Forgive Me

1004 Kata
Wiggy membereskan semua produk endorse-nya untuk disimpan di lemari. Produk yang tidak ia pakai, biasanya ia berikan pada sesama staff. Biasanya Revo dan Shaki yang selalu meminta produk-produk tersebut. Hampir setiap hari, Wiggy kini menerima endorse mulai dari makanan, baju, jam, sepatu bahkan skin care. Emil tidak henti-hentinya memberi jadwal kepada Wiggy dan juga Renata. "Besok kayaknya masih ada barang dateng lagi. Tapi nanti aja, tungguin barang lainnya biar sekalian foto," ujar Emil sambil membantu Wiggy merapikan barangnya di lemari. "Tadi juga ada paket buat Noni lagi. Udah tiga paket." Emil terkekeh. "Dia sebenernya ga mau, tapi gue paksa. Sayang lah ditolak, mana brand yang nawarin dia juga bagus-bagus. Gapapa, simpen aja dulu. Gue udah bilang sama mereka kalo Noni lagi vacation, jadi baru bisa upload minggu depan." "Dia balik kapan emangnya?" "Empat malem di sana. Emang ga kasih tahu lo?" Wiggy menggeleng. "Ga ngasih tahu." "Yaaah... kalian sih ribut mulu," ucap Emil sambil menggelengkan kepalanya. "Emang dia ada cerita sama lo kalo kami ribut?" "Cerita lah, sama siapa lagi dia cerita kalo bukan sama gue. Sashi udah ga ada. Biasanya Sashi yang jadi bak sampah dia." Wiggy duduk di kursi santai sebelah lemari, sambil memandangi Emil. "Terus tanggapan lo gimana? Kenapa dia bisa marah sama gue padahal gue ga ngelakuin apa pun yang jahatin dia." "Waduh, gue sih sebenernya pengen no comment, karena lo tau sendiri mindset cewek itu beda sama kita, banyak kode yang musti kita sendiri pecahin. Tapi ya intinya aja, dia begitu karena dia suka sama lo. Sorry nih, gue ceplas ceplos aja, akrena gue sendiri udah capek dengerin dia, tapi dia sendiri setengah-setengah ngadepin lo. Jadi supaya semua cepet clear dan lo ngerti kenapa dia marah, jadi ya udah. This is it! Noni suka sama lo." "Iya, gue tahu kal itu sejak lama," jawab Wiggy lempeng. Emil melongo. "Lo tahu udah lama? Lah buset... terus kenapalo sengaja depan dia jalan sama si Dixie? Sengaja bikin dia cemburu?" "Nggak juga, ya orang minta tolong dan gue kebetulan bisa nolongin, kenapa nggak? Ga ada hubungannya sama Noni." "Tapi lo sendiri suka sama Noni?" Wiggy tidak langsung menjawab. Namun Emil terus memandanginya dengan wajah penasaran. "Ngga tahu juga. Ya gue suka sama Noni as a friend, sama kayak gue ke Sashi. Lo tahu sendiri gue ga tertarik punya hubungan sama siapapun." "Lo punya trust issue atau gimana, sih? Wah kabar buruk nih buat si Noni. Poor my friend." "Justru gue takut nyakitin dia, makanya gue ga ada niat buat berhubungan terlalu intens. I'm not a romantic person. Tapi gue bisa jadi temen dia yang baik." "Temen dia mah udah banyak, kali. Gue, Shaki, Revo, si jio juga. Semua pada baik sama Noni. Jadi seandainya Noni tiba-tiba punya keberanian buat nyatain perasaannya sama lo, lo bakalan nolak dia?" Wiggy mengangguk tanpa ragu, sehingga Emil menepuk keningnya. "Berarti gue harus cegah dia. Gue paling males kalo mood si Noni udah jelek." "Lebih bagus begitu, supaya semuanya cepet clear. Noni paling bakalan bad mood paling lama satu minggu. Abis itu semua bakalan normal lagi." *** "Kok telinga gue panas ya, kayak ada yang lagi ngomongin gue," ujar Noni ketika ia dan Sashi berada di taksi online. "Anak kantor, kali, yang ngomongin lo. Mereka ga ada kabar hari ini?" "Ada. Emil tadi fotoin paket buat gue, katanya produk endorse. PR banget gue balik dari sini langsung banyak tugas." "Ya gapapa, rejeki jangan ditolak." Mereka berhenti di sebuah hotel bintang empat. Noni sudah membooking kamar pagi tadi yang menyediakan twin bed. View-nya cukup indah, dari balkon terlihat pantai Kuta dan ada kolam renang yang dihiasi pohon palem di sepanjang kolamnya. Noni langsung merebahkan diri di atas kasur. "Lo kapan mau mulai shopping?" tanya Sashi. "Hehee... tau aja lo. Besok deh kayaknya. Lo bisa ga kira-kira?" "Bisa, dong. Sorean paling. Gue kan balik kerja subuh, terus tidur sampe jam satu kira-kira. Jadi sore bisa nyempetin shopping, nonton sama makan." "Ajakin si Robert, yuk, biar seru. Sekalian baliknya kita ke rumah dia, pajamas party. Belu juga sekalian peralatan partynya kayak biasa." "Good idea! Nanti gue kabarin dia. Oya, kok gue kelupaan ya belum cerita sama lo soal cewek yang nyuri tas gue dan jadi korban kecelakaan di pesawat itu." "Belum, kenapa emangnya?" "Akhirnya ketahuan dia itu siapa." Noni langsung menegakkan badannya. "Really? Siapa?" "Temennya Robert. Cewek itu kerja di klubnya Robert, Non. Namanya Bella. Cuman pas gue tahu cerita ini, gue bukannya kesel lagi karena tuh cewek nyuri semua barang gue. Gue malah kasian sama dia." Sashi menceritakan kejadian yang menimpa Bella hingga membuat Noni menangis. Noni mengutuk pria bule yang telah merusak hidupnya. "Terus keluarganya sampe sekarang ga ada yang tahu?" "Robert ga punya kontak mereka satu pun. Lagi pula kalo tahu, mereka juga kayaknya ga bakalan peduli. Gila, ya, dunia emang kejam banget sama Bella. Padahal anaknya manis, lo harus lihat fotonya di Robert nanti." Ketika sedang membicarakan hal tersebut, ponsel Noni berdering. Ada telepon masuk dari Jio. "Sash, Jio, Sash. Lo diem ya, gue angkat dulu." Sashi mengangguk, sementara Noni menyalakan loud speaker. [Hallo, Ji. Ada apa?] [Lo di mana?] tanyanya dengan suara serak. [Lagi di hotel. Masih staycation gue, belum mau ke mana-mana. Kenapa?] [Ga ada, sejak lo pergi ke Bali, gue kepikiran terus sama Sashi.] Mendengar itu, Sashi langsung menaikkan kedua alisnya. [Kepikiran gimana, Ji?] [Ga tahu. Rasanya baru kemaren kita rencana ke sana bareng Sashi. Jujur aja selama ini gue ga ada mikirin itu karena gue alihin semua ke kerjaan. Udah beberapa hari ini gue ga fokus, bikin lagu juga ga dapet feel-nya. Akhirnya gue nyoba buat ngerenungin kejadian waktu itu. Gue ngerasa jadi orang paling berengsek, Non. Gue udah bikin dia pergi dalam keadaan marah dan sakit hati.] Noni dan Sashi saling berpandangan. [Uhm, Ji. Gue tahu lo memang salah di sini, tapi ya udah, jangan terus-terusan nyalahin diri lo sendiri. Dengan penyesalan lo kayak gini dan lo ngakuin kesalahan, minta maaf sama Sashi di doa lo, gue yakin energinya pasti bakalan nyampe. Sashi pasti maafin lo juga. Nyoba berdamai sama diri sendiri aja, Oke?] [Iya. Gue harap Sashi mau maafin gue.]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN