa namanya Samena-mena? Aduh, Nabilla jadi pusing sendiri, kan memikirkannya.
Samena-mena
Nabilla Shiletta joined the grup.
Sagita Viona: Welcome @Nabilla Shiletta
Nabilla Shiletta: Iya. Hehe.
Mentari Pagi: Kaku bener?
Sagita Viona: Diem lu @Mentari Pagi. Jangan recokin temen gue?
Mentari pagi: Gue nggak recokin kaleee?
Nabilla Shiletta: Ini grub apaan ya?
Sagita Viona: Ini grub buat curhat-curhat aja, Nab. Ya kali lu ada masalah. Cinta misalnya, lu curhat aja di sini.
Mentari Pagi: Jangan mau, Sagita bau.?
Sagita Viona: Awas lu ye, Tar?
Mentari Pagi: ??♀?
Nabilla Shiletta: Nama grubnya kok Samena-mena?
Sagita Viona: Yah, kirain lu udah tau. Samena itu singkatan dari Sagita, Mentari, dan Nabilla. Biar azekk dah. Kan isinya cuman kita betiga.?
Nabilla Shiletta: Oh, kenapa yang lain nggak diundang?
Mentari Pagi: ??
Sagita Viona: Please, deh, Nab ?Gini ya. To the point aja. Gue ada kabar hot tentang Kak Raqa, makanya gue undang lo di sini.
Nabilla Shiletta: Oh.
Mentari Pagi: Emot lo mana, Nab?
Nabilla Shiletta: ?
Mentari Pagi: MAKSUD GUE KEYBOARD LO NGGAK ADA EMOTNYA?! HEDEH? Oke, abaikan.
Nabilla Shiletta: Oh. Itu ya, ada kok.?
Sagita Viona: Nah, itu baru bener.
Mentari pagi: Yaudah gue off dulu dah, ngantuk.
Sagita Viona: Eh, jangan dulu, Tar. Gue kan belum ngomong soal Kak Raqa.
Nabilla Shiletta: Mungkin dia lelah
Sagita Viona: Yaudah deh, gue tidur juga. Night, Nab.
Nabilla Shiletta: Night juga. Mimpi indahhh.
Nabilla pun menaruh ponselnya, ia menguap lebar, jam menunjukkan pukul sepuluh, ini sudah lewat waktu tidur dari biasanya. Tapi, pikirannya masih saja berkelana, soal Raqa, soal apa yang ingin diberitahukan Sagita padanya.
Akan tetapi, kantuk ini sudah tidak bisa lagi diajak kompromi, Nabilla akhirnya tertidur.
-Raquilla-
"Hari ini, kita ngasih kejutan apalagi buat peserta MOS?" tanya Juan, bersedekap.
"Gue nggak tau, tanya aja tuh sama yang punya acara." Ragil menggidikan dagunya ke arah Raqa. Cowok itu sibuk mengecek lembaran kertas di hadapannya.
Mendadak seseorang muncul dari arah pintu. Ragil dan Juan lantas menoleh, namun Raqa tidak.
"Raq, gue baru aja dapat laporan dari Pak Gusti soal kerja panitia," ucap Bryn, dia berdiri di samping Raqa, menyodorkan selembar kertas.
Penasaran, sempat mengernyit, Raqa akhirnya menerima kertas itu dan membacanya.
"Disitu tertera kalau salah satu dari kita nggak ada yang boleh nyakitin siswi bernama Nabilla. Kalau nggak salah anak kelas X IPS-A itu, kan?"
Raqa mengangguk, keningnya mengernyit dalam, tunggu, ini sama saja seperti ketidakadilan untuk peserta yang lain.
"Yang sering dihukum Raqa juga," tambah Ragil, ada nada sarkas dalam kalimatnya.
"Drama baru apalagi ini, capek dedek, bang," sungut Juan. Ia menatap Raqa tidak suka. "Ini gara-gara lu, sih. Ngehukum anak orang sembarang, kan jadi bertindak tuh bapaknya."
"Gue kaga peduli," jawab Raqa.
"Masa gitu? Akibatnya kita semua yang tanggung, Raq. Lu sama aja matiin kita pelan-pelan, lu tau, kan gua sekolah penuh pengorbanan di sini." Juan mulai cemas.
Ragil berdehem pelan setelah melirik Raqa sekilas. "Gue setuju, bentar lagi kita juga mulai lulus."
"Jadi, lo nyalahin gue?" Raqa tidak terima pada ucapan Ragil, dia berdiri di hadapan cowok itu lalu mencengkram seragamnya.
Ragil membuang muka ke arah lain, meski begitu, wajahnya tidak menyiratkan ketakutan sama sekali.
"Eits, jangan berantem, anjir. Masih pagi, kita masih banyak yang harus dikerjain," Bryn berdiri di antara mereka, sambil menahan cengkraman Raqa pada seragam Ragil. "Raq, udah lah. Lu jangan sensian gini."
Belum sempat terbayarkan kemarahan Raqa, dia berat hati melepaskan cengkramannya pada seragam Ragil. Memicing sinis lalu berkata, "Gue yakin lo suka sama Nabilla."
Ragil tersenyum kecut setelah membenarkan kerah seragamnya. "Kalo iya, kenapa?"
-Raquilla-
"NABILLA!"
Seruan nyaring berasal dari arah belakang, Nabilla yang tadinya fokus menggambar lantas menoleh.
"Kalian kenapa, sih? Kayak habis dikejar setan," ucap Nabilla. Sementara Damar di sampingnya menaikkan kacamata.
"Yaelah, mana ada setan pagi-pagi gini. Lu juga, ngapain sih pagi-pagi udah ngegambar. Kayak anak TK," cibir Sagita.
Memang, sepagian ini mereka mendapati Damar dan Nabilla duduk di kursi panjang-tepat di tepi lapangan.
"Gue suka aja, sini deh duduk, gue jadi kepengen gambar muka lo bedua," kata Nabilla. Sagita dan Mentari pun berdesakan mengambil duduk samping Nabilla, Damar yang duduk paling ujung mendengus karena hampir jatuh.
"Gue duduk nih, tapi bukan mau digambar mukanya sama lo," ujar Sagita. Cewek berkuncir kuda itu menghela napas.
"Terus mau ngapain?"
"Mau ngasih tau berita hot masalah Kak Raqa, duh, lu lupa yak? Malam tadi kita mau bahas." Kali ini Mentari yang bersuara. Damar mendengus dan langsung menyumpal kedua telinga dengan headset, tidak tertarik.
Nabilla menepuk jidatnya. "Oh yang itu, gue udah tidur. Lo bedua juga. Jadi, kenapa sama Kak Raqa? Kalian tahu berita apa?"
Baik Sagita maupun Mentari langsung merapatkan duduknya.
"Oke, gue mulai dari masalah foto lo sama Kak Raqa. Gue tau siapa yang nyebarin," kata Sagita.
Nabilla memiringkan kepalanya. "Siapa?"
"Kak Tamara!" seru Mentari, membuat Sagita berdecak lalu menempelkan jari ke bibir cewek itu.
"Shtt, lu jangan kenceng-kenceng ngomongnya."
"Oh oke, sorry," cengir Mentari, Sagita menghela napas lalu kembali menatap Nabilla.
"Lu nggak mau tau siapa orangnya?"
Berpikir, Nabilla merasa itu tidak terlalu penting. Jadilah, ia menggidikan bahu acuh. "Nggak deh, udah lewat juga."
"Yah," Bahu Sagita merosot seketika. Ia cemberut. "Fyi aja dah, kalau kak Tamara itu tergila-gila sama Kak Raqa. Gue dapat berita itu dari Kak Juan."
"Nggak nanya," titah Nabilla.
Sagita memutar bola mata. "Nab, kadang gue capek ya lu giniin."
"Hihi maaf. Tapi, gue nanya nih, lo tau nggak tempat yang berisik saat malem-malem?" tanya Nabilla. Ia masih penasaran dengan tempat yang Raqa datangi malam tadi.
"Berisik gimana maksud lu?"
"Berisik yang kayak ... bunyi kaset rusak gitu. Suara DJ."
Beda orang beda reaksi, Sagita mendengus sedangkan Mentari tertawa geli sambil memegang perutnya. Kaset rusak? Oh ayolah, Nabilla benar-benar terlihat polos di mata Mentari.
"Oalah. Itu DJ namanya, lebih tepatnya ya, club malam. Lo tau darimana tempat itu? Atau lo pernah ke sana atau pengen ke sana?"
Memukul pelan lengan Sagita, Nabilla mendengus. Nama tempatnya saja ia tidak tahu, gimana mau ke sana?
"Gue bukan mau ke sana. Emang itu tempat apaan, Sa? Rame gitu."
Sagita menggeleng tidak habis pikir. "Itu tempat dugem, dunia malam, atau em ... tempat cowok-cewek nakal. Duh, gimana ya biar lu ngerti?" Sagita menggeleng seraya berdecak beberapa kali, takut nanti Nabilla salah paham dan malah pergi ke tempat tidak baik itu.
"Intinya, tempat nggak baik lah," sergah Mentari. "Pokoknya lu nggak boleh ke sana."
Nabilla menggangguk paham. Berarti ... tempat yang didatangi Kak Raqa itu nggak baik dong, pikirnya.
"Lu tau darimana tempat itu, Nab?"
"Dari Kak Raqa," jawab Nabilla enteng. Sagita dan Mentari langsung membelalak.
Menyadari kecerobohannya, Nabilla segera membekap mulutnya dengan tangan. Duh, kok gue ceroboh banget, sih?
"Maksud lo Kak Raqa pergi ke sana? Kapan? Lo tau dari mana?"
Nabilla langsung gelagapan. "Eng ... dari ... aduh, pengen pipis. Damar temenin dong." Ini salah satu cara untuk menghindari pertanyaan itu.
Nabilla bangkit, Damar yang merasa lengannya ditarik langsung melepas headset.
"Kenapa, Nab?"
"Pengen pipis, temenin dong," alibi Nabilla.
"Nab, kita belum selesai ngomong," sergah Mentari.
"Entar aja ya, udah nggak tahan, nih," Nabilla segera menyeret Damar menjauh dari sana, wajah Nabilla panik, sementara Sagita dan Mentari menggerutu kesal di tempat.
-Raquilla-