Sorry Not Sorry

1052 Kata
Robert mengajak Sashi untuk makan siang di sebuah restoran Jepang. Rencananya sehabis dari situ, mereka akan langsung pergi ke klub untuk bekerja. Selama memesan makanan, Sashi menceritakan tentang keluarga dan teman-temannya yang hari ini menabur bunga di Laut Jawa sebagai penghormatan terakhir. “Gila, ya, mereka ga sadar kalo ternyata lagi kena prank sama lo,” kata Robert. “Terus lo mau ngomong apa sama mereka kalo nanti lo balik ke Bandung?” “Ngomong apa adanya aja. Gue ga ada niat buat malsuin kematian gue, semuanya tanpa kesengajaan. Dan setelah semua yang udah gue lalui di Bandung, gue ngerasa berat untuk pulang saat itu juga. And here I am, memutuskan untuk menjadi Sashi yang baru di kota lain.” “Itu sebabnya lo tiap pergi keluar suka pake hoodie, serba tertutup? Lo udah kayak selebritis Hollywood lagi liburan.” “Ya iya, ntar kalo misalkan ada orang yang ngenalin gue gimana? Lagi pula sekarang muka gue lagi sering nongol di TV sebagai korban kecelakaan. Takutnya orang asing pun ngenalin gue.” Robert mengangguk. “Gue lihat juga, sih. Katanya gadis muda berparas cantik yang menjadi salah satu korban. Gila gilaa… lo bukan cuman ngeprank keluarga sama temen lo doang, tapi ngeprank se-indonesia.” Sashi tertawa. “Gue udah tahu konsekuensinya. Sorry I’m not sorry.” Robert mengangguk mengerti, sementara pelayan sudah mengantarkan pesanan mereka dan menaruhnya di atas meja. Perut Sashi seketika keroncongan karena sudah lama tidak makan daging. Sebelum pergi tadim Bu Putu sempat menawarkan makan. Hari ini ia memasak ayam rica-rica, namun Sashi menolaknya dengan memberitahu bahwa temannya telah mengundang untuk makan siang. “Bu Putu, nanti kalo masak jangan dilebihin buat aku, ya. Makan aku aman, kok. Aku ga enak sama Jeff kalo terus-terusan makan di sini,” kata Sashi tadi. “Loh gapapaa… malah Pak Jeff yang kasih tahu kalo masak harus tawarin Sashi. Gitu katanya.” “Emang kapan dia ngomong gitu?” “Waktu pertama Ibu balik kerja di sini lagi. Jadi ga usah sungkan.” Tetap saja, itu sebelum Jeff dan Sashi melakukan hal senonoh dan sebelum Jeff bersikap agak berbeda. “Tapi ga usah deh, Bu. Itu kan dulu waktu aku belum dapet kerjaan. Sekarang karena aku udah kerja, aku mau mandiri, ga mau bergantung sama orang lain.” Sashi tahu, sejak kejadian malam itu pasti interaksi dengan Jeff akan semakin awkward. Entah mengapa Jeff tiba-tiba mencium Sashi, apakah dia menyesal? Atau apakah dia akan menjelaskan semua itu suatu hari nanti? “Gimana selama lo kerja di klub gue? Ada yang ga ngenakin?” tanya Robert sambil membalikkan daging di atas panggangan. “Sejauh ini baik-baik aja. Pak Made banyak ngebantu, Mora juga. Its oke, gue betah kok.” Apa pun yang Sashi kerjakan saat ini memang harus dinikmati, meskipun dalam segi keuangan masih jauh ketika ia bekerja di House of Skills. “Eclaire buatan lo itu selalu abis, bahkan kemaren masih banyak yang pengen pesen tapi keabisan.” “Mau ditambahin lagi stocknya?” “Emangnya bisa? Lo ga akan kecapean?” “Gampang aja, sih. Selama Mora bantuin gue. Coba sore ini gue bikin dua kali lipat jumlahnya dari yang kemarin.” “Good! Gue tahu, lo orangnya emang bisa diandelin dan selalu totalitas. Gue bisa liat itu ketika dulu kita ngerjain event bareng.” “Ya dong! Kepuasan konsumen itu numero uno. Selama masih bisa gue kerjain kenapa nggak. Tapi kita sendiri harus tahu batasan, jangan sampe dipaksain karena toh hasilnya malah bisa kecewain konsumen. Kalo soal bikin eclaire serratus porsi sehari sih udah jadi kerjaan gue. Dulu kan gue sempet jualin online juga.” “Sip deh kalo gitu, soal honor ga perlu khawatir. Pasti gue lebihin,” ujar Robert. “Nah gue ga bisa nolak juga, karena sekarang beneran butuh banyak duit. Heheheh…” Robert tertawa. Ia paling suka dengan orang yang blak-blakan. *** Jeff memutuskan untuk pulang. Franky juga akan shopping dengan teman-temannya dan mungkin malam ini temannya itu hendak menginap di tempat lain. Jeff selalu merasa kehabisan energi jika sudah berhadapan dengan Franky dan Soni. Keduanya extrovert, sementara Jeff sendiri seorang introvert.Jadi ia butuh merecharge energi dengan membaca buku. Biasanya Jeff melakukannya di halaman belakang. Ia akan membawa kursi santai ke sana dan membaca buku menghadap lautan. Apalagi jika cuacanya sedang teduh seperti sekarang. "Pak Jeff, mau makan siang? Atau udah sarapan di luar juga?" tanya Bu Putu ketika Jeff sedang melepas sepatu di ruang tamu. "Kebetulan belum makan nih, Bu. Emang siapa yang makan di luar? Sashi?" "Iya katanya dia diundang temennya makan siang di luar, padahal saya bikin ayam rica-rica banyak. Kan katanya dia suka pedes." "Ya udah sini biar saya yang makan." "Pak Jeff memangnya ga keberatan kalo Sashi makan di sini?" tanya Bu Putu penasaran. Setelah dua tahun bekerja menjadi ART, ia sudah tidak sungkan kepada majikannya tersebut. "Its oke. Kan saya udah bilang kalo Bu Putu masak, tawarin aja Sashi. Soalnya kan tiap masak sering kebuang-buang karena cuman saya doang yang makan." "Nah iya kaan... saya liatnya Sashi itu ga enak kalau numpang makan terus di sini. Dari kemaren nolak terus apa yang saya tawarin." Jeff mengunyah perlahan sambil memikirkan alasan mengapa Sashi jadi begitu. "Ah, mungkin dia emang lagi pengen makan di luar dan beneran ada temennya yang ngajak dia makan. Ya gapapa kalo gitu. Kalo Bu Putu kebanyakan masak kan bisa dibawa pulang buat Wayan sama adik-adiknya." "Hmm... iya deh. Ibu suka kasian aja, kalo liat anak ngerantau gitu. Apalagi kan Sashi baru mulai kerja, belum nerima gaji. Ibu suka keingetan, soalnya Wayan suka ada keinginan buat ngerantau. Jadi saya pikir, kalo saya baik sama Sashi, suatu hari, ada orang baik juga yang mau ngerawat Wayan di perantauan." "Kan yang penting niat Bu Putu emang mau ngerawat Sashi. Pasti dicatet tuh sama malaikat," jawab Jeff sambil menyendok nasi. "Oya, Sashi mau langsung kerja kali ya kalo jam segini belum pulang?" "Iya katanya tadi abis makan siang mau langsung kerja. Kenapa emangnya?" "Nggak, saya mau bawa kursi santai keluar. Mau baca buku." "Oh, biar Ibu yang bawain kursinya." "Nggak, biar saya saja nanti. Ibu istirahat aja, nih udah masak sebanyak ini pasti capek." "Ah ga seberapa itu. Tenaga ibu masih kuat!" jawab Bu Putu sambil berdiri, namun saking cepatnya ia bergerak, tiba-tiba otot pinggangnya kesakitan. "Adududuh... kenapa ni pinggang." Melihat itu Jeff tertawa. "Udah dibilangin istirahat aja. Inget umur, Buuuu..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN