Salad

1003 Kata
Ternyata Robert baru menyelesaikan urusannya tiga puluh menit kemudian. Untungnya Sashi ada teman mengobrol. Ia dan Jack membicarakan tentang menjadi seorang barista dan membolehkan Sashi membantunya jika memang sedang tidak ada yang harus dikerjakan lagi. "Thanks ya, Jack, udah nemenin. Pokoknya besok gue mau belajar cara ngeracik kopi yang enak," ujar Sashi sambil beranjak menghampiri Robert. "Sama-sama." Jack ikut beranjak sambil mematikan puntung rokoknya. "Lo balik pake apa?" "Bawa motor, kok, gue parkir di depan." "Oke deh hati-hati, parkiran gue di belakang. Kita duluan, ya. Byeee..." "Sip, bye!" Robert menggandeng lengan Sashi. "Sorry ya lamaa..." "Iya gapapa, ngapain emang? Meeting?" "Ya gitu deh... ada bos besar, banyak hal yang perlu dibahas." Mulut Sashi membentuk huruf O. Ia langsung teringat akan cerita Mora tentang Bella dan si Bos Besar. Apakah tadi Robert dan orang itu membahas tentang menghilangnya Bella? "Ngebahas apaan emang?" tanya Sashi pura-pura kepo. "Ya tentang kerjaan. Prospek soal klub ini ke depannya mau kayak gimana." "Gue liat klubnya rame terus, kok. Pesanan makanan sama minuman juga kayaknya banyak terus." "That's not enough for them. Gue sebenernya lagi ngusahain pinjem duit ke bank biar cepet terbebas dari orang-orang b*****t ini.Semoga aja cepet acc," ujar Robert setengah berdoa. "Apa mereka minta yang aneh-aneh lagi?" tanya Sashi masih penasaran. Karena ia melihat kesuraman dan kebingungan di wajah Robert. Sashi berniat ingin membantu mencari jalan keluar. Robert pun menghela napas. "Ceritanya panjang banget, Sash. Nanti lah besok siang atau lusa kita ngobrol di luar sambil ngopi. Kalo sekarang ntar kedengeran sopir gue pula," jawab Robert ketika mereka sudah mendekati mobil. Keduanya pun masuk ke dalam kendaraan tersebut dan duduk di kursi belakang. Di luar parkiran banyak orang yang bersiap pulang. Terdapat pula pria dan wanita yang sudah teramat mabuk sedang dibopong oleh teman-temannya. Namun ketika mobil sudah melaju, jalnan di depan masih sangat lengang. Sashi mulai mengantuk. "Lo kapan-kapan maen ke rumah gue, dong. Kita masak-masak." "Boleh. Waktu gue fleksibel, kok di luar jam kerja karena emang ga ada lagi kegiatan lain." "Ya udah, lusa deh ke rumah gue, sekalian gue cerita pembahasan tadi. Kalo besok rencana mau ngurusin yang tadi ke bank." "Oke," jawab Sashi. "By the way, lo punya info kos-kosan, ga, di deket klub? Kemaren gue udah nanya Mora, tapi di kosan dia udah full." "Loh kenapa pindah?" "Pengen ajaa... gue ga enak sama yang punya rumah kalo numpang gratisan. Dia mau dibayar aja ga mau, jadi gue serba salah." Robert tertawa. "Yailah... itu sih udah rejeki lo, ga usah ditolak. Kalo ada orang yang mau berbaik hati, ngapain kita nyusahin diri?" Sashi tidak memberitahu perihal Jeff yang menganggapnya sebagai wanita penghibur, begitupun dengan Alina, pacar Jeff, yang terang-terangan ingin Sashi pindah dari tempat itu. "Ya kan tahu sendiri gue orangnya ga enakan. Mumpung sekarang gue udah punya gaji tetap dan royalti dari House of Skills juga masih cair, jadi niatnya mau cari kosan aja." "Banyak, sih, nanti coba gue tanyain ke temen-temen gue." Sashi mengangguk. Meski ia sendiri yakin bahwa masih berat untuk meninggalkan rumah Jeff. Namun ia tidak mau Alina menganggapnya tidak tahu diri. *** Berkat vitamin yang diberikan oleh Soni, pagi ini Jeff terbangun dalam keadaan segar. Kepalanya sudah tidak begitu berat dan badannya kembali kuat. Jeff menggeliat. Ia menengok ke jendela dan menebak bahwa hari itu sudah pukul sebelas siang. Ia pun membersihkan diri ke kamar mandi dan akan meminta Bu Putu membuatkannya roti lapis bakar. Hanya itu yang sejauh ini bisa Jeff nikmati hasil dari buatan asistennya tersebut. Namun ketika Jeff sudah selesai mandi dan membuka pintu kamar, terdengar celotehan dari ruang tengah. Ada suara Franky dan seorang wanita yang sedang tertawa. Itu suara Sashi, dan Jeff heran mereka sedang apa. Ternyata Franky dan Sashi sedang bermain PS, sementara Soni menjadi penontonnya yang menyoraki mereka berdua. Mereka tidak tahu Jeff tengah memperhatikannya dari belakang. Ia bertanya-tanya bagaimana mungkin Sashi tiba-tiba bisa bermain PS dengan Franky. Apa temannya itu sengaja mengetuk kamar Sashi, atau Sashi yang sengaja datang kemari? Apa wanita itu tidak sungkan jika tahu bahwa Jeff mengetahui pekerjaan dia sebenarnya? Jeff berdehem sambil menghampiri orang-orang itu. "Siang." Franky melihatnya sekilas dan kembali fokus ke layar televisi. "Eh Broo... udah bangun? Gimana, udah enakan?" "Lumayan, berkat vitamin dari Soni. Beneran, emang sekarang gue jadi ngerasa segeran," kata Jeff pada Soni. "Gue nitip beli lah dua botol." "Oke, nanti gue beliin." "Ih... ya kalaaah!!" seru Sashi cemberut. Franky dan Soni tertawa. "Akhirnya bisa dikalahin juga." Sedari tadi, Franky merasa geram karena Sashi terus-terusan menang. "Hahaha dah dulu deh." "Oke," jawab Sashi. "Jeff, mau salad ga? Tadi aku bikin salad buah pake oatmeal." "Enak, Jeff. Seger deh lo makan itu," kata Soni sambil menepuk paha Jeff. "Oh, boleh." Sashi pun pergi ke dapur untuk mengambilkan salad buah. Sementara Jeff setengah berbisik pada Soni. "Lo kenapa bawa dia ke sini?" "Lah emang kenapa? Dia anaknya asik, kok. Tadi kami ketemu pas lagi jogging di pantai. Dia lagi nyiram bunga. Ya diajak ngobrol lah, berakhir dia nawarin buat bikinin kami sarapan." "Dia hapal sama lo, ga? Kan kalian pernah ketemu di klub." Franky mengangguk. "Iya dia hapal. Gue minta maaf karena udah ganggu dia waktu itu, dan dia ga masalah. Ya orangnya emang cuek, kali. Kerjaan kayak gitu di sini itu udah hal yang lumrah. Banyak cewek yang kepepet mau kerja apa aja demi memenuhi kebutuhan hidup." "Tapi tetep aja, lo jangan sampe maen sama dia. Gue serius soal itu," ujar Jeff, meski ia sendiri tidak tahu alasan sebenarnya. "Iya iyaaa... lagian ga enak juga lah dia diem di sini, ntar malah jadi awkward. Palingan juga gue minta maen PS aja sama dia. Hehehe" Franky menutup mulut ketika Sashi kembali membawa semangkuk salad dingi dan segelas air putih. "Nih, kebetulan kemaren aku belanja banyak buah dan masih banyak stock. Jadi aku bikin salad aja." "Thanks," jawab Jeff. Isi mangkuk tersebut sangat menggugah selera. Ada strawberry, anggur hijau, potongan jeruk sunkist, melon, apel, serta daun mint. Di bawahnya dilapisi oatmeal yang diaduk dengan s**u. Jeff menikmatinya suapan demi suapan. Sementara Soni mulai membicarakan mengenai eclaire. Sahabatnya itu bahkan meminta Sashi memberitahu resepnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN