Bella

1001 Kata
Belajar untuk tidak peduli memang bisa membuat hidup lebih mudah dijalani. Sashi tidak akan repot-repot memikirkan apa yang Jeff lihat dari dirinya. Toh Sashi akan segera pergi dari sana dan Jeff bukan orang penting di dalam hidupnya. Begitupun dengan pekerjaannya yang sekarang. Ia tidak peduli jika klub tersebut mempunyai skandal hitam di dalamnya. Sashi hanya bekerja sebagai waiters, ia tidak mau tahu apa yang ada di belakangnya. Ia juga tidak peduli jika Robert dikenal sebagai mucikari. Sashi hanya berpikir, bahwa setiap orang mempunyai sisi baik dan sisi buruk. Jika masih bisa melihat sisi baiknya, untuk apa fokus pada keburukan seseorang. Di mata Sashi, Robert tetaplah seorang teman yang loyal, peduli pada sesama dan selalu enak diajak ngobrol. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Sashi akan kembali melanjutkan kehidupan dan aktivitasnya seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa. Ketika sudah selesai membuat berpuluh-puluh kotak eclaire dan beberapa pie, Sashi menghabiskan waktu istirahat dengan makan mie goreng spesial yang dibuat oleh Chef Made. Ia memakannya di halaman belakang yang kecil dengan tembok tinggi berdua bersama Mora. Berdua menikmati mie goreng pedas yang entah mengapa bumbunya sangat enak dan menu tersebut menjadi favorit Sashi selama bekerja di tempat itu. "Ra, boleh nanya sesuatu, ga?" tanya Sashi sambil melilit mie goreng menggunakan garpu. "Nanya apa, kak?" "Kamu tahu yang namanya Bella yang dulu pernah kerja di sini?" Siang tadi Robert tidak sempat menjelaskan siapa sebenarnya sosok Bella, karena tiba-tiba ia mendapatkan telepon dan harus segera mengakhiri makan siangnya. Mora tampak menghentikan kunyahannya sebelum ia mengangguk. "Iya, tahu. Kenapa kak?" "Dia siapa sih sebenernya? Kerja apaan di sini?" "Kak Bella dulu kerja sebagai barista di sini. Bantuin Mas Dodi bikin kopi di depan. Orangnya cantik banget, asal Manado. Terus ya gitu, bos besar suka sama dia dan ngajakin makan malem. Mbak Bella seneng banget, karena si Bos kan lumayan ganteng dan uangnya banyak." "Terus? Mereka pacaran?" "Kurang tahu juga sih, Kak. Yang jelas sejak kenal sama Bos Besar, Kak Bella jadi jarang masuk kerja. Terus sekalinya dateng, dia suka bawain makanan yang banyak, mahal-mahal. Terus pernah ngajaik aku dan beberapa koki lain belanja gitu, jalan-jalan, dia yang nanggung semua biayanya dan traktir kita segala macem. Uang Kak Bella banyak, kayaknya dikasih sama si Bos Besar. Cuman lama-lama ada yang aneh." Sashi menghentikan makannya. "Aneh gimana?" "Aneh aja. Kak Bella lama-lama jadi pendiem. Kadang dia suka ga fokus gitu. Dan terakhir, katanya salah satu koki di sini ngeliat Kak Bella nangis-nangis di parkiran belakang, sementara Mas Robert sama Bos Besar adu mulut gitu, ga tahu ngomongin apa. Yang jelas, Kak Bella akhirnya ditarik sama si Bos Besar masuk ke dalam mobil. Dari situ kita ga pernah liat dia lagi." "Emang ga bisa dihubungin di telpon?" "Dia lumayan deket sama Chef Made. kata Chef, ponselnya udah ga aktif. Mas Robert juga sempet nyariin tapi kosannya udah kosong. Nanya ke Bos Besar juga udah, tapi kata beliau dia juga ga tahu keberadaan Kak Bella di mana. Terakhir Kak Bella pulang dari apartemennya sendirian pake taksi." Sashi mengangguk. Ia sungguh penasaran apa yang terjadi. Kemungkinan besar, si Bos yang dimaksud Mora melakukan kekerasan fisik pada Bella, sehingga Bella menjadi takut. Bisa saja dia pulang ke kampung halamannya. *** Noni benar-benar menelepon Sashi jam sebelas siang ketika ia masih tertidur lelap. Noni seperti hendak menerornya karena tidak berhenti menelepon. Sehingga Sashi terpaksa bangkit dari tempat tidur, karena ponselnya diletakkan di atas meja kerja. [Non, kalo sampe lo ga ada berita atau info urgent yang mau disampein ke gue, gue beneran marah nih. Gue lagi enak tidur, kenapa ditelepon?] [Dih katanya gue disuruh telpon jam sebelas. Gue takut lo keburu kerja lagi, lagian penasaran banget sampe semaleman ga bisa tidur mikirin kata-kata lo. Ayo cepet cerita!] [Gue kan kerja jam lima sore, masih lama. Hhh... lagian udah ga jadi masalah juga sekarang." Sashi kembali berbaring di atas tempat tidur lalu menggeliat hingga otot-otot sendinya berbunyi. [Tapi gue penasarean aja, emangnya kemaren ada apa?] [Soal tempat kerja gue doang, sih.] Sashi menceritakan apa yang disampaikan oleh Robert kemarin. Ia juga menambahkan info dari Mora mengenai Bella yang kepergiannya misterius. Namun ia tidak mengatakan bahwa Jeff dan pacarnya mencurigai Sasi sebagai wanita penghibur. Ia tidak mau Noni khawatir. Lagi pula sangat memalukan bisa dituduh menjadi wanita seperti itu. [Wah kasian banget. Kayaknya iya deh dia kena semacam KDRT gitu. Dia udah ga kuat, akhirnya kabur deh...] [Iya kan... gue jadi serem sama si Bos Besar ini. Katanya sih dia juga ngeluarin duit yang ga sedikit supaya klub punya si Robert ga digerebek.] [Lo udah pernah ketemu sama si Bos Besar ini?] [Belom. Kayaknya dia sekarang ga ada di Bali. Cuman kata Mora biasanya datang sebulan sekali bawa temen-temennya.] [Mending lo nurut aja deh apa kata Robert. Just stay in the kitchen. Jangan masuk ke klub! Karena kayaknya si Bos itu bisa ngelakuin apa aja yang dia pengen. Plis, Sash, lo mesti hati-hati. Kalo bisa jangan kerja di situ lagi, cari di tempat lain.] [Ya tapi gimana caranya, Non. Gue aja ga punya identitas sama sekali, ga punya temen apalagi link yang bagus. Ga mudah cari kerjaan.] [I know right. Tapi kan lo masih ada pemasukan dari House of Skills. Yang penting lo stay safe, jangan ngedektin sesuatu yang berbahaya.] Sashi mengangguk untuk menenangkan Noni. [It's oke, gue bisa jaga diri. Lagian gue bukan orang yang lemah secara fisik dan mental. Gue ga akan ngalamin apa yang Bella alamin.] [Talking is easy, babe. Lo tetep harus super hati-hati, apalagi lo pulang ke rumah subuh terus.] [Oke, Mommy... udah? ga penasaran lagi? Gimana perkembangan lo sama si Wiggy?] tanya Sashi mengalihkan pembicaraan. [Aduh jangan bahas itu, gue jadi kayak ngerasa lo neken gue. Let it flow dong... semalem ga ada apa-apa sebenrnya, cuman kami makan malem bareng anak-anak yang lain dan dia makannya nambah sampe dua kali! Moga aja dia nyandu sama masakan gue, terus memutuskan untuk ngawinin gue. Mungkin aja, kan?] {Hahahahaa... ya bisa aja, sih. Cekokin aja terus tiap hari sama masakan lo, sampe dia ga bisa hidup tanpa makan apa yang lo buat." "Sounds good!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN