Feeling Blue

1009 Kata
Kepala Sashi mendadak lebih pusing. Ia meminta izin Robert untuk pulang dan beristirahat dan agak telat masuk kerja. Sashi benar-benar mendapatkan shock therapy beberapa hari ini. DImulai dari Renata yang memfitnahnya punya utang, dan kini profesi Robert yang membuatnya jadi bahan fitnah juga. Kini Sashi tahu apa yang dimaksud Alina. Mengapa pacarnya Jeff itu mengira ia mampu menyewa apartemen, alih-alih tinggal di rumah belakang yang asalnya gudang. Jadi selama ini Jeff juga menyangka Sashi bekerja sebagai wanita penghibur? Padahal Sashi sudah memberitahu bahwa ia hanya bekerja sebagai waiters. Sashi tidak bisa menyalahkan, karena bagaimanapun ia hanyalah orang baru. Mereka baru saja saling kenal, malah bisa dibilang bahwa Sashi hanya orang asing untuk Jeff. Namun yang membuatnya kecewa adalah tentang malam ketika hujan itu. Apakah Jeff menciumnya karena menganggap Sashi bisa diperlakukan seperti itu dan diabaikan begitu saja keesokan harinya? Sashi turun dari taksi online dengan langkah gontai. Bu Putu tampak sedang menyapu halaman, mengenakan daster dengan rambut dicepol. "Eh dari mana? Pantesan tadi ibu ketuk pintu malah dikunci." "Abis makan di luar bareng temen, Bu," jawab Sashi. "Aku langsung ke kamar, ya, mau sitirahat dulu sebentar." "Lagi ga enak badan kamu?" "Iya, beberapa hari ini kena hujan terus, jadinya agak puyeng." "ooohh... bisa masuk angin juga itu. Mau ibu urut?" "Ngga deh, Bu. Nanti aja. Makasih tawarannya, nanti kalo aku mau urut, aku kasitau ya."| "Ya udah sana istirahat dulu. Nanti ibu antarkan teh hangat pake madu." "Oke bu.. makasih." Sashi pun memasuki kamar dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Kepalanya tidak bisa diam, sangat berisik. Ia mengingat-ingat kenapa Jeff yang awalnya sangat ramah, kini berubah menjadi agak sinis. Secara tidak langsung, Jeff tidak mau Sashi menggunakan dapurnya lagi, jadi ia lebih memilih untuk membuatkan dapur baru. Sashi menertawakan dirinya sendiri sambil menatap ke langit-langit kamarnya. bagaimana cara ia memberitahu Jeff bahwa dirinya hanya seorang waiters, bukan wanita penghibur. Atau lebih baik biarkan saja Jeff menganggapnya begitu. Sashi tidak peduli. Lebih baik sekarang ia memikirkan untuk mencari tempat tinggal baru. *** Sudah hampir dua jam Noni berada di studio bersama Revo dan Jio. Revo mempunyai lagu baru dan sudah selesai diaransemen oleh Jio. Kini profesi sebagai penyanyi memang membuat Noni menemukan dunia baru. semua berkat Sashi. Noni bisa merecharge banyak energi, dan melepaskan semua emosi dengan menyanyi. Menurut beberapa orang, penjiwaan Noni sangat sampai pada pendengar. "Udah dulu deh, buat mancing doang ini. Nanti mau gue masukin biola dan poles lagi. Kalo udah beres, baru lo take vocal lagi," kata Jio." "Oke. Kalo gitu gue mau masak." "Wah tumben lo mau masak, udah lama banget ga makan masakam lo lagi," ujar Revo sambil menaruh gitar di samping lemari. "Yaps. Kebetulan mood gue lagi bagus. Kalian mau makan apa?" "Gue kangen ayam daun kemangi buatan lo," kata Revo lagi. Jio mneimpali. "Gue ngikut aja." "Oke deh. Gue cari asisten chef gue dulu alias si Emil." Noni pergi ke ruang tengah, namun di sana tidak ada Emil. Sepertinya manager itu masih tidur. Di sofa hanya ada Wiggy sedang memfoto produk yang sedang di-endorsenya. "Liat Emil, ga?" tanya Noni ketus. "Nggak. Masih tidur kali. Mau ngapain?" "Gue mau masak dan mau minta anter belanja, sekalian bantuin masaknya." Wiggy mengangkat kepalanya untuk melihat Noni. "Tumben." Noni menghela napas karena semua mengatakan 'tumben'. "Ya kan masa selamanya gue ga masak -masak. Mumpung mood lagi bagus. Lo mau anterin gue ga? Mobil ga dipake siapa-siapa, kan?" "Ke mana? pasar?" "Sebenernya gue emang pengen ke pasar supaya bisa nawar, harga murah dan lebih fresh. Tapi karena gue tahu lo anti pasar, karena bau dan banyak yang liatin, ya udah kita ke supermarket aja." Wiggy tersenyum miring. "Oke, gue ambil kuncinya dulu." Noni pernah sekali diantar Wiggy ke pasar. Kala itu habis hujan deras dan jalanan becek. Wiggy sampai harus melipat celananya hingga pertengahan betis. Ia memakai baju serba putih, rambut yang juga disemir pirang. Dengan kulitnya yang sangat putih dan pembawaannya yang dingin, orang mungkin mengira dia bagaikan pangeran salju. Wiggy sama sekali tidak cocok berada di pasar. Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. noni mengetikkan pesan untuk Sashi. [Gue otw ke supermarket bareng Wiggy. Udah kayak suami istri mau belanja bulanan.] Setelah mengirimkan pesan tersebut, Noni mengikik karena geli sendiri. "Kenapa?" tanya Wiggy. "Ga ada, lagi chat temen aja. Oya, lo ada request, ga, mau dimasakin apa?" "Apa aja. Gue suka semua masakan lo," jawab Wiggy yang membuat Noni tersipu. "Tadi si Revo sih pengen dibikinin ayam daun kemangi. Lo suka juga?" "Kalo gue bilang ga suka dan minta dimasakin menu lain, lo bakalan bikinin yang gue minta atau yang Revo minta?" Kini Noni bingung sendiri. pakah Wiggy mulai bermain modus? "Yaaa... selama budget mendukung, gue sih mau mau aja bikinin semuanya." Senyum miring itu timbul lagi. "Ga usah. Gue suka juga kok ayam daun kemangi." "Oke." Supermarket yang mereka tuju hanya berjarak tiga kilometer. Mereka menaiki lift menuju lantai supermarket. Noni langsung pergi ke tempat lauk pauk, sementara Wiggy menyusuri lorong peralatan mandi. Ketika sedang memilih sayuran, ponsel Noni bergetar. Sudah ada balasan dari Sashi. [Good.] Hanya itu? Noni merengut karena respon Sashi hanya satu kata saja. Ia sudah berekspektasi kalo temannya itu akan mengolok dengan penuh semangat. [Lo baik-baik aja, kan?"] Feeling seorang sahabt pasti tidak akan pernah salah. Noni tahu, Sashi pasti sedang dalam keadaan tidak baik. Mungkin ia sedang sakit atau lagi ada masalah pekrjaan, atau hanya sekadar bad mood. [Lagi ada masalah dikit. Gue pengen cerita, tapi nanti aja kalo lu lagi nyantai.] Noni jadi merasa bersalah, karena hari sudah sore. Ia akan memasak dalam waktu yang lama, dan ketika selesai, Sashi pasti duah pergi bekerja. [Sash, mau cerita sekarang aja? Gue sambil belanja nih pake headset mumpung Wiggy ada di lorong lain. Gue dengerin lo aja, oke.] [Ga usah, Non, lo belanja aja dulu. Besok juga gapapa kok. Gue sekarang juga cuman pengen istirahat doang.] [Tapi ini bukan masalah gede, kan? Intinya aja apaan?] [Nggak, tenang aja. Bukan masalah gede, cuman gue lagi ga enak perasaan doang. Beso kita telponan, ya. Have fun bareng si Wiggy. Mumpung ga ada Dixie yang gangguin kalian berdua.]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN