[Sas, hari ini kami semua mau ke laut nabur bunga buat lo. Semua pada ikut, termasuk ibu dan adik tiri lo dan bokap lo nyewa kapal sendiri, ga mau gabung sama keluarga korban yang lain]
Sashi membaca itu ketika ia baru saja sarapan. Ia pun langsung mencari channel TV yang menampilkan berita. Rupanya benar, keluarga korban pesawat yang kecelakaan sedang melakukan penaburan bunga sebagai penghormatan terakhir. Banyak yang menangis ketika mereka sampai di titik saat pesawat jatuh. Suasana jadi begitu emosional menyadari bahwa orang yang mereka sayangi menghilang di lautan lepas seperti itu tanpa jasad yang bisa ditempatkan di tempat yang lebih layak dan bisa dikunjungi kapanpun mereka merindukannya.
Sashi terus menonton dengan fokus hingga kamera mengarah ke kapal yang lebih kecil, di mana keluarga dan teman-temannya berada di situ. Ia melihat Emil dan Shaki yang menangis hingga matanya memerah. Di sana juga ada Wiggy yang sedang menabur bunga sambil menjinjing keranjang tanpa ekspresi. Melihat pemandangan tersebut, Sashi merasa tersentuh dan ia bagai sedang menyaksikan semuanya dari surga.
Yang membuat Sashi ingin menangis adalah ketika sang Ayah akhirnya muncul. Beliau tampak baik-baik saja sehingga membuat Sashi lega.
"Iya, saya sudah ikhlas melepas kepergian anak saya. Saya cuman bisa berdoa supaya arwahnya tenang dan mendapat tempat terbaik. Saya juga akan rutin mengunjunginya ke sini."
Seumur hidup, Sashi tidak pernah sekalipun melihat ayahnya menangis. Saat ini pun tidak ada. Entah ayahnya terlalu kuat untuk bisa menyembunyikan emosional atau memang dia sama sekali tidak bersedih meski telah kehilangan anak kandungnya.
"Tentu saja saya merasa kehilangan karena Sashi adalah sahabat yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. More than that. Saya yakin sekarang dia ada di tempat yang sangat aman dan terbaik." Noni mengatakan itu dengan penuh tekanan. Sashi bukannya baru mengenal Noni kemarin sore. Omongannya barusan memang mempunyai arti ambigu dengan raut wajah yang tampak kesal. Apakah di sana ada sesuatu terjadi?
Sashi mengira alasannya adalah kebersamaan Jio dengan Renata yang tertangkap kamera. Mereka seperti sepasang kekasih karena selalu berdampingan. Tidak ada rasa segan meskipun berada di hadapan teman dan keluarga Sashi seolah ingin menunjukkan bahwa hubungan mereka memang sudah di tahap serius.
Seakan sudah mati rasa, Sashi belajar untuk tidak peduli. Biar saja mereka melakukan hal tersebut sesukanya.
Berita itu pun selesai dan berganti commercial break. Sashi langsung mematikan ponsel dan meneruskan makannya dengan cepat. Tadi ia memesan nasi campur dari jasa applikasi online dan menolak tawaran Bu Putu yang akan membuatkannya sandwich. Sashi tidak enak jika terus-terusan meminta sarapan dari Bu Putu. Bagaimanapun semua yang dibuat Bu Putu adalah dari uang Jeff. Sashi harus tahu batas.
Ketika Sashi sudah membuang bekas makanannya ke tong sampah, ponselnya berdering. Ada chat lagi dari Noni yang mengabarkan kalau mereka sudah akn kembali ke Bandung.
[Finally, gue ga muntah sampai kembali ke darat. Malu banget kalo sampe ada acara mabok.]
Sashi langsung membalasnya. [Thanks for the words, btw.]
[Lo emang ada di tempat terbaik saat ini, Sas. Gue aja muak ada di lingkungan ini. Lo sabar yaa... yang pasti gue bakalan selalu ada dan siap sedia kapanpun lo butuh, oke?]
***
Ternyata Jeff juga menonton berita tentang penaburan tersebut di kamar cottage-nya. Franky dan Soni juga berada di sana sedang berselimut karena udara sangat dingin. Semalam merekamemutuskan untuk membicarakan project, alih-alih party seperti rencana sebelumnya. Omongan semalam sangat serius sehingga mereka tidak ingin mengundang orang lain.
"Wah belum ada yang ditemuin lagi ya korbannya?" kata Soni dengan mata yang masih menyipit.
Jeff hanya menggeleng dan fokus melihat teman-teman Sashi yang sedang menangis sambil menabur bunga. Bertanya-tanya, bagaimana jika orang-orang tahu bahwa Sashi masih hidup dalam keadaan sehat.
Saat ayahnya diwawancara, Jeff tidak melihat sedikitpun kesedihan dari pancaran matanya, juga tidak ada getaran dalam suaranya. Mungkin memang karakter papanya Sashi seperti itu.
"Oh itu keluarga korban yang si cewek muda itu, ya? Gila, masih muda, mana cantik pula," Franky ikut berkomentar. "Pantes aja bapaknya ganteng."
Jeff menaruh remot TV dan beranjak ke counter dapur untuk membuat kopi. Kepalanya pusing karena semalam mereka mengobrol ngalor ngidul hingga subuh. Mungkin sore nanti ia akan pulang ke rumah dan istirahat selama dua hari. Cottage tidak perlu diawasi lagi karena mereka hanya tinggal mengecat saja. Semua sudah aman dan sepertinya akan mulai memarketingkan cottage tersebut minggu depan. I juga akan segera menghubungi kedua orangtuanya untuk bersiap ke Bali.
"Lo balik ke Jakarta kapan, Frank?" tanya sambil menyalakan mesin kopi.
"Belum beli tiket buat balik, sih. Di sini semingguan keknya. Kenapa?"
"Bokap nyokap gue mau ke sini, kita ngumpulkayak dulu. Nyokap kan sukanya rame, apalagi ada lo."
Franky tertawa. Ibunya Jeff memang super aktif dan cerewet. Ia dan Franky sangat sefrekuensi dan sering melontarkan candaan ke satu sama lain. "Bisa aja sih gue stay lamaan. Kerjaan gampang bisa gue monitor dari sini."
"Bagus deh... lo tinggal di sini aja selama di Bali kalo mau. Ga gue pungut biaya. Tapi liburan selanjutnya harus bayar full," kata Jeff setengah tertawa.
"Mantaaap! Siap bos! Tenang aja, seperti yang klean tahu kalo link gue banyak karena gue social butterfly. Sekali nama cottage ini terucap di mulut gue, udah pasti rame yang booking dah! Sekalian nanti gue post di i********: gue foto sama video cottage ini."
Jeff mengangguk. "Thanks," katanya, lalu menyeruput kopi perlahan. Aromanya sangat nikmat. Sementara pikiran Jeff melayang ke malam sebelumnya.
Jeff ingin mengusir kejadian kemarin yang selalu berputar di kepalanya. Ia benar-benar sangat menikmati berangkulan dengan Sashi dalam keadaan basah dan saling memagut bibir. Apakah Sashi juga mengalami hal yang sama? Tidak bisa mengusir kejadian itu dalam kepalanya?"
Namun hal yang membuat Jeff merasa tidak enak adalah bagaimana jika Sashi terlalu membawa perasaannya? Sementara Jeff melakukan hal tersebut karena ingin melampiaskan kerinduan pada Alina, juga kekesalan pada Sashi. Setidaknya ia berpikir alasannya memang begitu.
Mungkin sepulangnya nanti, Jeff harus berbicara pada Sashi sebelum semuanya semakin keluar batas. Mereka berdua harus melupakan kejadian itu seolah tidak pernah terjadi dan supaya tidak ada kesalahpahaman. Jeff hanya terbawa suasana. Memang terkesan seperti pria berengsek. Namun ia harus bertanggung jawab membenahi semua yang telah dilakukannya. Alina bulan depan akan datang. Jeff masih berniat untuk melamar kekasihnya itu di hadapan kedua orangtuanya.