Setelah diberi tugas untuk membuat eclaire dengan jumlah dua kali lipat oleh Robert, Sashi merasa kelelahan hingga ia tertidur pulas sampai siang hari. Namun berkat vitamin yang juga diberikan oleh RObert, badannya terasa segar dan kepalanya ringan. Namun perut Sashi begitu lapar dan ia teringat akan kupat tahu yang dibicarakan Noni di telepon tadi pagi. Sashi pun membuka applikasi GoFood dengan mata yang masih setengah terbuka dan badan yang ditutupi selimut. Namun di sana tidak ada yang menjual kupat, hingga ia pun kecewa.
Sashi pun bangun dari tempat tidurnya dan melakukan stretching sebentar, sebelum memberishkan diri ke kamar mandi. Mungkin sehabis ini ia akan pergi keluar, mencari jajanan enak sambil jalan kaki, karena cuaca sepertinya sedang teduh meskipun sudah tengah hari. Sepertinya akan turun hujan.
Setelah keluar dari kamar mandi, mengoles serum di sekitar wajah dan meminum air putih sebanyak dua gelas, Sashi keluar untuk menghirup udara segar.dengan memakai sweater dan celana pendek. Ia berdiri menghadap pantai, rambutnya tertiup angin dengan lembut.
"Udah bangun ternyata perempuan kita satu ini," seru Bu Putu yang sedang membawa sapu lidi. Sepertinya habis menyapu halaman depan.
"Siang, Bu Putu. Lagi sibuk, ya?"
"Tuh abis minggirin daun kering di depan, Habisnya ga ada lagi yang mau dikerjain. Sudah makan?"
"Belum, aku baru aja bangun. Sebenernya lagi pengen kupat tahu.Ada ga ya, bu, yang jual di sekitar sini? Tadi aku nyari di applikasi online ga ada."
"Apa itu kupat tahu?" tanya Bu Putu yang tidak mengenali makanan khas Jawa Barat tersebut.
"Oh itu tuh lontong, kayak ketoprak. Dikasih kuah kacang gitu. Aku lagi kepengen banget soalnya, udah kayak orang ngidam."
"Oooooh... ya ya ya, kalo ga salah sih ada di depan belokan sana. Mau ibu belikan? Sekalian ibu juga ada yang mau dibeli, belanja buat bahan di rumah."
"Sama aku aja, Bu."
"Udah kamu tunggu aja di dapur. Itu ibu bikin pudding. Ayok sarapan dulu. Bangun tidur jangan langsung jalan-jalan nanti lemes," kata Bu Putu sambil menarik tangan Sashi menuju dapur.
Sashi menurut, lagi pula jam segini Jeff pasti sudah pergi ke cottage. Mendengar ada pudiing, perut Sashi langsung keroncongan. Sepertinya jika ada makanan lain pun yang disebut, ia pasti mau.
"Ibu bikin pudding apa?"
"Pudding cokelat regal, liat resepnya di youTube."
Sashi tertawa. "Suka Youtube-an juga ya, Bu?"
"Kan Pak Jeff yang beliin Ibu hape supaya bisa nonton YouTube. Katanya ibu bisa belajar masak dari situ. Lumayan kan bisa masak macam-macam resep. Ya meskipun beberapa kali gagal, yang penting kita mau coba."
"Bener tuh, Bu. Ya udah sini aku cobain puddingnya."
Bu Putu mengambil puddingnya dari kulkas, lalu ditaruh di hadapan Sashi. "Tapi ya ga seenak ekler buatan Sashi."
"Ya gapapa, eclaire sama pudding kan emang beda." Sashi mneyuapkan pudding tersebut satu sendok ke dalam mulutnya dan mengangguk perlahan. Rasanya standar, namun ia ingin membuat Bu Putu senang. "Enak! Makasih ya, Bu Putu.."
"Aaah... bisa saja kamu ii. Ayok habiskan. Ada banyak, kok. Kalo mau tambah ambil aja di kulkas. Ibu pergi dulu kalo gitu, ya. Yang penting yang ada ketupat sama kuah kacangnya, kan?"
"Iya deh, Bu. Kalo ga ada lontongnya, apa aja yang penting ada kuah kacang gitu. Ini uangnya, seklaian buat nambah-nambahin beli bahan buat di rumah atau cemilan buat Wayan, ya." Sashi menyerahkan uang seratus ribu.
"Eh ga perlu! Simpan aja uang kamu buat kamu sendiri. Kamu kan belum gajian. Orang yang wajib kasih ibu uang itu Pak Jeff, dari beliau udah lebih dari cukup. jangan khawatir, ya," ujar Bu Putu, sambil mengambil payung, siap siaga jika nanti di luar hujan. "Udah udaah... ga usah protes lagi. Ibu pergi dulu."
"Oke, bu. Hati-hati, ya."
Sashi pun meneruskan menikmati pudding yang lumayan membuat tenggorokannya segar. Ia mengingat kejadian tadi pagi ketika Noni menelepon. Sepertinya mereka tidak sempat mengucapkan pamit ke satu sama lain. Sashi tersadar bahwa ia pasti ketiduran. Tapi salah Noni sendiri, pagi-pagi sudah menelepon.Ketika ia hendak meminta maaf dengan mengirim chat pada Noni, tiba-tiba ada sura langkah memasuki dapur, Ternyata Jeff masih di rumah. Hingga Sashi menahan napas dengan mulut yang masih penuh dengan pudding.
"Siang, Bu Putu udah pergi?" tanya Jeff.
"O-oh iya, dia baru aja pergi, katanya mau beli bahan buat di rumah."
"Iya tadi beliau udah bilang."
Sashi tidak tahu harus menjawab apalagi. "Mau pudding?"
"Nope. Tadi Bu Putu udah kasih saya sepiring."
Jeff menyeduh kopi, sementara Sashi melap mulutnya dengan serbet. Perasaannya langsung tidak enak karena ia kembali makan di dapur Jeff. "By the way, sorry aku makan di sini. Tadi pas bangun laper banget dan kebetulan Bu Putu nawarin pud-"
"Its oke. Kamu bisa makan di sini kapanpun. Saya kan dari awal ga melarang."
Kini Jeff duduk di hadapan Sashi dengan memegang secangkir kopi, hingga membuat Sashi semakin tidak nyaman.
"Oya, saya mau ngomongin soal kejadian malam kemarin."
DEG! Seharusnya Sashi tidak duduk di dapur ini. Ia tidak siap jika harus emmbahas kejadian malam itu sekarang. Wajahnya langsung memerah.
"Gimanapun, kita ga bisa pura-pura kalau kejadian kemarin ga pernah terjadi. Saya minta maaf karena terbawa suasana. Saya ngaku salah karena tidak pernha bisa mengendalikan diri kalo udah minum alkohol."
"Uhm... Oke Jeff, aku juga salah karena terbawa suasana. Kemarin ga ada paksaan sama sekali."
Jeff mengangguk. "Pacar saya beberapa hari lagi mau datang. Yang penting saya udah ngomong gini. I'm so sorry, saya pastiin kejadian itu ga akan terulang lagi."
"Aaahh... it's oke. Apa aku harus pergi dulu? Selama pacar kamu di sini?"
"Oh, nggak nggak. Saya udah bilang sama dia kalo ada tamu yang tinggal sementara di rumah belakang. Its oke, dia udah tahu."
"Oke. Uhm... kamu ga perlu khawatir, aku ga akan nuntut apa-apa soal kemarin. Aku akan pura-pura itu ga pernah terjadi."
Jeff kembali mengangguk. "Yeah... thank you."
"Kalo gitu aku balik ke kamar dulu, ya. Makasih buat puddingnya."
Sashi melngkah perlan menuju kamar. Ia memang tahu jika Jeff melakukan ciuman itu tanpa ada perasaan. Kejadian itu hanya nafsu belaka. Namun setelah Jeff memperjelasnya tadi, entah mengapa Sashi jadi merasa sakit hati. Karena ia tidak pernah melakukan ciuman dengan sembarang pria, apalagi orang yang tidak suka. Dirinya sendiri masih tidak yakin, apakah ia menyukai Jeff?