Wanita itu berlari kecil menuju rumah, lalu ketika melihat mobil Jeff, ia pun membukakan pintu gerbang meski hujan mengguyurnya. Jeff tidak sempat melarang karena terlalu pusing dan teralihkan dengan mobil yang mengantar Sashi barusan. Mobil mewah itu kini sudah pergi dan Jeff yakin itu tidak mungkin taksi online, melainkan mobil milik pria yang sudah ditemani oleh Sashi.
Ia pun menggeram ketika memasuki halaman dan memarkirkan mobilnya. Sashi tampak sudah pergi ke rumah belakang dan entah mengapa Jeff dengan langkah cepat menyusulnya, berjalan di bawah hujan yang mulai menderas pada jam empat pagi.
"Jeff, kok baru pulang jam segini?" Sashi setengah berteriak mengalahkan suara hujan ketika mendengar langkah Jeff mendekatinya. Ia baru saja membuka kunci pintunya.
"Guess what, bukan kamu aja yang pulang jam segini," jawab Jef.
Kini mereka berdiri saling berhadapan. Sashi sama sekali tidak tahu Jeff hendak melakukan apa, namun ia merasa terintimidasi dengan tubuh besar pria itu. Rambut dan baju mereka sama-sama basah terkena hujan.
"Kamu mau ngapain?" tanya Sashi sambil menengadahkan kepala memerhatikan Jeff.
Orang yang ditanya pun tidak tahu hendak melakukan apa, ia sudah agak mabuk. Melihat Sashi di bawah temaram lampu, mengingatkan Jeff betapa cantik wanita itu ketika pagi tadi, sama seperti sekarang. Rambut Sashi terurai, wajahnya basah, bibirnya merah dengan liptint dan sorot mata yang bersinar. Orang lain pasti tidak akan menyangka bahwa dia adalah wanita penghibur, batin Jeff.
Kini tangan Jeff sudah menangkup wajah Sashi. Untuk sesaat posisis mereka hanya seperti itu, saling memandangi dengan napas yang tertahan. Jeff memerhatikan bibir itu, lalu beralih ke mata Sashi yang kebingungan. Ketika hasratnya sudah tidak bisa dibendung lagi, pria itu pun mulai mencium bibir Sashi. Tangannya menarik dagu Sashi perlahan supaya mulut wanita itu terbuka.
Seketika Sashi kehilangan kewarasan. Di tengah dinginnya udara malam, iJeff memberikan kehangatan yang luar biasa. tangan besar pria itu melingkari pinggangnya, sementara tangan satunya lagi menangkup kepala Sashi. Melihat respon Sashi yang membalas ciumannya, Jeff pun membuka pintu dengan cepat menggunakan sebelah tangannya, lalu mendorong Sashi ke sana.
Keduanya menuju tempat tidur tanpa menyalakan lampu. Napas Jeff sudah sangat terengah-engah, begitupun dengan Sashi. Mereka sama-sama dimabuk kepayang. Sashi belum pernah merasakan ciuman seperti yang Jeff lakukan padanya. Jeff benar-benar sangat ahli. Hingga tiba-tiba terdengar suara guntur sangat kerasa dengan kilatan cahaya yang terang. Sashi sedikit menjerit, hingga keduanya tersadar.
Sashi memberingsut ketakutan. Guntur dan kilat seperti itu selalu mengingatkannya pada sosok sang ibu yang saat itu sekarat karena kecelakaan mobil. Dadany selalu tiba-tiba mellow. Melihat itu, Jeff terduduk. "Ada apa?"
Sashi menggelengkan kepala. "Ngga ada apa-apa. Aku cuman butuh minum," jawab Sashi sambil turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu. Ia mengambil segelas air galon, lalu meneguknya dengan cepat. Wajahnya terlihat panik, hingga Jeff menepuk tempat tidur supaya Sashi kembali ke sana.
Sashi menurut, lalu meringkuk di samping Jeff sambil memeluk guling. Tangannya terulur untuk menggenggam sebelah tangan Jeff. "Kamu mau temenin sampe aku tidur? Hari ini aku capek banget."
Kalimat itu memang ambigu sehingga Jeff mengira maksudnya lain lagi. Padahal Sashi memang lelah setelah membuat banyak dessert di klub tadi.
Jeff mengangguk. "Tidurlah," katanya. Ia harus mengesampingkan hasratnya yang masih besar. Namun melihat Sashi memejamkan mata seperti itu, Jeff tidak bisa melarang dirinya sendiri untuk mengusap kepala Sashi dalam waktu yang lumayan lama.
Sashi menggeram keenakan. "Makasih udah bikin aku nyaman. Aku ga mau balik lagi ke sana. Mereka semua jahat," bisik Sashi. Jeff menganggap Sashi mengatakn itu di bawah alam sadarnya. Ia pun menghela napas, lalu menyelimuti Sashi dan membaringkan dirinya sendiri di samping wanita itu. Sashi sangat cantik meskipun sedang tertidur pulas. Jeff mencoba memahami mengapa wanita itu harus memilih pekerjaan seperti itu.Ia tidak tahu apakah yang dilakukannya barusan karena memang keinginannya sendiri atau karena ia menganggap Sashi bisa diperlakukan seperti itu di kala suasananya sedang mendukung.
Jeff sama sekali tidak tahu jawabannya. Ia hanya menyukai bagaimana Sashi meresponnya tadi. Hingga ia tidak sadar, bibirnya mengulas senyum hingga akhirnya ikut tertidur.
***
Semua barang yang ada di kamarnya, kini dipindahkan ke kamar Sashi. Dixie akhienya bisa menguasai kamar tersebut yang lebih luas dengan pemandangan lebih indah dari balkon. Sayangnya tidak banyak barang Sashi yang tertinggal. Dixie menduga kakak tirinya itu menyimpan sebagian besar barang-barangnya di kamar kantor. Mungkin ia akan meminta noni untuk melihat apa saja barang Sashi yang ada di sana. Karena seingat Dixie, masih banyak baju Sashi yang ia taksir dan tidak ada di lemari. Meskipun di lemarinya sekarang memang banyak baju dan barang lainnya yang bisa ia pakai.
"Hhhh... lagian tragis banget sih, Kak, matinya. Jadi ga sempet nulis warisan. Seandainya kamu bisa tulis warisan, apa semua ini kau akan serahin ke aku?" tanya Dixie sambil memandangi foto Sashi di dinding kamarnya.
Mereka sama sekali tidak dekat meski sudah tiga tahun serumah. Dixie harus bersikap bahwa dia bukan adik tiri yang bisa disepelekan. Ia tidak mau kalah dengan Sashi dalam hal apa pun.
"Tapi aku ga yakin kamu bakalan kasih ini semua buat aku, hahahahah. Tapi ya sudahlah mau gimana lagi. Aku kan gini-gini adikmu juga."
Dixie menurunkan foto Sashi tersebut, membawanya ke sudut untuk disimpan. Mungkin besok akan ia pindahkan ke gudang.
"Dixie!" panggil Sang Ibu sambil membuka pintu kamarnya. "Kamu besok bisa temenin mama arisan ga?"
"Nganterin pake apa?"
"Ya mobil kamu, dong. Gimana sih?"
"Lah, kan mobilnya udah Dixie balikin, Mam."
"Aduuuuh! Kenapa juga kamu balikin. Mama bilang kan itu mobil pasti punya Sashi!"
"Tapi orang-orang di kantor itu bilang kalo tu mobil punya Jio juga. Masa aku harus maksa. Lagian gapapa lah, kan aku juga udah bilang sama mereka kalo aku akan datang ke sana terus buat ngawasin pekerjaan mereka gitu."
"Halah! Mereka itu pasti sekongkol aja pengen nguasain mobilnya si Sashi. Nanti biar mama yang bilang sama papa kamu supaya diusut."
"Terserah mama deh."
"Heh, kenapa itu foto Sashi kamu copot? Kalo ketahuan papa nanti bisa marah dia," ujar mamanya sambil memegangi frame foto yang diletakkan di lantai.
"Ya serem dong, Ma, masa ada foto orang mati gede banget di sini. Pindahin aja fotonya ke ruangan lain dulu suruh si Bibi."
"Ya udahlah. Duh, jadi kamu beneran gabisa anter mama, nih?"
"Ga bisa. Minta papa beliin aku mobil kalo mau dianter-anter."