Menunggu adalah salah satu cara menguji kesabaran seseorang.
-Raquilla-
•••
Nabilla membenarkan rok bawahnya yang terlipat, akibat berlari lumayan kencang, dia sampai keringatan membawa Damar minggat dari Sagita dan Mentari.
Nabila benar-benar gugup akibat kecerobohannya tadi, beralasan ke toilet, alhasil mereka harus melewati koridor kelas sebelas. Belum lagi, Nabilla harus memastikan Sagita tidak curiga, dan di sinilah mereka berakhir. Toilet pria.
Nabilla menepuk jidatnya. "Yah, kok masuk toilet cowok, sih, Dam?" kesalnya.
Mengusap tengkuk, Damar benar tidak tahu apa-apa. Dia mengikuti saja Nabilla menarik tangannya meski tidak tahu arah. Damar juga sempat bingung kenapa Nabilla minta ditemani pipis dengannya, kenapa bukan ditemani Sagita atau mentari saja? Kan Damar cowok.
"Aku juga nggak tau, Nab. Tadi aku ikut aja pas kamu tarik tangan aku. Dan ternyata, kita malah nyasar di sini. Kamu beneran mau pipis nggak? Biar kita keluar nih."
"Ih, Damar! Gimana keluarnya? Malu, kan kalo aku ketahuan nyasar di toilet cowok. Sama kamu lagi."
"Yaa terus gimana? Mau di sini sampai pulang?" tanya Damar. Cowok itu mulai kesal, karena tiba-tiba dirinya yang disalahkan. Dasar majikan gila! Untung gue dibayar.
Diserang rasa panik, Nabilla mulai mondar-mondir nggak jelas. Mau keluar tapi malu, mau nunggu toilet sepi dia tidak tahu pasti.
"Gimana?" tanya Damar.
Nabilla menghentikkan aktivitas mondar-mandirnya lalu menghela napas. "Kamu aja duluan keluar deh, baru aku."
"Nggak papa, nih? Ditinggal sendiri? Entar nangis lagi kalau ketahuan."
Nabilla melipat bibirnya ke bawah, mereka masih dalam kondisi aman. Karena hanya berada di luar, bukan masuk ke dalam toiletnya.
"Eng ... nggak papa deh. Tapi kamu jangan kemana-mana ya."
Damar mengangguk. "Iya." Setelahnya, cowok itu pergi keluar dengan santai dan muka biasa saja.
Sementara Nabilla, ia harus benar-benar memastikan keadaan aman. Celengak-celinguk sambil melangkah maju. Tapi, yang didapatkannya justru bau asap rokok yang mulai menyebar ke setiap sudut toilet. Wait, asap rokok? Siapa yang berani merokok di toilet sepagi ini?
Seolah melupakan jika dirinya di toilet pria, Nabilla berbalik, dia menatap ke atas, rupanya kepulan asap rokok itu berasal dari toilet tengah di antara tiga toilet di hadapannya kini.
Penasaran, setelah menelan saliva kasar, Nabilla melangkah pelan mendekati toilet tengah itu.
"Duh, kalo diketuk nggak papa, kan? Lagian ngerokok nggak baik buat kesehatan kata Bunda. Endap-endap lagi, kalo ketahuan guru pasti bahaya, bisa dihukum. Ini pasti cowok nakal," Nabilla mulai ngomel-ngomel sendiri.
Setelah berpikir sekian menit, Nabilla putuskan mengetuk pintu toilet itu. Namun, belum juga tangannya sampai, pintu itu lebih dulu terbuka menampilkan seorang cowok beralmamater maroon dengan muka terkejut.
Nabilla langsung membekap mulutnya dengan tangan.
"Elu?" tanya Raqa. Sebelah tangan cowok itu menutup pintu, tapi tatapannya masih terarah pada Nabilla. "Lu ngintipin gue?"
Nabilla menggeleng pelan. Ia lantas mundur beberapa langkah sebab wajah Raqa hanya sejengkal dengannya. "Eng... gak kok. Tadi aku nyium bau rokok. Ja-jadi kak Raqa ngerokok? Nggak baik lho, Kak."
"Bukan urusan, lu!" ketus Raqa.
Antara percaya atau tidak, Nabilla memilih opsi kedua. Ia menggeleng tidak percaya.
"Kalo gitu, aku kasih tau sama guru entar," ucap Nabilla. "Biar kakak nggak ngerokok lagi. Kata Bunda, merokok nggak baik, terutama buat kesehatan jantung sama paru-paru."
"Bodo amat, bocah manja! Mau kata bunda lu kek! Mau kata nenek lu kek!"
"Yaudah, aku bilangin sama guru aja biar Kakak dihukum," ancam Nabilla, cewek itu bersedekap.
Raqa tersenyum kecut lalu menaikkan satu alisnya. "Coba kalau berani, lagian lu nggak ada bukti."
"Nabilla nggak pernah bohong. Nabilla coba ya." Nabilla buru-buru berlari keluar toilet. Raqa yang menyadari satu hal membulatkan matanya.
Satu hal yang ia lupakan jika sekolah sangat protektif pada gadis itu, apalagi mengingat dirinya adalah mantan berandalan. Pak Gusti pasti masih mengingat kelakuannya dulu.
Tanpa membuang waktu lagi, Raqa bergegas keluar toilet dan mencari keberadaan Nabilla. Benar saja, cewek itu bersama Damar sedang menuju ruang kepala sekolah.
Raqa menghampiri Nabilla lalu meraih pergelangan tangan cewek itu. "Ae bocah!"
Nabilla lantas berbalik badan, dia memicing kemudian tertawa pelan. "Kak Raqa takut ya? Hihi. Yuk! Damar, kita cepet ke ruang kepala sekolah."
"Nggak boleh!" tandas Raqa.
"Lah kenapa? Kak Raqa pantas dihukum. Lepasin tangan aku, ih!"
Raqa menghela napas, ternyata Nabilla nggak pinter-pinter amat. Segala gitu pake ditanya. "Nggak bakalan! Sebelum lu tutup mulut, gue gak akan lepasin."
"Kok gitu?"
"Terserah gue lah! Cepet ikut gue!"
"Kak Raqa maksa, ih!" gerutu Nabilla. "Aku nggak mau! Kakak pasti mau cium aku lagi, kan? Ngancem aku kayak kemaren."
Damar yang berada di samping Nabilla membelalak sempurna, sempat menatap Raqa namun cowok itu menatap balik dengan tajam. Damar akhirnya menunduk.
"Gue nggak bakalan nyakiti lu," ucap Raqa. Oke, kali ini dia mengalah, agar cewek itu tutup mulut-jadi dia tidak repot sendiri nantinya.
"Terus mau ngapain sama Kakak?" tanya Nabilla.
"Mau ngegambar," jawab Raqa. Dia bahkan tidak tahu jawaban itu tepat atau tidak, dan ternyata... berhasil.
"MAU!!" Nabilla berteriak, membuat Raqa maupun Damar menutup kedua telinga karena suara Nabilla yang cempreng.
"Berisik!" tandas Raqa, kupingnya mendadak sakit. "Nggak usah teriak-teriak juga kali, gue nggak dungu."
Nabilla cengar-cengir. "Hehe, maaf. Tapi kakak beneran ya? Nggak bohong?"
Raqa mengusap wajahnya gusar. "Enggak!"
"Yeay! Yuk!" Nabilla hendak menggandeng tangan Raqa, namun ditepis cowok itu.
"Gue kagak ngomong sekarang," titah Raqa.
Nabilla mengerucutkan bibir. "Terus kapan?"
"Free time," Raqa melirik jam tangan hitamnya. Bersama Nabilla membuat kepalanya pusing sebelah. Cowok itu berlalu begitu saja. Menuju aula.
Nabilla tersenyum puas. Mendadak bahagia sekaligus gemas sendiri melihat Raqa. Dia menghentakkan kaki saking girangnya. Bahkan ia lupa, jika dirinya hampir saja mempermainkan kehidupan seorang Raqa.
"Yeay, Damar! Aku seneng banget ih! Nanti kalau aku sama kak Raqa. Jangan ganggu ya?"
Damar memutar bola mata malas. "Iye. Bodo amat lah." Yang penting lu lenyap dari kehidupan gue, lenyap! lanjut Damar dalam hati.
-Raquilla-
Free time sudah dimulai sejak lima menit lalu, seluruh peserta MOS diperbolehkan meninggalkan aula, mereka memanfaatkan waktu untuk jajan di kantin, mengobrol di tepi lapangan, atau istirahat dengan berbaring di kelas.
Berbeda untuk Nabilla, dia duduk di kursi panjang taman belakang sekolah, sambil sesekali mengayunkan kaki, lalu lanjut mengedar pandang ketika orang yang ditunggu belum datang kemari.
Nabilla mendesah pendek, lalu sketchbook berukuran A3 di tangannya mendadak terbuka ditiup angin, menampilkan sketsa wajah Raqa yang belum jadi. Ia tersenyum.
"Kak Raqa lama banget, sih?" gumamnya.
"Nabilla." Panggilan dari arah kanan membuat Nabilla menoleh.
"Kak Ragil?"
"Lu ngapain sendirian di sini?" tanya Ragil seraya mendekat. Cowok beralmamater maroon itu tanpa basa-basi mengambil duduk di sampingnya.
"Nunggu Kak Raqa, tadi dia janji ngajakin ngegambar bareng. Kak Ragil sendiri ngapain ke sini?"
Ragil menghirup udara sedalam mungkin sambil memejamkan mata, lalu menghembuskannya perlahan. "Nyari angin."
"Nyari angin?" Nabilla mengetukkan pensilnya ke dagu. Berpikir. Lalu tertawa pelan. "Di lapangan juga banyak kali, Kak. Nggak usah jauh-jauh ke sini."
"Gue seringnya ke sini," jawab Ragil, tersenyum, menampilkan lesung pipinya. "Nyari angin maksud gue di tempat yang sunyi, sepi. Dan lu, masih mau nungguin Raqa? Udah berapa lama?"
"Lima menit."
Ragil menaikkan satu alisnya. "Selama itu, lu nggak berniat ninggalin dia?"
"Enggak kok," jawab Nabilla, menggelengkan kepala. "Aku yakin Kak Raqa dateng. Dia kan udah janji. Kata Bunda, janji harus ditepati."
"Nab, di dunia ini semua manusia nggak sama. Ada kalanya lu harus berhadapan sama orang yang selalu bertentangan dengan perkataan bunda lu."
"Ma-maksudnya?" Nabilla memiringkan kepala. Tentu saja, ia tidak mengerti ucapan Ragil.
Ragil menatap Nabilla lekat. "Maksud gue, lu nggak bisa percaya gitu aja sama Raqa. Mungkin niatnya, cuman mau bohongin lu."
"Masa, sih? Jadi menurut Kakak, Kak Raqa jahat gitu? Ih, ngeselin."
"Gue nggak ngomong Raqa jahat. Tapi ... terserah lu, sih. Mau nunggu sampai kapan." Ragil menjeda, dia menatap wajah Nabilla yang terlihat lucu saat kesal dari samping. "Mau ikut ke kantin nggak? Gue laper."
Berpikir sesaat, Nabilla bingung harus pilih antara Raqa atau Ragil. Di sisi lain, perutnya juga berbunyi minta diisi. Dan tepat saat Ragil berdiri, bunyi lapar itu kembali lagi.
Nabilla tersenyum canggung ke arah Ragil sambil memegang perutnya. "Nabilla ikut, deh. Entar maag kalau makannya telat, kata Bunda. Hehe."
Ragil tersenyum, dengan cepat ia menggandeng tangan Nabilla. Tapi, belum juga cewek berambut sebahu itu melangkah, ada tangan lain yang menahan lengannya.
"Nabilla ikut gue," ucap cowok itu. Mata Nabilla membulat sesaat menemukan Raqa menahan tangannya yang di gandeng Ragil.
Ragil menatap Raqa sinis. "Baru dateng. Nabilla udah kelaparan, dia bakal ikut gue."
"Nggak! Gue ada janji sama nih bocah."
"Tumben? Apa ada maksud dibalik janji lo itu?" tanya Ragil sinis. Dia tahu, Raqa itu bukan tipe cowok yang menepati janji.
Raqa menepis kasar tangan Ragil dari tangan Nabilla. "Ngajak berantem?"
"Duh, jangan gitu dongg. Nabilla nggak bakalan ikut siapa-siapa nih," sela Nabilla, dia jadi bingung sendiri karena dua anggota OSIS itu seenaknya sendiri. Nabilla mendesah pelan, lalu bergeser mendekati Raqa.
Nabilla menatap Ragil. "Kak Ragil, Nabilla ikut Kak Raqa aja ya. Maaf soal tawaran ke kantinnya, Nabilla bawa bekal kok di kelas," ujar Nabilla. Memasang wajah puppy eyesnya.
Ragil tidak tega melihat wajah Nabilla seimut itu. Dia terpaksa mengangguk. Namun sorot tidak sukanya selalu terarah pada Raqa.
"Yuk, kak! Kita mau ngegambar dimana?" tanya Nabilla. Raqa lantas menggandeng tangan cewek itu. Mencoba memanasi Ragil yang sok sibuk dengan ponsel di hadapannya.
"Dimana-mana lah." Raqa menarik Nabilla menjauh, sementara wajah Ragil sudah memerah.
"Raqa sialan!"
-Raquilla-