Ibunya Jeff memberitahu Sashi bahwa ia akan pulang ke rumah Jeff setelah sarapan. Ketika Sashi diajak untuk pulang bersama, ia menolak secara halus, dengan alasan akan menemani Noni mencari hotel untuk ditempati selama ia tinggal di Bali. Jeff sudah menawarkan supaya Noni bisa meneruskan tinggal di cottage dengan harga diskon karena ia tahu Noni akan menolak jika diberi gratis. Meskipun begitu, Noni tetap menolak karena ia ingin berada di dekat Sashi, sementara jarak dari tempat kerja Sashi dan cottage memakan waktu hampir dua jam.
“Oh Sashi mau sama Noni dulu tinggalnya?” tanya ibunya Jeff saat itu.
“Iya, tante, soalnya Noni juga di sini cuman empat malem. Kita mau kangen-kangenan.”
“Tapi nanti kamu sempetin ke rumah bisa ga? Kan katanya mau masak bareng tante. Sekalian Noni juga mampir, kita makan malam bareng di rumah, masakan tante dan masakan Sashi.”
“Boleh banget, Tan. Pokoknya sebelum tante pulang nanti Sashi sempetin ke rumah deh.”
Sashi mengingat percakapan tersebut sesaat ketika ia bangun tidur. Perlakuan ibunya Jeff kepada dirinya mengingatkan Sashi pada ibu kandungnya sendiri. Lalu muncul ketakutan jika Sashi menyukai mereka. Sashi takut kehilangan lagi, sebagaimana ia kehilangan ibu kandungnya atau ketika ia kehilangan Jio. Sashi tidak mau sakit hati lagi karena cinta. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap sewajarnya saja.
Kini waktu sudah siang. Jeff dan kedua orangtuanya pasti sudah pulang ke rumah. Sashi sendiri masih terlalu betah untuk tinggal di cottage. Seandainya waktu cuti masih panjang, ia pasti akan tetap stay di situ. Jeff benar-benar membuat tempat tidur yang sangat nyaman. Kasurnya empuk dengan sprei selembut salju. sepertinya cottage ini memang didesain untuk siapapun yang ingin full rest.
"Hey, udah bangun? Gue udah pesenin mie goreng special sama jus melon ke cafe. Cuci muka, gih!" perintah Noni yang sudah tampak segar.
"Lo barusan ke kafe?" tanya Sashi dengan suaranya yang masih sangat serak.
"Iya. Sambil videoin buat bahan vlog. Kasih lihat kalo menu sarapan di sini tuh enak-enak. Gue juga tadi videoin menu sarapannya Jeff sama mama papanya. Heheheh.."
"Serius lo?" Sashi terkejut hingga ingin tertawa.
"Sumpah! Kebetulan mereka lagi makan di sana. Terus nanya-nanya soal vlog gue, dan mamanya Jeff nawarin deh buat fotoin makanan mereka juga.Lucu, ya, keluarganya Jeff."
"Sekarang udah pada pulang ke rumah, ya?"
Noni mengangguk. "Iya, mereka tadi pamit balik duluan dan ibunya Jeff bilang ke gue supaya lo ga lupa buat pulang ke sana juga sebelum mereka balik ke Ostrali."
"Oke deh kalo gitu gue ke kamar mandi dulu, takut keburu mie gorengnya dateng. Lo kok tahu, sih, udah lama gue ga makan mie. Ni sekarang denger mie perut gue langsung kerubukan."
"Iya, dong, jangan sepelekan keprhatian Noni. Eh, nanti lo turun ke bawah aja, ya. Gue mau ke bawah nunggu makannya sekalian makan di situ aja. Di balkon luar udaranya lagi dingin banget, ga kuat gue."
"Oke, Non. Atur aja."
Di sisi lain, Sashi beryukur karena malam ini ia kembali bekerja. Pikirannya bisa sedikit teralihkan dari hal-hal yang membuatnya emosional. Ketika mmemikirkan hal tersebut, ia menganggap dirinya bodoh karena ketakutan di kala semua orang baik terhadapnya. Andai saja Robert dengar, ia pasti akan memaki Sashi habis-habisan dengan mengatakannya kurang bersyukur. Sebaiknya kebaikan itu diterima saja, tanpa berpikiran panjang."
Sashi turun ke bawah setelah menbersihkan diri dan melakukan rutinitas skincare-nya. Noni berada di kursi tamu sedang membuka platic wrap ynag menutupi makanan dan minumannya.
"Sash, ayo sarapan." Noni menunjuk mie goreng untuk Sashi. Mereka pun menikmati sarapannyadengan khidmat.
***
Kedua orangtua Jef masih berdebat tentang rencana kepulangannya ke Australia. Saking tidak mau lagi ribut, ayahnya Jeff menyuruh istrinya untuk tetap tinggal saja sendiri sementara ia pulang.
"Oh ya ga bisa begitu, Pa. Nanti papa kalo sendirian ga ada yang larang makan ini itu. pAsti semua ja adimkana walau udah tahu kalo itu tuh bahaya.. mama juga di sini bukannya enak, malahan ga tenang karena mikirin papa mulu. Nggak, ah. Kalo mama di sini ya papa juga di sini."
"Tuh kan jadi serba salah. Ya udah mama pulang dulu. Kan papa udah bilang kalo nanti ada meeting yang ga bisa ditinggal, kita bisa schedule ulang buat liburan lagi di sini lebih lama."
Jeff berusaha menengahi. "Iya, Mam, pulang aja dulu. Cottage kan ga kemana-mana, Jeff juga kayaknya harus undur ke Singapore soalnya ada krjaan di Hongkong. Doain aja jadi, lumayan projectnya cukup besar."
"Iya deh. Kamu kapan emangnya pergi ke Hongkong?"
"Minggu depan bareng Soni. Jadi mending beres Jeff dari sana, terus ke Singapore nemuin Alina, baru mama papa balik lagi ke sini. Sekalian Jeff bawa Alina juga."
Mobil sudah berbelok ke rumah. Jeff meminta kedua orangtuanya langsung masuk, barang biar dia saja yang mengangkatnya.
Bu Putu dan Wayan diantarkan oleh sopir langsung ke rumahnya. Jeff juga menyuruh mereka untuk beristirahat dan kembali bekerja di rumahnya besok.
"Oya, Jamie mau puilang bareng mama apap juga?" tanya Jeff setelah menaruh koper di dekat meja.
"Nggak, dia mau di sini dulu. Katanya weekend nanti temennya ada yang ulang tahun," jawab ibunya.
"Oh ya udah. Mama istirahat, gih. Jangan bete gitu, dong, kan masih banyak waktu. Kasian papa ga enak sama partnernya kalo harus batalin meeting," bisik Jeff ketika papanya sudah memasuki kamar. "Ia sudah terbiasa melihat mamanya yang kadang bertingkah seperti anak kecil. Namun hal tersebut hanya ia lakukan kepada suaminya. Jeff menganggap bahwa itu bentuk cinta. Ibunya masih perlu pembuktian bahwa suaminya mementingkan apa yang ia mau. Sementara ayahnya juga sudah terbiasa jika sikap manja istrinya muncul.
HAl tersebut selalu dijadikan pelajaran bagi Jeff, bagaimana ia harus menghadapi istrinya kelak. Ia harus berlatih kesabaran pada papanya. Namun dulu papanya juga pernah bilang, ia bukannya sabar menahan sesuatu, ia sabar karena ia mengerti. Jika sabar menahan, maka itu akan menjadi racun. Papanya sabar karena ia mencintai ibunya dan menerima kekurangannya. Jika ibunya bersikap di luar batas, maka ia akan bersikap tegas juga. Jadi jangan sampai bersabar kebablasan. Ada kalanya harus berontak jika sesuatu sudah di luar batas dan sudah tidak pantas untuk disabarkan lagi.
"Makanya kamu cepetan nikah supaya mama ga sepi di rumah. Seenggaknya kalo ada cucu mama bisa videocall cucu mama."