Keesokannya Diana masih melakukan rutinitasnya sebagai istri. Dia bangun pagi dan menyiapkan sarapan. Hanya saja yang membedakan adalah ekspresinya yang tetap murung. Begitu juga dengan hatinya yang tak mengharapkan apapun. Dia hanya... mencoba bersikap baik. Ya, itulah yang sedang dilakukan Diana sekarang. Diana pikir dengan tidur lebih awal akan membuat semangatnya memperjuangkan Doni akan membara lagi. Tapi siapa sangka perkataan Doni yang terus-terusan menyuruhnya berhenti begitu membekas. Sekali lagi benak Diana bertanya-tanya.... salahkah dia memperjuangkan cintanya? Apakah orang jahat seperti dirinya tidak pantas bahagia? Haruskah dirinya selalu menderita agar semua orang menjadi bahagia? Lalu bukankah ini terdengar kejam? Dari sudut pandang orang lain, penderitaan Diana dianggap

