Party

1008 Kata
Semua staff House of Skills berkumpul di ruang tengah pada jam sembilan malam. Mereka hendak membahas soal Dixie yang tiba-tiba ingin menjadi bagian dari HoS. Adik tirinya Sashi itu sama sekali tidak punya salah satu bakat yang mereka butuhkan. Ia di sini malah kebanyakan flirting pada Wiggy. Mobil milik Sashi sudah dikembalikan. Tadi siang juga ia menanyakan MacBook milik Sashi, namun Noni mengatakan bahwa di sana banyak sekali file kerja. Jadi tidak bisa sembarangan diberikan dulu. "Jadi gimana? Langsung kasih tahu aja kalo kita lagi ga butuh partner apalagi bos baru. Ya gila aja, buat jadi owner sih ga masalah, tapi kalo mau jadi direktur lain lagi ceritanya," kata Emil. "Lo deh yang ngomong, Ji," kata Noni. 'Kok gue? Udah tau kalo gue lagi disudutin sama keluarganya Sashi.Elu lah yang ngmong. Kan lo yang paling deket sama Sashi." "Gue empat banget tau ga sih tiap ngadepin dia," jawab Noni sambil memberengut. "Lo aja gimana, Gy? Dia kan doyan banget nempel sama lo dari tadi. Bilangin, kek." Wiggy hanya mwlirik Noni sekilas. "Oke, biar gue yang ngmong." Wiggy pun langsung menghubungi Dixie melalui teleon w******p sehingga semua orang yang berada di ruangan itu menegang, tidak menyangka bahwa Wiggy akan langsung meneleponnya. Wiggy menyalkan loudspeaker hingga terdengar nada sambung sebanyak tiga kali sebelum akhirnya diangkat. [Haloo, ini Kak Wiggy, kan?] sapa Dixie dengan nada tinggi, seolah setengah tak percaya sedang dihubungi oleh Wiggy. "Iya, aku mau ngabarin sesuatu." [Oh iya apa tuh Kak?] Mata Wiggy berkeliling melihat teman-teman staffnya satu-satu. Mereka semua mengangguk, pertanda mengiyakan bahwa Wiggy haru sekarang juga mengakannya. "Soal permintaan kamu buat kerja di sini, kayaknya belum bisa. Di siisi lain kita masih berduka akan kepergian Sashi, tapi di sisi lain juga kita saat iini lagi ga butuh karyawan baru." [Loh kok karyawan baru? Aku kan mau gantiin jabatan Sashi di situ. Aku adeknya dan perlu tahu soal perkembangan perusahaan yang gimanapun nantinya akan jatuh ke tanganku. AKu kan ahli warisnya.] "Emangnya Sashi ada nulis surat wasiat?" [Ya ga ada sihhh... cuman kan aku satu-satunya adik Sashi. Dia ga punya sodara lain, jadi otomatis apa yang dia punya jadi hak aku, dong? Bener ga?] "Kalo soal itu gue ga tahu menahu. CUman nyampein aja kalo House of Skills ga menerima orang baru. Kecuali otak lo kayak Sashi. Pinter bikin proposal buat sponsorship atau partnership, bia menuangkan banyak ide buat kemajuan House of Skills, atau bikin konsep yang variatif. Bisa?" Semua yang berada di ruangan itu hampir menahan tawa dengan ucapan Wiggy yang lembut namun savage. [Makanya aku kemaren ke kantor itu pengen liat cara kerjanya gimana. Kalo aku ngikutin terus kan lama-lama bisa. Oke kalo sekarang aku belum diangkat partner atau direktur, seenggaknya izinin aku tiap hari ke sana buat lihat cara kerja kalian.] Wiggy melihat ke arah teman-temannya, namun semua malah terdiam. "Ya udah kalo mau ke sini gapapa. Asal ga ganggu aja dan jangan kebanyakan minta foto bareng." [Ohh hehe... oke Kak Wiggy, aku janji. Kalo gitu besok aku ke sana pulang dari kampus ya. Bye Kak Wiggy!] Noni melempar bantal kursi ke lantai. "Ih nyebelin banget sih!" *** Seperti yang sudah diperkirakan leh Jeff. Franky membeli banyak botol anggur dan seember daging untuk barbeque. Ia juga membawa beberapa teman wanita yang dibawanya dari Bandunguntuk menjadi first guest cottage-nya. Padahal Jeff sudah bilang bahwa cottage belum 100% selesai, namun Franky tidak peduli. "Yang penting udah bisa ditidurin dan ga kena ujan, Bro," jawab Franky. Lagian segini udah bagus lah. Pemandangan keren, kolam renang udah siap sedia," "Itu cewek-cewek dari mana?" tanya Jeff pelan. Mereka sedang duduk di bawah pohon bertiga bersama Soni. "Oh itu kawan-kawan kerja aku di Bandung. Sebagian lagi kawan main. Tenang aja, bukan cewek macam-macam, kok. Kita ga akan melakukan hal yang senonoh." "Tumben lo biasanya nelpon si Robert." Kini Soni yang berbicara. Franky pun tertawa. "Rencananya emang gitu. Tapi nantilah itu kalo kawan-kawan cewek aku udah pindah tempat. Mereka cumannginep semalam aja di sini. Malam kedua, baru aku hubungin si Robert. Hahahaha! Siapa tau ada cewek baru yang aduhai." Jeff tidak menyukai kalimat tersebut karena langsung terbayang akan Sashi yang nantinya melayani Franky. "Emang ga ada orang lagi selain si Robert? Kenapa harus sama dia?" tanya Jeff. "Robert is numero uno, Bro! He's the best. Selalu milih cewek yang cantik, bersih dan service-nya bagus. Dia selalu tahu apa yang gue mau. Makanya gabung, dong. Elu tiap gue ajakin ga pernah mau, sih." Jeff hanya tersenyum. Ia pun beranjak ke pondok di belakang untuk mengawasi pekerja. Berada di dekat Franky selalu membuat kupingnya panas karena yang dibicarakannya selalu saja wanita dan petualangan-petualangannya yang aneh. Hingga sampai malam hari, keadaan di cottage-nya semakin ramai. Franky menyalakan musik EDM dengan volume yang cepat. Beberapa teman wanitanya sedang membakar daging. Soni juga tampak mengobrol dengan salah satu teman wanita Franky di pojok halaman. Sesaat Jeff menggelengkan kepalanya karena dia tidak akan segan menegur Soni jika temannya itu keluar batas. Bagaimanapun Soni sudah beristri. "Bro! Minum dong." Franky membawakan sebotol anggur dengan satu sloki yang diserahkan pada Jeff. Jeff meminumnya dalam sekali tegukan. Udara di Ubud memang sedang dingin. Meminum anggur bisa membuatnya sedikit hangat. Jeff tiba-tiba teringat minuman jahe merah yang Sashi buatkan tadi pagi. Semakin malam, hingar bingar terus berlanjut. Namun Jeff sudah tidak kuat menahan kantuk dan pusing. Ia ingin segera beristirahat di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan jam dua pagi. Jeff pun pamit kepada Franky dan Soni. "Lah ga seru, bukannya nginep di sini," kata Franky. "Gue ga bawa baju. Besok pagi ke sini lagi dan nginep, oke." "Oke deh... gue izin party sampe pagi, yee... bebas kan di sini ga ada yang bisa denger. Yuhuuuw!" Franky sudah sangat mabuk. Jeff pun segera memasuki mobil dan menjalankannya perlahan. Suasana sudah sepi, ia tidak khawatir meskipun sedang sedikit pusing. Akhir-akhir ini Jeff sudah kehilangan hasrat untuk party. Entah karena ia juga merindukan Alina, karena biasanya ada pacarnya tersebut yang mendampinginya. Berdua menikmati party dan berakhir dengan bermesraan di atas tempat tidur. Mobil Jeff memasuki halaman. Hujan masih mengguyur meski tidak begitu deras. Namun pandangan Jeff teralihkan ketika melihat Sashi baru turun juga dari mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN