"Kerja di sini?" tanya Sashi. "Sebagai apa?"
"Banyak posisi yang bisa kamu tempati di sini. Nanti kamu tinggal temuin Giwa aja, bagian HRD, tadi saya udah ngomong sama dia. Disesuaikan sama kualifikasi kamu. Kamu juga bisa minta gaji berapa, nanti biar aku yang pertimbangkan. Gimana?"
Sashi tidak menyangka bahwa ternyata Jeff hendak menawarkan pekerjaan. Baru saja ide itu muncul kemarin karena Sashi memang jatuh cinta dengan tempat ini. Namun melihat Jeff yang agak tergagap, berusaha menyampaikan tawaran tersebut tanpa menyinggung dirinya, Sashi pun geli sendiri.
"Hmm... nanti deh aku coba pikir-pikir dulu. Karena aku juga ga bisa ninggalin kerjaan aku yang sekarang gitu aja."
"Ahh, oke. It's your right. Tapi kalo emang kamu butuh kerjaan lain di sini, saya selalu terbuka."
"Sipp... makasih banget buat tawarannya. Nanti aku kabarin kamu lagi."
Jeff mengangguk. "Oya, mau makan malem? Pesen ajananti biar bill-"
"Jeff, aku dan Noni suka banget masakan di sini. Tapi kami ga enak kalo ditolak untuk bayar terus. Jadi mulai sekarang, biarin kami bayar apa yang kami pesen, oke?"
"Iya, maksudnya kan saya yang ngajakin kamu nginep di sini, dan temen kamu juga udah bantuin saya ngereview cottage ini."
"I know. Makanya, aku udah numpang gratis, numpang di rumah kamu juga gratis, kadang dapet makanan gratis, sekarang biarin aku bayar. Karena ini bagian dari bisnis kamu. Dan Noni juga ngereview atas kemauan dia sendiri."
Jeff tertawa. "Oke. Gimana nyamannya kamu aja. Oya, Noni itu tahu soal kecelakaan pesawat kamu?"
"Iya, dia satu-satunya temen aku yang tahu. Dia salah satu orang yang dateng ke Bali kemaren barengan aku."
"Pantesan, saya familiar. Dia kalo ga salah yang paling nangis banget waktu di bandara itu? Karena rambutnya sama."
"Iya, bener. She's my best friend."
Sashi melirik Noni yang sedang duduk agak jauh bersama Franky dan Soni. Mereka sedang tertawa, entah membicarakan apa. Noni memang humble dan mudah membaur dengan siapapun dari berbagai kalangan.
"Soo... kamu belum ada rencana pulang ke Bandung?"
"So far, belum. Aku masih bingung harus gimana dan ga punya tempat tujuan. Tapi, nanti aku pasti pulang juga. Mungkin akhir tahun ini, mungkin tahun depan, i don't know."
Setelah mengatakan itu, orangtuanya Jeff datang menngenakan sweater couple berwarna abu-abu. Mereka tersenyum cerah ketika mendapati restorannya sudah ramai pengunjung.
"Oh ternyata lagi pada ngumpul di sini."
Sashi melambaikan tangannya. "Haloo, Om, Tante."
"Ini kenapa duduk berduaan?" tanya ibunya Jeff dengan mata berbinar-binar.
"Ada yang mau Jeff sampein aja, soal kerjaan. Ni baru mau gabung sama mereka." Jeff menunjuk meja Franky dengan dagunya.
"Gabung aja, yu, Om, Tante, makan bareng," ajak Sashi.
"Iya, boleh boleh... ayuk kita makan bareng biar seru. Dan akrena ini hari terakhir kami di cottage untukliburan kali ini dan masih ada aroma wedding anniversary, jadi malam ini Om dan Tante yang traktir kalian makan."
Semua bersorak senang layaknya anak kecil. "Asiiik bisa pesen menu legendaris lagi gua!" seru Franky. "Tante tau aja duit awak udah menipis. Dikeruk terus kalo di Bali."
Sementara itu, Sashi dan Jeff saling berpandangan, lalu mereka tertawa, mengingat Sashi yang baru saja berkoar-koar ingin membayar makanannya sendiri, kini haru terima karena ada yang ingin mentraktir lagi.
Ibunya Jeff memanggil waiters. "Mbak, tolong panggilin Bu Putu sama anaknya di pondok. Suruh makan malem di sini, bilang aja ditunggu sama ibu."
"Oh iya, Baik, Bu."
Ayo, silakan anak-anak pesen aja apa yang mau dimakan malan ini sepuasnya."
Franky dan Soni sibuk merapatkan meja supaya mereka bisa duduk bersamaan. Suasana terasa hangat. Sashi senang bisa mnejadi bagian dari mereka. Begitupun Noni yang merasa langsung disambut dengan ramah. Ia jadi tidak begitu khawatir lagi dengan Sashi yang berada seorang diri di sini karena temannya itu dikelililingi orang-orang yang sangat baik.
"Oya, ini siapa? Pacarnya Franky?"
"Ini temen aku, Tante. Namanya Noni, dia baru aja dateng dari Bandung."
"Oh maaf, kirain pacarnya Franky."
Franky pun menggaruk kepalanya. "Ah tante ini asal tuduh aja. Kasian nanti dia tersinggung dibilang jadi pacar aku."
"Hahahaah ya masa tersinggung."
Tidak lama kemudian, Bu Putu dan Wayan datang. Begitupun dengan jamie yang baru saja pulang. Mereka bergabung di meja. Menghabiskan waktu selama hampir dua jam untuk makan, mengobrol, tertawa tatkala menceritakan masa muda orangtuanya Jeff. Sashi mulai berpikir, mungkin memang ada cinta sejati di dunia ini. Ibunya Jeff beruntung karena mempunyai suami yang amat mencintainya, juga memiliki dua anak tampan dan sangat mencintai kedua orangtuanya.
Sashi merasa iri dan bertanya-tanya apakah Jeff akan menjadi suami seperti ayahnya sendiri? Jeff memang baik. Salah satu buktinya adalah hari ini ketika menawarkan Sahsi pekerjaan. Mungkin kejadian ciuman malam itu hanyalah pelampiasan karena ia begitu terlihat kesal karena paginya Sashi sempat menguping Jeff bertengkar dengan kekasihnya lewat telepon.Jeff tidak menganggap kejadian itu serius, begitupun dengan Sashi. Jeff masih sangat mempedulikan Alina.
Tepat jam sepuluh malam, satu per satu orang bubar karena sudah mengantuk. Perut kenyang memang lebih cepat memuat ingin tidur. Begitupun dengan Sashi dan Noi yang pamit kembali ke pondokuntuk beristirahat. yang tertinggal di restoran hanya Jeff, Soni dan Franky yang sepertinya masih segar bugar untuk begadang. Masing-masing dari mereka juga mulai mengorder bir untuk menghangatkan badan.
Ketika sedang berjalan kaki dmenuju pondok, Noni tidak henti-hentinya mengagumi sosok Jeff dan kini Jamie. "Kenapa bisa ganteng-ganteng kebangetan gitu, ya. Jeff tipe ganteng yang hangat dan dewasa, sementara adeknya itu tipe bad boynya ga sih? Sumpah lo ya, Sash, ga ada ngasih tahu gue kalo di sini banyak cowok cakep. Tau gitu gue dari kemaren ke sininya. Ini besok kita malah udah mau bubar."
"Nanti tinggal main aja ke tempat gue. Mereka kan di sana juga."
"Ya tapikan tetep aja, kalo di sini kan suasananyaliburan, bisangumpul-ngumpul, ngobrol. Kalo udah di rumah ya malu juga gue, apalagi lo kan misah di belakang."
"Ya udah, sabar sabaaar... inget, sekarang lo lagi di Bali. Cowok cakep bergelimpangan sepanjang jalan. Tinggal dipilih."
"Idih, lo kira barang obralan."
Mereka sudah sampai di pondok. "Ngantuk ga sih lo? Kok gue udah ngantuk banget, ya?" ujar Sashi.
"Apalagi gue, tadi tidur siang cuman bentar. Capek banget. Yuk, kita langsung tidur aja."
Mereka pun menuju lantai atas. Sashi hanya menyalakan lampu hias berwarna kuning. "Thanks for coming ya, Non. Gue seneng banget sumpah. Pokoknya selama lo ada di sini, kita seneng-seneng."