Missing Hours

1001 Kata
Karena sudah merasa bosan setiap hari membuat berpuluh-puluh eclaire dan dessert lainnya, Sashi meminta diajari untuk belajar latte art pada Jack, salah satu barista yang ada di bagian depan. Kebetulan, asisten jack juga sedang absen, jadi Sashi menghabiskan waktu berkutat dengan cappuccino, frothing s**u dan pen art. Jack bilang, Sashi lumayan cepat belajar. Hanya dengan lima kali mencoba, ia bisa membuat latte dengan sempurna di gelas ke-enam. Sesi belajar itu menghabiskan waktu selama hampir dua jam sebelum waktu pulang. Sashi benar-benar tidak ada pekerjaan lain. Kadang ia hanya berdiam diri di teras sempit yang ada di belakang atau membantu Chef Made menyiapkan bahan-bahan masakan. Sashi takut dikira makan gaji buta. Ia sendiri yakin, sebenarnya Robert tidak begitu membutuhkannya sebagai pembuat dessert. Temannya itu hanya ingin memberi Sashi pekerjaan saja. Mungkin Sashi harus memulai cari pekerjaan baru yang bisa lebih mengeksplorasi diri. Ia berpikir akan menjadi guide tour atau apa pun yang tidak begitu menguras otak. "Sashi... mana Sashi?" Suara Robert membuat Sashi mengangkat kepalanya dari gelas cangkir berisi cappuccino. "Yap, gue di sini." "Loh ngapain di situ?" tanya Robert sambil menghampiri Sashi. "Ya abis mau ngapain lagi. Udah bikin dessert yang banyak juga. Ada apa?" "Ohh, nggak. Ini kan udah mau jam pulang, gue nanti ikut lo baliknya barengan. Mobil gue di bengkel." "Ya bolehlah, itu kan mobil lo juga." "Iya, cuman ini gue lagi ada urusan dulu bentaran. Lo nunggu dua puluh menitan gapapa kan?" "It's oke. Gue tunggu di sini aja." "Ya udah gue balik dulu ke dalem. Lo pesen makan aja sama Chef Made sambil nungguin gue, ya." "Iya gampang." Sashi meneruskan kegiatan latte art-nya setelah Robert berlalu. Sementara Jack masih melayani banyak pesanan yang disampaikan oleh beberapa waiters. Mora juga tampak sedang sibuk membereskan beberapa barang yang sudah mereka pakai dan hendak bersiap-siap pulang. Gadis itu tinggal di sebuah kosan yang berjarak lima menit dari klub. Ia sharing kamar bersama temannya yang bekerja di hotel sebagai therapist spa. "Sash, kalo mau makan di buffet ada spagheti brulee, tinggal panasin di microwave aja," ujar Chef Made yang sudah membuka hatcook-nya. Jam kerja beliau sudah selesai. "Wahh.. thank you, Chef. Nanti aku ambil satu, ya," jawab Sashi sambil nyengir. Ia pernah menyicip spagheti brulee buatan Chef Made dan rasanya memang enak sekali. "Kamu juga ambil aja, Jack, masih banyak lebih di lemari, daripada ga ada yang makan." "Siap, Chef. Thank you!" jawab Jack sambil melap tangannya dengan serbet. Satu per satu orang-orang yang ada di bagian kitchen pamit pulang. Jack berkata, ia akan menemani Sashi hingga Robert selesai dengan urusannya. Sashi pun membereskan semua alat-alat latte art dan memerhatikan Jack yang sedang membuat beberapa jenis kopi pesanan terakhir. Jadi jika Sashi selesai dengan pekerjaannya, mungkin nanti ia bisa membantu Jack menyiapkan pesanan. "Udah selesai, kan? Kita makan sppaghetinya Chef Made, yuk, di teras belakang.Robert kayaknya sepuluh menitan lagi selesai." "Ayok, mau sekalian minum kopi, ga?" Sashi mengangguk penuh semangat. "Boleh boleh... aku mau hazelnut frappuccino, tapi esnya dikit aja." Sementara Jack membuat kopi untuk mereka berdua, Sashi mengambil spagheti brulee untuk dipanaskan di microwave. *** Pantang bagi Jio untuk beristirahat jika pekerjaannya belum selesai. Ia hanya berhenti jika harus ke kamar mandi atau dipaksa makan oleh Noni. Jika punggungnya sudah teramat pegal, Jio akan merebahkan diri dengan menurunkan sandaran kursi. Biasanya dia akan tertidur jika benar-benar lelah. Jio merasa ketiduran yang tidak sengaja seperti itu kualitasnya lebih baik meskipun hanya satu atau sampai dua jam. Revo yang sudah dua malam menemaninya, dini hari tadi pamit pulang karena istrinya menelepon. Ia sudah tidak bisa seperti dulu yang bebas menghabiskan waktu di luar. Dua malam sudah cukup bisa ditoleransi, kecuali memang pekerjaan yang sangat urgent. Jio yang terbangun dari tidurnya, langsung melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia pun membuat kopi untuk doppingnya bekerja. Semua sudah hampir selesai. Tinggal mastering yang belum ia kerjakan. Jam pagi begini kantor tampak sangat sepi. Semua orang masih tidur karena biasanya orang-orang kantor mempunyai jiwa night owl. Ketika sedang menuangkan air mendidih dari teko listrik ke dalam cangkir berisi kopi, terdengar suara mobil yang terparkir di halaman. Jio sudah hapal suara mobil tersebut, yaitu milik Renata. Semalam wanita itu memang memberitahu akan datang pagi-pagi membawakan lontong. Renata sudah jarang menginap di kantor. Ia mengaku tidak nyaman dekat Noni yang tampak begitu membencinya. Jio sudah membukakan pintu sebelum Renata turun dari mobil. Ia menyeruput kopinya sambil melambaikan tangan. "Kamu belum tidur juga?" tanya Renata pura-pura marah. "Ketiduran tadi, kok. Nih baru bangun, langsung bikin kopi. Mana lontongnya?" "Nih, untung masih buka. Sekalian aku beli ketan pisang juga kesukaan anak-anak." Renata menyerahkan sekantung plastik berisi banyak makanan untuk sarapan. "Mereka masih pada tidur, kali." "Ya ga apa-apa, simpen aja dulu." "Kamu bawain mangkuk, ya, aku mau makan di studio aja, sambil dengerin hasil mixing semalem," pinta Jio. "Oke." Renata mengambil mangkuk dari buffet kitchen, lalu mengikuti Jio ke ruang studio. Di sana tercium bau asap rokok yang membuat Renata ngomel, apalagi dalam keadaan AC menyala. "Kebiasaan banget sih kamu ini." "Si Revo tuh yang ngerokok." "Kamu juga! Ayo ngaku, kamu kalo udah sama Revo itu udah kayak partner in crime banget. Dua-duanya sama aja!" "Hehehe... ya maaf." Jio membuka plastik lontongnya dan menuangkan ke dalam mangkuk. Sesudah menyuapnya sedikit, ia merasa kecewa karena rasanya kurang dari ekspektasi. Ketika semalam ia bilang kepada Renata bahwa dirinya sedang ngidam makan lontong, sesungguhnya Jio sedang merindukan lontong buatan Sashi yang sangat enak. Lontong padang buatannya selalu membuat ia memuji Sashi terus-terusan. "Enak ga?" tanya Renata. Jio mengangguk pelan. "Lumayan." "Eh kamu belum belum ngambil minum, ya? Mau aku ambilin?" "Bikinin teh panas dong, kalo ga ngerepotin." "Oke, bentar." Jio sangat tidak berselera untuk menghabiskan lontongnya. Jadi ia menyingkirkan mangkuk tersebut dan mulai menyalakan lagi applikasi musiknya sambil memejamkan mata, memilah mana saja yang kurang atau berlebihan. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Renata sudah kembali dengan segelas besar teh panas dan langsung menyerahkannya pada Jio. Namun, lagi-lagi Jio kecewa karena airnya terlalu panas dan gulanya terlalu banyak. Jio merindukan teh buatan Sashi yang panasnya pas dan tidak terlalu manis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN