Sashi berencana menghabiskan hari libur dengan berjalan-jalan di sekitar pantai dan mampir ke rumah makan yang menjual ikan bakar kesukaannya. Namun karena matahari masih terik, akhirnya ia memutuskan untuk menengok tanaman. Bunga-bunga itu sudah mulai tumbuh. Sashi mneyiram kesemuanya dan memotong beberapa daun yang mati. Saking tidak sabar menunggu bunga-bunga tersebut mekar, Sashi akan mampir ke toko bunga untuk membeli beberapa anggrek dan anyelir. Mungkin beberapa kaktus untuk ditaruhnya di dekat jendela.
Setelah semua selesai, Sashi mengambil topi pantai yang terbuat dari jerami, lalu mengunci pintu. Selama beberapa saat, ia memandangi rumah Jeff yang tampak sepi. Bu Putu pun sepertinya belum datang padahal waktu sudah menunjukkan jam dua siang.
Karena penasaran, akhirnya Sashi mengecek halaman belakang untuk melihat apakah mobil Jeff ada di sana atau tidak. Namun ternyata tidak ada, itu sebabnya Bu Putu juga tidak kelihatan. Tapi ketika Sashi hendak kembali ke belakang, suara mobil datang menuju rumah. Itu mobilnya Jeff. Ia pun membantu membuka pintu gerbang dan menutupnya.
Sasi mengernyit ketika melihat Wayan yang turun dari kursi sopir. Ia tidak tahu bahwa gadis itu bisa menyetir mobil. "Loh Wayan, kamu dari mana? Kok bawa mobilnya Jeff?"
"Ini kak... Pak Jeff sakit, kami baru bawa dari dokter.Karena tadi dokter pribadinya yang biasa dipanggil ke rumah lagi di luar kota."
Bu Putu sendiri tampak turun dari kursi penumpang dan membukakan pintu untuk Jeff. "Jeff sakit apa?"
"Kata dokter sih tadi cuman drop aja kecapean. Tadi subuh muntah-muntah sama meriang gitu. suhu badannya sampe empat puluh derajat," jawab Wayan sambil mengunci pintu mobil menggunakan remote. "Tadi Ibu mau minta tolong kak Sashi bawain mobil, tapi katanya kakak keliatan lagi tidur nyenyak, jadinya aku yang disuruh."
"Aduh maaf banget, aku pulang subuh dan baru tidur jam delapan."
Sashi menghampiri Jeff, sementara Bu Putu sedang memasangkan kursi roda.
"Are you okay?" tanya Sashi ketika Jeff mencoba duduk di atas kursi roda.
"Iya, udah agak mendingan. Thanks."
Bu Putu mendorong kursi roda tersebut dan memasuki rumah. "Kamu hari ini kerja, Sashi?"
"Kebetulan hari ini aku libur, Bu. Ada yang bisa dibantu?"
"Nggak, cuman nanti malem tolong cek-in Pak Jeff aja, soalnya ibu ga bisa nginep. Di rumah ada neneknya Wayan baru dateng tadi pagi."
"Oh boleh, Bu. Aku stand by, kok."
Wayan menimpali. "Aku langsung pulang aja deh, Bu. Kasian neenk ditinggalin sendirian di rumah. Kak Sashi, aku pergi dulu yaa.."
"Oh oke oke, salam buat nenek kamu, ya. Pulang pake apa?"
"Ini udah pesen ojeg online kok."
"Oke deh sekalian aku juga mau pamit nyari makan dulu di luar ya Bu. Oh ya, by the way udah pada makan?"
Bu Putu menggeleng. "makan siang belum."
"Ya udah aku nanti bawain makan. Bu Putu ga usah masak, capek. Aku ga lama, kok," kata Sashi. "Jeff, kamu mau makan apa? Biar aku beliin."
Jeff hanya menggeleng. "Aku lagi ga mau apa-apa."
"Tadi pak Jeff juga ga bisa makan, katanya mual," jawab Bu Putu.
"Kalo mual aku bawain buah-buahan aja, ya. Yang penting ada yang masuk ke perut. Nanti aku coba bikin sup ayam juga deh biar enak makannya."|
"nah iiya, lebih bagus makan banyak buah-buahan. Bawain aja, Sash."
Sashi membenarkan topi pantainya yang tertiup angin. Ia pun segera pergi setelah berpamitan. Untuk sesaat, ia memerhatikan wahah Jeff yang memang tampak lelah. Bagaimana tidak, hampir tiap hari Jeff bolak balik ke Ubud dan mungkin saja sering telat makan. Sashi pun membatalkan rencananya untuk berjalan di tepi pantai, alih alih dia hendak mencari makan di luar sambil mampir ke toko bunga untuk membeli bunga bunga yang segar.
***
Sudah beberapa hari ini, Noni selalu menyibukkan diri di dapur. Kadang setiap pagi ia meminta semua staff patungan untuk dibuatkan makan siang. Sebenarnya ia suka bagaimana melihat Wiggy sellau lahap setiap memakan masakannya. Nni terlalu malas memberi makan yang lainnya, tapi apa boleh buat. Tidak mungkin Noni hanya memasak untuk Wiggy, kecuali mereka sudah resmi berpacaran.
"Masak apaan sekarang?" tanya Emil setelah mengeluarkan uang dua puluh ribu dari dompetnya.
"Karage, tahu cabe gendot sama telor ala rumah makan padang. Dijamin enak as always!"
Noni hendak membuat ketiga menu tersebut karena Wiggy sempat berseloroh bahwa ia sudah lama tidak makan ayam karag dan ia juga teringat dengan tahu cabe gendotnya Noni.
"Boleh boleeh... tapi request dong buat besok tolong bikinin gue soto."
Mau tidak mau, Noni mengiyakan. Ia harus adil meminta semua request orang-orang, tidak hanya Wiggy. Meski jika dipikir-pikir sangat konyol sekali, untuk mengesankan satu pria, ia jadi harus melayani banyak pria juga.
Noni sedang menuangkan tahu cabe gendot ke dalam mangkuk besar ketika melihat Renata keluar dari kamar Jio mengenakan kasu tanpa lengan dan celana pendek. Ia menggeram karena sepertinya dua sejoli itu sudah sangat terbuka dengan hubungan mereka. Sama seklai tidak tahu malu. Bahkan sepertinya sosok Sashi sudah terlupakan oleh keduanya.
Dengan kesal, Noni menaruh beberapa menu makanan di atas meja makan. Ia lalu duduk di sofa untuk menunggu Renata keluar dari kamar mandi. Noni benar-benar bukan orang yang bisa memendam emosinya. Ia akan langusng menumpahkan emosi saat itu juga daripada menjadi racun jika memendamnya terllau lama.
Renata pun keluar dari kamar mandi, ia melewati noni begitu saja pura-pura tidak melihat.
"Hey, Renata. Aku mau nanya soal yang kemaren," kata Noni dengan tatapan mata yang sinis.
Renata menoleh. "Soal apa?"
"Soal utang Sashi yang lo bilang itu. Gimana? Udah diprint mutasi rekening lo-nya? Kok ga ada kabar lagi?"
"Gue ga sempet ke bank. Lagian kalo lo ga percaya ya udah, gue ikhlasin deh itu duit. Orang gue cuman minta hak aja, malah dikira bohong."
"Lah iya dong, semua kan mesti ada bukti. Dan ini bukan masalah lo mau balikin atau nggak, Ren. Gue tetep minta lo tunjukin mutasi rekening lo. Gue mau tahu Sashi beneran ada utang sama lo atau uang itu udah dia balikin. Jangan lepas tangan gitu aja, bilang mau ikhlasin segala dan berperan lo jadi korban. Enak aja! Kalo gitu orang bakalan terus ngira Sashi emang ada utang. Jadi sekalian aja bersihin nama dia dengan bayar utang lo, atau dia lagi kena fitnah."
Suara Noni membuat Revo keluar studio, begitupun Shaki dan Wiggy yang langsung keluar dari kamarnya. Kini Renata merasa tersudutkan lagi.