Jealous

1015 Kata
Mood Noni benar-benar buruk. Selama perjalanan pulang ke Bandung, ia sangat tidak tahan mendengar suara Dixie yang dibuat semanja mungkin setiap berbicara dengan Wiggy. Ingin rasanya ia turun dan pulang menggunakan travel. Karena jika ia menumpang mobil Jio pun, tidak akan kalah memuakkan melihat Renata ada di sana. Emil yang terus-terusan melirik Noni sudah tahu ada yang salah. Si Manager itu pun memberi kode supaya Noni bersabar dan ketika di rest area Emil mentraktirnya eskrim. "Lo kenapa dari tadi, kayaknya sensian mulu?" tanya Emil sambil memberikan McFlurry oreo pada Noni. Ia berkata begitu karena setiap ditanya oleh Revo atau Emil selalu menjawab ketus. "Emang lo ga kesel gitu denger suara si Dixie yang kayak anak kecil? Annoying banget, tauk!" Emil menahan tawa sambil menikmati eskrimnya. "Anggep aja kaleng gombreng." "Gue heran, si Wiggy apa ga pengen muntah ya diajak ngobrol sama tuh cewek?" "Gue sih liatnya dia nahan-nahan juga, lah tiap si Kaleng Gombreng nanya, dia jawab seadanya, singkat-singkat gitu." "Suruh si Revo nyalain musik deh nanti, full bass, biar si Dixie ga ngomong lagi." "Ga etis dong, Non, abis nengokin almarhum Sashi terus kita nyalain musik gede-gede." "Lagu religi atau apa kek gitu, daripada tuh mobil isinya bacot si Dixie doang." Kini Emil memandangi Noni dengan serius. "Lo kenapa marah banget sama si Dixie. Jangan bilang lo cemburu sama dia." "Idih siapa juga yang cemburu!" "Lo lebih keliatan kayak cemburu. SUka lo ya sama si Wiggy?" Noni hanya mendelik. "Ga nyambung lo!" Noni berusaha bereaksi sedingin mungkin, meski jantungnya kian berdebar lebih kencang karena tebakan Emil memang benar. Apakah setransparan itu hingga orang tahu dia sedang cemburu? Noni sendiri tidak tahu sejak kapan ia menyukai Wiggy, pria cuek yang terkesan dingin dan mustahil bisa romantis. Mungkin saking dinginnya, Noni merasa tersentuh ketika malam itu Wiggy memberikan jaket ketika mereka berlibur di Ciwidey yang suhu cuacanya mencapai 12 derajat celcius. Saat itu jam dua malam dan semua orang berkumpul di dekat kolam renang sambil bermain gitar dan kahoon. Noni sudah memakai sweater, namun ia tidak berhenti bersin dan menggigil. Wiggy yang melihatnya langsung mendekati Noni sambil memberikan jaket yang ia pakai. Jaket itu terasa hangat ketika dikenakan oleh Noni. Dan Wiggy dengan santainya kembali ke tempat duduk hanya dengan mengenakan kaus. Sepertinya orang itu tahan dingin, sedingin karakternya. Sejak saat itu, setiap Noni berpapasan dengan Wiggy selalu salah tingkah. Padahal sebelumnya ia suka blak-blakan. Noni juga lebih sering berdandan jika hendak datang ke kantor House of Skills. Ia jadi hobi membeli baju-baju bagus.Karena tidak tahan untuk memendamnya seorang diri, sementara hatinya begitu membuncah, akhirnya Noni mengakui perasaannya terhadap Sashi. Noni begitu syok ketika Sashi mengatakan bahwa ia sudah tahu jika Noni menyukai Wiggy. Terlihat dari tingkahnya ketika dekat dengan pria itu atau cara memandang. Sayangnya, Wiggy memberikan jaket terhadap Noni karena kasihan. Tidak ada maksud lain. Kini mata Noni sedang memicing melihat ke arah Wiggy yang sedang makan bersama teman-teman lainnya di dalam, sementara ia sendiri dan Emil duduk di kursi luar dengan alasan Emil sedang ingin merokok. Dixie masih tetap berada di samping Wiggy. "Si Wiggy pernah pacaran ga sih?" tanya Noni tiba-tiba. "Mana gue tahu. Tanya aja sendiri. Kenapa emang?" "Gue penasaran gimana dia kalo pacaran. Apa sikapnya dingin kek patung atau romantis?" "Mau gue tanyain?" tanya Emil sambil tersenyum jahil. "Eh jangan! Biar gue tanya Sashi aja nanti." Noni langsung tersadar bahwa omongannya membuat Emil melongo. "Eh, aduh! Ya ampun kok gue bisa lupa kalo Sashi udah ga ada. Huhuuu... gue selalu ngerasa kalo dia masih ada sama kita." Noni menutup wajah pura-pura menangis, padahal sebenarnya sedang merutuki diri karena keceplosan. "Udah udaaah... kita emang butuh waktu buat membiasakan diri. Karena selama bertahun-tahun ini kan emang Sashi selalu sama kita. Ga mudah lupain dia gitu aja," ujar Emil menenangkan. *** Bu Putu hendak pamit pulang ketika Jeff baru saja selesai membaca. Hari sudah pukul lima sore dan sepertinya akan turun hujan. "Pake taksi online aja, Bu. Nanti kalo kehujanan bisa sakit lagi," kata Jeff. "Bentar saya pesenin." "Aduh ga usah, Pak Jeff, ini masih lama hujannya juga." "Jangan sok jadi peramal cuaca, deh," Bu Putu pun tertawa dan membiarkan majikannya mengorder taksi online. Setelah selesai mendapatkan taksi, Jeff beranjak dari kursi dan seketika matanya teralihkan ke tanaman-tanaman kecil yang ada di tanah. "Ini siapa yang tanem?" "Oh itu kemaren Sashi katanya ngajakin Wayan tanem bunga biar rumah Pak Jeff makin hidup. Emang Sashi ga bilang dulu, ya?" Jeff menggeleng. "Bunga apa?" "Wah saya juga kurang tahu. Anggrek, barangkali. Kemarin Sashi minta tolong saya buat nyiram tiap pagi. Kalo sore biasanya dia yang nyiram sebelum berangkat kerja." Jeff hanya mengangguk dan melipat kursi santainya untuk dibawa kembali ke dalam. Ia tiba-tiba teringat bahwa Alina alergi dengan bunga. Waktu ulang tahunnya dulu, Jeff pernah memberikan bunga dan Alina marah-marah di telepon karena seharian bersin non-stop. Sejak saat itu, Jeff tidak lagi memberikan bunga sebagai hadiah, melainkan barang-barang lain seperti perhiasan atau tas. Kalau sudah begini, apa Jeff harus menyuruh Sashi menggagalkan tanamannya atau jangan membiarkan Alina pergi ke halaman belakang. Ketika sedang berpikir tentang hal tersebut, ponselnya berdering. Nama Alina terpampang di situ. "Halo, Beb," [Hai, sayang. Lagi apa?] "Baru selesai baca buku.Gimana kerjaan kamu?" [All is well. Aku ga sabar ketemu kamu bulan depan, jadinya aku telpon karena udah kangen banget.] "Same here," jawab Jeff. "Kamu kira-kira berapa hari di sini?" [Seminggu? Atau lebih. Aku lagi males di sini. Bete!] "Loh kenapa?" [Nyebelin aja semua. Coba ada kamu di sini, aku pengen makan malem bareng terus disuapin.] "Soon ya, Sayang. Oya by the way aku mau kasih tahu sesuatu sama kamu." [apa tuh?] Jeff menghela napas. Ia harus memberitahu Alina tentang Sashi dari sekarang. "Rumah belakang ditempatin sama orang. Takutnya nanti kamu kaget aja ada orang asing di sekitar rumah." [Loh kok ditempatin? Disewain gitu? Kamu lagi butuh duit atau gimana?] "Nggak, aku ga tarifin. Aku cuman nolong dia karena lagi kesusahan." [Siapa? Cewek?] "Iya, namanya Sashi. Tapi cuman sementara aja. Dia baru dapet kerjaan, jadi sebelum keuangannya stabil, aku nampung dia dulu di sini." [Aduh, aku sih ga masalah, Sayang. Tapi udah dipikirin baik-baik? Itu orang asing, loh. Kalo misalkan jahat gimana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN