Before

1006 Kata
Sashi sama sekali tidak bisa menolak ketika Franky dan Soni pagi-pagi tadi mengajaknya minum kopi. Ia sedang menyiram bunga dan bangun lebih cepat karena bermimpi buruk hingga bersimbah keringat. Begitu selesai mencuci muka, rasanya Sashi tidak lagi merasakan kantuk dan lebih memilih menghirup udara segar pada jam delapan pagi ketika sinar matahari masih terasa hangat. "Hey, kamu Sashi yang sewa rumah itu, kan?" tanya Soni pagi tadi yang memakai kimono tidur berwarna navy. Sashi menghentikan siraman airnya. "Oh iyaa... temennya Jeff, ya?" "Yaps, gue Soni." Tidak lama kemudian, Franky muncul bertelanjang d**a dan hanya mengenakan celana sepanjang lutut. Rambutnya yang agak jabrik dikucir ke balakang. "Eh, Sashi, kan?" Sashi lagi-lagi mengangguk. Mengapa kedua pria itu tahu namanya? Memang, ia yakin bahwa Jeff yang memberitahunya. Tapi ia hanya penasaran apa yang dikatakan Jeff mengenai dirinya pada mereka, sehingga mereka menatapnya begitu antusias. "By the way, inget aku ga? Beberapa malam lalu kita ketemu di klub." Dahi Sashi mengernyit, karena ia memang merasa familiar dengan sosok Franky. Ketika pria itu menyebutkan klub, dirinya langsung teringat. Karena selama di Bali, Sashi hanya menginjakkan kaki di klub hanya sekali, ketika mengantarkan dessert. Jadi Franky adalah pria yang mengajaknya berkenalan dan ingin mentraktir minum. "Ahh, iya iyaaa... aku inget! Wah ga nyangka ternyata kamu temennya Jeff, ya?" "Sobat dari kuliah," jawabnya sambil tersenyum lebar. "Kamuu... mau sarapan? Eh tapi kami ga ada apa-apa, cuman ada kopi. Maklum yang punya rumah masih tidur." "Gimana Jeff, apa udah baikan?" Soni menjawab. "Udah enakan kayaknya. Kemaren aku kasih vitamin yang bagus. Makanya tidurnya nyenyak dari semalem." Sashi mengangguk. "Oh syukur deh kalo gitu. Kalian sama sekali belum sarapan? Mau aku bikinin salad?" Soni dan Franky mengangguk penuh semangat. "Boleh banget kalo ga keberatan. Soalnya nungguin Bu Putu dari tadi ga dateng-dateng." "Bu Putu biasanya dateng jam sebelas. Bentar ya, aku beresin ini dulu, sekalian ambil bahan-bahannya di kulkas." "Okey, siaap!" Sashi mengangkat kotak berisi vitamin tumbuhan dan beberapa bibit bunga untuk ditaruhnya di samping rumah. Ia juga menggulung selang air, lalu digantung di dahan pohon . Setelah semua sudah kembali ke tempatnya, ia pun pergi ke kamar untuk mengambil buah-buahan di kulkasnya. Ia sempat berpikir bahwa Franky mungkin saja mengenalnya sebagai wanita penghibur. Hal tersebut menguatkan pemikiran Jeff yang juga mempunyai anggapan sama terhadap Sashi. Namun Sashi sudah memutuskan untuk tidak peduli. Biarkan saja mereka bermain dengan pikirannya sendiri. Ia tidak perlu menmbuktikan bahwa dirinya hanyalah seorang pembuat dessert yang akan beralih haluan menjadi seorang barista juga. Sashi membawa semangkuk besar buah-buahan ke dapur Jeff, di mana Soni dan Franky sedang duduk di meja makan sambil menyesap kopi. Di kulkas, ia juga menemukan oatmeal, s**u dan yoghurt yang cocok dipadukan dengan saladnya. "Mau sekalian dibikinin roti atau pancake?" tawar Sashi. "Oh ga perlu, jangan ngerepotin. Salad aja cukup, kok. Kami orang-orang sehat," canda Franky sambil tertawa. "Mau dibantuin potong buah?" Soni menawarkan diri. Sashi tidak menolaknya, karena ia mencoba untuk berbaur supaya tidak begitu canggung. Ternyata teman-temannya Jeff sangat humoris dan cukup sopan. Mereka mengobrolkan banyak hal, hingga Sashi tahu bahwa Soni sudah menikah dan Franky di Bali hanya berlibur. Setelah saladnya selesai diracik, Soni dan Franky masih seru mengobrol dengan Sashi dan mengajaknya untuk bermain PS. Saat itulah Jeff datang dan Sashi menikmati keheranan di wajah pria itu. *** Entah mengapa mood Jio jadi berubah sejak Renata datang. Ia jadi tidak begitu bersemangat mengerjakan masteringnya dan sedari tadi hanya memutar ulang lagu yang sudah dimixing. Sementara Renata sendiri sedang duduk di sofa dengan keki ditumpangkan ke atas meja. Jio teringat perkataan Noni sebelumnya yang menuntut supaya bukti utang piutang itu segera diperlihatkan. "Ren, kamu mau aku anter ke bank?" tanya Jio tiba-tiba. Renata mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Ngapain ke bank?" "Print buku tabungan kamu lah. Kan harus ngasih bukti kalo Sashi belum bayar utangnya ke kamu." Wajah Renata langsung berubah. "Ohh... aku udah bilang Noni, kalo utang Sashi udah aku ikhlasin. Jadi ga usah dibahas lagi." Jio mengembuskan napas sedikit kesal. "Bukan masalah ikhlasin atau nggak. Anak-anak kan harus liat buktinya, omongan kamu bener atau nggak. Ga ada yang tahu loh kalo Sashi ada utang sama kamu.Logika aja, kenapa dia harus ngutang segitu banyak, padahal duitnya ada." Renata menyimpan ponselnya dengan geram. "Anak-anak atau Noni aja yang nuntut minta bukti? Kamu sendiri percaya ga sama aku? Kok tega banget pada nuduh aku fitnah Sashi. Aku juga ada duit, ngapain harus fitnah-fitnah segala." "Makanya aku mau anter kamu ke bank buat kasihin bukti ke mereka supaya clear. Kalo kamu ga mau, ya jangan salahin mereka kalo nuduh kamu ngada-ngada soal utang itu." "Aku karena mereka nganggep aku bohong duluan, makanya aku males ngurusin. Ya udah lah itu terserah mereka mau percaya atau nggak. Aku males kalo harus ngantri berjam-jam di bank cuman buat buktiin kalo omongan aku bener." Jio berdecak. "Terserah kamu lah. Kamu kayak gitu, jadi akunya yang malu, tau?" Renata sontak berdiri. "Oh jadi kamu malu? Bukannya usaha belain aku, kamu malah sama aja kayak mereka anggep aku tukang fitnah?" "Aku cuman mau kamu nunjukin PROOF!! Then everything is clear. Kamu malah lebih suka dituduh jelek daripada harus ngantri di bank?" Renata pun pergi sambil ngedumel. "Udah lah percuma juga aku di sini. Kalo kamu emang malu gara-gara aku, aku ga akan dateng ke sini lagi. Dan tolong jangan cariin aku!" Pintu studio ditutup dengan sangat keras. Jio tidak ada keinginan untuk menyusul dan membujuk Renata supaya kembali. Ia hanya mendelik kesal. Karena ia tahu, Sashi tidak mungkin akan berhutang sebanyak itu. Sashi tidak pernah mau menyimpan uang milik orang lain lama-lama. Ia selalu ingin semuanya beres dan diselesaikan dengan cepat, dalam hal apa pun. Pintu kembali terbuka. Ternyata Emil yang baru bangun tidur. "Ngapa, Ji? Kok pada tereak-tereak?" "Kedengeran, ya?" "He-eh." "Ga ada apa-apa. Biasalah masalah kecil. Sorry ya jadi kebangun." "Gapapa, nyantai. By the way, gue boleh nanya sesuatu ga?" "Apa tuh? "Lo sama Renata, apa udah berhubungan sebagai pacar gitu? Jio tersenyum miris. "Entah, gue juga belom tau. Yaaa.... kita emang deket, cuman sama-sama belum mendeklarasikan sebagai pacar. Kenapa, Mil, apa lo ga suka kalo gue pacaran sama Renata?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN