Sashi pamit kembali ke kamarnya karena kembali mengantuk, apalagi setelah Soni memesan bebek betutu dan mereka makan berempat di meja makan. Kini perutnya kekenyangan. Selama di Bali, Sashi akhirnya bisa tertawa lepas karena kelucuan Franky. Ia masih mempunyai waktu sekitar tiga jam untuk tidur, sebelum pergi bekerja. Rasanya ingin bolos saja, namun Sashi sudah berjanji pada Franky bahwa ia akan belajar menjadi seorang barista.
Namun ketika sudah merebahkan diri di atas kasur, matanya susah untuk terpejam. Sashi pun membuka ponsel dan membuka akun i********:, karena sedari kemarin merindukan suasana kantor. Dibukanya akun House of Skills dan melihat-lihat update-an terbaru. Sashi senang karena mereka sudah mulai sibuk dan mengerjakan beberapa job. Di sana ada foto Jio sedang mengenakan kaus buntung dengan topi baseball yang dibalik, sedang memegang mouse, semnatar matanya fokus ke layar iMac. Di sebelahnya ada Revo yang sedang memainkan gitar. Jika dua orang itu sedang sibuk di studio, biasanya Sashi akan menawarkan camilan yang ia buat sendiri. Jio sangat menyukai cookies yang masih hangat dan seringkali meminta dibuatkan oleh Sashi.
Di foto lainnya, Wiggy dan Shaki sedang mengecat bagian ruang tengah yang biasa mereka gunakan untuk menonton bersama. Betapa Sashi merindukan kedua temannya itu, terutama Wiggy. Ingin rasanya Sashi terbang sekarang juga dan mendatangi kantor House of Skills. Namun ia sudah terlanjur berbohong. Sashi takut jika teman-temannya akan kecewa karena mempermainkan hal sebesar itu.
***
Bu Putu sibuk membereskan bekas makanan yang tadi dinikmati oleh Jeff, Sashi, Soni dan Franky. Ia membuang seluruh sampah dan mencuci piringnya hingga bersih. Meskipun ia sempat protes kepada Jeff karena memesan makanan dari luar.
"Padahal loh saya ini abis belanja di pasar, beli ayam, kangkung, telur buat masakin kalian. Eh malah pesen di luar," ujarnya.,
Soni yang tadi memesan bebek betutu langsung ppura-pura merasa bersalah. "Wah, Bu... jangan ngerepotin. Takutnya Ibu capek masak buat tiga orang."
"Loh kan itu udah jadi tugas ibu. Kalo semua udah beres, ya ibu ini planga plogo aja. Makanya tadi mau masak aja."
"Ya udah besok kita masak. Sekarang bahan-bahannya taruh di kulkas. Bu Putu juga makan bebek betutu hari ini, tadi saya beli lebih soalnya."
"Jadi itu buat saya aja?" tanya Bu Putu sambil menunjuk piring berisi bebek yang menggiurkan.
"Iya buat Ibu. Silakan dimakan, besok aku janji mau makan masakan ibu aja."
Setelah berhasil membujuk Bu Putu, Soni pun kembali ke ruang tengah. Kini Franky dengan Jeff yang bermain PS dengan berisik seperti anak kecil.Lalu suara telpon terdengar dari kamar.
"Jeff, itu handphone lu kayaknya bunyi," kata Soni.
Jeff langsung beranjak pergi ke kamarnya untuk mengangkat telepon dari kedua orangtuanya yang mengabarkan bahwa mereka akan sampai di Bali dalam waktu tiga hari lagi.
[Oke, Mam, see you later.]
[Oke, honey, have a good day! Salam buat Soni dan Franky.]
Jeff lumayan bersemangat karena akhirnya surprise untuk anniversary pernikahan orangtuanya akan terealisasi dalam waktu dekat. Ia sama sekali belum memberitahu perihal cottage yang diberi nama mereka. Jeff yakin, ibunya yang gampang terharu pasti akan menangis untuk beberapa saat.
"Siapa, Bro?" Alina?" tanya Franky ketika Jeff kembali ke ruang tengah.
Jeff duduk di sofa, memutuskan untuk tidak melanjutkan permainan PS-nya. "Bukan, nyokap gue katanya tiga hari lagi dateng. JAdi mesti siap-siap dari sekarang, itu cottage mau dihias kayak gimana."
"Cari event organizer aja," kata Soni. "Mau gue cariin?"
Franky menimpali. "Ga usaaaah.... kita kita aja yang layout buat party-nya. Sesuatu akan lebih intim jika kita sendiri yang mengerjakan tanpa campur tangan orang lain. Karena apa yang kita buat, itu adalah cara penyampaian yang unik, sebesar apa kasih sayang kita untuk mereka yang dibuatkan surprise."
Soni tertawa singkat mendengar penjelasan Franky yang sok serius. "Ya udah pikirin aja dulu mau dibikin tema apa. Abis itu, baru deh beli peralatannya."
Jeff mengangguk. Ia hanya butuh satu hari lagi untuk memulihkan badannya. Sayang sekali Alina keburu pulang, hingga rencana Jeff untuk melamar di hadapan orangtuanya menjadi hancur berkeping-keping. Namun ia tetap akan memberitahu ayah dan ibunya bahwa dalam waktu dekat, ia akan melamar kekasihnya.
***
Sepertinya alam hanya beberapa hari saja membuat Noni bahagia, karena hari ini ia kembali dibikin kesal karena sewaktu bangun tidur dan menuruni tangga, suara Dixie yang menyebalkan kembali terdengar.
"Hai, Kak Noni... apa kabar?"
Noni terpaksa memberi senyum palsu. "Baik."
"Oya, Kak. Nanti aku ada yang mau diomongin sebentar, ya."
Noni yang hendak ke dapur, langsung menghentikan langkah. "Ngomongin soal apa?"
Dixie pun menghampiri Noni dan menariknya ke arah dapur. "Aku mau nanya. Kak Sashi ada simpan kotak perhiasannya di sini, ga?"
"Kotak perhiasan?" Noni langsung teringat pada kotak berisi berlian yang diminta Sashi untuk dikirim ke Bali. Perhiasan tersebut adalah pemberian ibunya. "Oh, kayaknya ga ada deh."
"Yakin, Kak? Mamaku bilang, Kak Sashi ada punya kotak perhiasan gitu. Ga mungkin dia jual, kan? Jadi kalo boleh sih, mau aku simpen aja di kamarnya dia. Jangan dikasih ke Arin semua. Kan dia udah dapet banyak duit. Lagian ya, Kak, semalem itu aku mimpiin Kak Sashi."
"Mimpi gimana?" tanya Noni skeptis.
"Ya gitu, dia nangis-nangis, pengen nitipin beberapa hartanya sama aku. Katanya pengen aku yang jaga baik-baik. Makanya aku tanya sama mama papa, memangnya Sashi punya kotak perhiasan, dan mereka bilang iya. Berarti aku emang diutusin buat simpen barang itu, Kak. Gimana kalo kita cari aja di kamarnya?"
Duh, itu kan cuman mimpi, kenapa baper? Aku aja sering mimpiin Tom Holland ga ada sangkut pautin sama keadaan real life."
"Ya tapi kan siapa tau itu energinya Kak Sashi yang emang masih inget sama aku. Dia ngerasa salah karena ga niggalin apa-apa buat aku."
Noni tersenyum kecut. Sashi pasti akan terbahak-bahak jika mendengarkan apa yang disampaikan oleh adik tirinya itu
"Ya udah ntar kita cari aja, lagian kayaknya ga ada deh."
"Aku yakin pasti ada, entah itu tersembunyi dimana-mana, yang pasti ga mungkin Kak Sashi bawa kotak perhiasan segede itu buat dibawa ke Bali, kan?
"Oke, nanti kita cari sama-sama. Udah ya, gue mau sarapan dulu."
Noni pun pergi ke dapur. Ia benar-benar tidak bisa lagi mempercayai orang. Pertama Renata, dan sekarang Dixie yang memanfaatkan kematian Sashi dengan memfitnahnya. Noni yakin bahwa mimpi Sash menitipkan hartanya itu hanyalah mengada-ada.