Memelihara tanaman sama saja seperti memelihara binatang. Sashi merasa senang melihat pertumbuhan bunga-bunga atau tanaman apa pun yang ia tanam hingga tumbuh tinggi, mekar atau berbuah. Ia juga akan merasa sedih jika tanamannya mati atau layu. Kini, beberapa bibit bunga yang ia tanam sudah mulai tumbuh. Sashi menyiraminya sambil tersenyum. Tidak sabar bagaimana halaman di depan kamarnya akan jadi terlihat sangat indah. Ia bisa saja membeli beberapa tanaman yang sudah jadi. Namun Sashi lebih merasa puas jika bisa menanamnya sendiri meski harus mempunyai kesabaran ekstra.
Sashi baru saja menikmati makan tipat cantok yang dibeli oleh Bu Putu. Hanya itu yang bisa didapatkan oleh wanita paruh baya tersebut, karena tidak menemukan ketoprak. Namun menurut Sashi rasanya sebelas dua belas dengan ketoprak karena ada lontong, sayuran dan yang paling utama, sama -sama memakai kuah kacang. Perut Sashi pun terpuaskan hingga moodnya mulai membaik. Ia hanya butuh waktu beberapa saat untuk tidak mempedulikan apa yang terjadi beberapa jam lalu. Ia harus memaklumi posisi Jeff dan posisinya sendiri. Jadi Sashi memutuskan untuk bersikap biasa saja seolah kejadian malam itu hanyalah mimpi.
"Sas, dessert yang di kulkas kenapa ga dimakan-makan?" tanya Jeff yang terlihat sudah berpakaian rapi.
"Dessert? Oh eclaire? Uhm... kemaren Wayan pengin dibuatin, jadi aku bikin sekalian banyak aja. Nanti aku suruh Bu Putu bawa aja semuanya deh."
"Nggak, kalo emang ga akan kamu makan, saya mau bawa buat ke cottage. Kemaren temenku suka dessertnya yang saya bawa. Boleh?"
"Oh, boleh boleh... bawa aja semua."
"Oke thanks. By the way, saya pamit dulu ke cottage. Ah, kamu belum tahu nama cottage-nya, ya? Itu saya namakan Rosie & Riley. nama papa mama saya."
Sashi mengerutkan kening sebelum mengangguk. "Oh okeokee... namanya bagus banget!"
Jeff ikut mengangguk singkat, lalu kembali masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur. Sewmentara Sashi merasa bingung. Untuk apa Jeff melapor soal nama cottage-nya? Apakah hanya sekadar basa basi supaya Sashi tidak terlalu marah soal tadi? Hhh... pria sungguh membingungkan, batin Sashi protes.
Sebenarnya Sashi mempunyai sikap yang woles. Dia bukan tipe wanita posesif pada pasangan. Seringkali Jio pergi dengan teman wanita, ikut reuni atau membalas chat teman-teman perempuannya di dekat Sashi. Selama ia tidak menyembunyikan sesuatu, menurut Sashi itu bukan masalah. Setiap orang berhak bergaul dengan siapapun, entah itu pria atau wanita. Begitupun dengan Sashi yang meminta kebebasan yang sama. Meski sudah berpacaran dengan Jio, Sashi seringkali menonton berdua di bioskop dengan Wiggy atau Shaki. Tidak ada hal tabu dalam hal tersebut, karena tujuan mereka memang hangout bareng. Sashi juga sering memberitahu Jio terlebih dahulu. Namun jika kepercayaan itu sudah mulai dicoreng, seperti pengkhianatan kemarin, Sashi akan sangat susah memaafkan.
Ia sangat menjunjung tinggi kepercayaan, jadi jika sudah sekali dikecewakan, Sashi jarang memberi kesempatan kedua. Kini, Sashi baru saja menyadari bahwa ia tidak ada bedanya dengan Renata. Sashi sudah melakukan hal senonoh dengan pria yang merupakan pacar orang lain. Ingin rasanya ia memaki diri sendiri karena sudah berbuat kesalahan seperti itu.
Jadi mulai sekarang, ia akan kerja sekuat tenaga untuk mengumpulkan banyak uang dan bisa mencari tempat kost baru. Ia tidak mau ada setan di antara mereka lagi. Karena entah mengapa, Sashi takut tidak bisa menolaknya lagi seperti malam itu.
***
Jeff menyetir mobil sambil mendengarkan lagu-lagu lawas tahun awal 2000an. Hari ini Franky dan Soni kembali ke cottage dan meminta Jeff supaya datang. Mereka akan terus menerornya jika ia tidak datang. Franky juga sepertinya akan melakukan kebiasaan yang paling ekstrim, yaitu menyewa dua orang perempuan untuk dirinya sendiri. Jeff dan Soni sudah beberapa kali untuk menyuruhnya bertaubat, namun Franky berkilah bahwa itu cara dia mendapatkan kesenangan ketika berlibur setelah di kota lain bekerja keras hingga kepala tegang.
Sudah bisa ditebak jika Franky akan meminta wanita penghibur kepada Robert, temannya Sashi yang juga seorang mucikari. Itu sebabnya Jeff mengatakan pada Sashi nama cottage yang ia miliki. Siapa tahu Sashi yang dipilih oleh Robert untuk melayani Franky, dan mereka akan menjadi awkward ke depannya. Jeff berharap jika itu terjadi, Robert memberitahu Sashi bahwa tempat yang akan mereka tuju adalah Rosie & Riley's cottage, sehingga Sashi akan langsung menolak.
Mobil yang Jeff bawa sudah memasuki halaman cottage. Franky yang sedang duduk di kursi luar langsung mengacungkan sebotol bir padanya sambil tersenyum lebar. "Welcome, Ma Broooo!! Mau bir?"
Jeff menggeleng. "Nggak, gue baru aja makan sama minum minuman herbal. Ga mau dikotorin sama alkohol."
"Anjeeer... belagak kali kawan kita satu ini, ya. Bawa apa tuh?" tunjuk Franky pada paperbag yang dibawa oleh Jeff.
"Dessert. Banyak nih kalo mau."
Jeff mengeluarkan empat boks eclaire yang diambilnya semua dari kulkas sehingga Soni yang melihatnya langsung bersorak. "Mantaaaaap... mantap! Ini yang dari kemaren gue mau. Waktu kemaren gue beli online, rasanya ga seenak ini. Kemanisan! Kalo yang ini lebih pas manisnya, lebih lembut dan rasanya lebih mewah."
Soni mengambil salah satu boksnya dan langsung menikmati seorang diri. "Suruh jual dong, bro. Mau dah gue beli terus, pelanggan pertama yang bakalan borong. By the waym itu berlebih satu buat gue aja yaa... gue mau kasih bini.
"Bawa aja. Taro dulu di freezer," jawab Jeff.
Melihat Soni sangat terobsesi dengan makanan tersebut, akhirnya Franky ikut membuka bagiannya. Setelah suapan pertama, ia setuju dengan Soni bahwa dessert tersebut memang enak.
"Enak enaak... emang ini siapa yang bikin? Ibu-ibu asisten lo itu?"
"Bukan. Ada cewe yang nyewa rumah di halaman belakang gue. Dia suka bantuin Bu Putu masak dan doyan bikin dessert-dessert gini."
"Wah, ceweknya kayak gimana tu? Masih muda?" tanya Franky mulai kumat.
"Ya biasa aja. Ga penting juga diceritain."
Franky pun tertawa. "Halah eluuu... takut banget ya tu cewek gue gangguin?"
"Lo bukannya mau nyewa cewek? Nyari di mana?" tanya Jeff ingin memastikan.
"Si RObert dong... siapa lagi? Tadi udah gue hubungin. Jam tujuh malem dia ke sini bawa dua cewek. Ada yang mau ga?"
Jeff dan Soni sama-sama menggeleng. "Lo aja, anak muda. Kami udah ga bisa lagi ngikutin kegilaan lo lagi," ujar Soni hingga Franky mengakak karena sebenarnya mereka lahir di tahun yang sama.
"Kaku banget kek lidi. Ayolah, meskipun udah punya pacar, punya bini, sekali-sekali have fun. Ga usah diseriusin. anggap aja sebagai multivitamin. Ya nggak??"
Jeff dan Soni sama-sama tidak ingin menanggapi.