Mourning

1029 Kata
Ternyata wacana untuk menaiki kapal dan menabur bunga di laut terealisasi juga. Pihak maskapai membiayai semua transportasi untuk seluruh keluarga korban. Namun ayah Sashi tidak ingin bergabung dengan kapal utama karena sudah dipenuhi orang. Dia mengeluarkan biaya dengan merogoh kocek sendiri dan mengajak teman-teman Sashi untuk ikut dengannya. Semua yang ada di kantor sudah bersiap-siap sedari subuh dan tidak ada yang absen. Begitupun dengan Dixie yang tiba-tiba sudah datang dan ingin pergi bersama. Noni sebenarnya malas pergi, selain dia mabuk laut, ia juga tidak punya alasan menabur bunga karena sebenarnya Sashi masih hidup. Tapi daripada orang lain menganggapnya tidak menghargai Sashi, sahabat lengketnya, mau tidak mau Noni pun ikut. "Mil, bunganya di mana?" tanya Revo ketika hendak memasuki mobil. "Jio yang bawa. Ada di mobiilnya," jawab Emil. "Oh okee." Mereka berangkat menggunakan dua mobil, mobil Jio dan mobil Revo. Noni ikut di mobil Revo bersama Wiggy, Emil dan Dixie. Tentu saja Wiggy tidak bisa satu mobil dengan Jio, dan entah mengapa Dixie ikut-ikutan di mobil yang sama dan ingin berada di kursi belakang bersama Wiggy, sementara Noni di kursi tengah dengan Emil. Revo dan istrinya di kursi depan. Sementara Shaki ikut bersama Jio dan Renata. Guess what, Renata duduk di depan bersama Jio dan itu membuat Noni muak. Kedua mobil tersebut mulai melakukan perjalanan jam lima subuh. Mereka ditunggu papanya Sashi di rest area yang sudah pergi lebih dulu bersama istrinya, alias ibu kandung Dixie. "Si Shaki bawa kamera?" tanya Noni pada Emil. "Bawa. Kita kan mau videoin penaburan bunga buat konten mengenang Sashi. Tadi juga udah mulai nge-shoot." "Perlu banget ya dibikin konten?" "Bukan kenapa-napa, Non. Ini kan niatnya baik buat mengenang Sashi doang. Sekalian kita puter lagu yang lo take kemaren buat tribute-nya Sashi. Kan pas banget tuh timingnya. Jangan sampe kita ga bikin apa-apa buat Sashi, anggap aja ini penghormatan tersakhir buat dia dan orang tahu kalo kita sangat kehilangan," jelas Emil. "Bukan soal kontennya. Kalo perlu profit ads dari video itu kita kasih ke yatim piatu atau fakir miskin atas nama Sashi." Noni sangat tahu itu. Ia percaya bahwa mereka tidak bermaksud mencari perhatian dengan membuat konten seperti itu. Namun Noni takut, jika saatnya Sashi pulang nanti, semua yang sudah mereka lakukan terasa komedi. Mungkin sebagian malah akan marah karena dikerjain. Lagi pula, ini bukan macam prank yang wajar. Kematian seharusnya tidak dipermainkan seperti itu. Namun Noni hanya mnegangguk mendengar penjelasan dari Emil. Ia diam-diam membuka ponsel untuk memberi kabar pada Sashi bahwa anak-anak House of Skills akan pergi menyeberangi lautan untuk menabur bunga. Jam segini mungkin saja Sashi baru tertidur sepulang dari kerja. Sementara di belakang, Dixie terus-terusan mengajak Wiggy mengobrol random, mulai dari info jika dia kini sedang mengikuti les bahasa Korea, juga tentang pria yang mengejar-ngejarnya di kampus, padahal Dixie tidak menyukai pria tersebut. Noni tahu Wiggy sendiri pasti tidak merasa nyaman. For God's sake, mereka akan pergi untuk melakukan penghormatan pada almarhum Sashi, dan adik tirinya sama sekali tidak ada tanda-tanda sedang berkabung. Noni jadi merasa kasihan pada Sashi. Mungkin keputusan Sashi untuk pergi menyendiri memang sudah menjadi pilihan yang benar. Perjalanan menuju Jakarta menghabiskan waktu hampir empat jam setelah mereka berhenti di rest area untuk sarapan.Ayah Sashi tampak gagah dengan mengenakan jaket kulit berwarna hitam dan kacamata hitam, sementara istrinya memakai gaun lengan pendek dengan panjang sebetis, juga mengenakan hijab mini yang ditalikan di leher. Di Pelabuhan, tampak beberapa kameramen dari berbagai stasiun TV hendak mengabadikan monet penaburan bunga. "Iya, kami sewa kapal sendiri supaya lebih privasi," kata ayahnya Sashi dengan suara ngebass. Noni tidak tahu, apakah ayahnya Sashi sedang mencari muka pada wartawan atau bagaimana. Yang jelas, belum naik kapal pun, Noni sudah mulai mual. Ia pun mnedorong Emil untuk mencari toko yang menjual orange juice kemasan supaya lebih segar juga obat mabuk. "Ayok, kita jalan duluan," ajak ayahnya Sashi sambil mendorong pelan punggung Jio dan yang lainnya. "Kalian ikut di kapal saya saja, mau?" katanya lagi pada salah satu kameramen dan wartawan. "Haiisshh... ternyata beneran nyari muka," gumam Noni. "Kenapa, Non?" tanya Emil sehabis membayar minuman yang mereka beli. Noni menunjuk ayah Sashi dengan dagunya. "Tuh bokapnya Sashi minta wartawan supaya ikut kapal kita." "Ya udah gapapa. Kan yang kayak gue bilang tadi, dia cuman pengen melakukan yang terbaik buat Sashi." "Au ah. Udah yuk!" Mereka pun berjalan menyusul semua temannya. Noni juga memandangi sinis Dixie yang terus-terusan berada di samping Wiggy. Pakaian yang Dixie pakai merupakan crop top warna hitam dan celana panjang kain hitam dengan perut yang tampak jelas. Dia seperti hendak berjalan di atas catwalk. Apa yang akan Sashi katakan jika melihat pemandangan ini? Ayah dan ibu tirinya berusaha keras mencari perhatian wartawan, adik tirinya sibuk menggoda pria, dan pacarnya datang bersama selingkuhannya. Dunia emmang kejam. Kapal mulai berjalan beriringan. Kapal yang disewa oleh ayahnya Sashi lebih kecil daripada kapal utama. Noni menghela napas sambil berdoa supaya tidak mempermalukan diri dengan muntah-muntah. Menurut beberapa informan, mereka akn dibawa ke titik di mana salah satu bagian pesawat pertama kali ditemukan. Noni memilih duduk bersama Emil dan Wiggy, sementara Shaki sibuk memvideokan lautan. Jio dan Renata sedang berdiri di geladak sambil melihat ke bawah laut, tampak sedang mengobrol. Sementara di sudut lain, ayahnya Sashi sedang diwawancara. Dan yang parah adalah ketika Noni melihat ibu dan adik tirinya Sashi sedang berfoto ria. Apakah mereka sama sekali tidak punya empati dan rasa malu? Ingin rasanya Noni melabrak mereka karena terlihat norak. Hingga akhirnya kapal sudah mencapai titik yang dituju. Terdengar isakan dan tangis pilu dari keluarga korban di kapal utama, begitupun dengan Emil dan Shaki yang mulai mengeluarkan air mata. Dixie juga tiba-tiba menangis hanya karena kamera sedang tertuju ke arahnya. Ia juga menggunakan kesempatan tersebut untuk bersandar di bahu Wiggy. Melihat pemandangan tersebut, Noni juga harus pura-pura bersedih. Ia pun mengambil salah satu keranjang bunga dan mulai ditabur ke lautan. "Buat siapapun lo yang ngambil tasnya Sashi, semoga ga masuk neraka," ujar Noni di dalam hati. "Oh itu... itu sahabat dekatnya Sashi. Namanya Noni," kata ayahnya Sashi tiba-tiba. Si wartawan yang berada di samping pria paruh baya itu pun menghampiri Noni. "Mbak Noni, bisa diwawancara sebentar? Gimana perasaan Mbak Noni ketika pertama kali tahu kalo Sashi menjadi korban kecelakaan pesawat dan bagaimana sosok korban di mata Mbak Noni?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN