Trust Issue

1008 Kata
Soni pamit pulang setelah yakin kondisi Jeff jauh lebih baik. Begitupun dengan Franky yang akan menemui teman-teman bulenya di salah satu restoran pinggir pantai. Jeff akan tetap di rumah sampai orangtuanya datang dan akan pergi ke cottage bersama. Soni mengatakan bahwa ia yang akan mengurus semua persiapan untuk menyambut kedatangan kedua orangtua Jeff. Jeff percaya temannya tersebut mampu mengurus semuanya dengan baik. Ia hanya heran mengenai kejadian tadi pagi, melihat kedua sahabatnya yang tiba-tiba akrab dengan Sashi. Selama Jeff berhubungan dengan Alina, tidak pernah sekalipun pacarnya itu terlihat berbaur dengan Soni maupun Franky. Alina memang sering mengobrol, namun semuanya tampak formal, seperti ada dinding pembatas antara Alina dan sahabatnya Jeff. Namun akhirnya Jeff berpikir karena semua tergantung dengan karakter. Sashi, dengan pekerjaannya yang seperti itu, memang sudah terbiasa untuk beradaptasi dengan pria. Jadi tidak perlu dipertanyakan lagi. "Pak Jeff, sebelum saya pulang, mau dimasakin apa dulu buat makan malem nanti?" tanya Bu Putu. "Ga perlu, Bu. Saya lagi pengen masakan china, nanti biar pesen online aja." "Mau pesen atau Ibu masakin aja? Kan bisa lihat tuh resepnya di YouTube." Jeff langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Waduh, jangan deh, Bu. Kalo bikin pertama kali kan suka banyak yang gagal, lagian masakan china itu ribet. Ibu besok aja masaknya, bikin ayam goreng sama kangkung. Sama sambal matah juga, ya." Bu Putu tampak kecewa, namun Jeff benar-benar harus menolaknya karena ia tidak mau masakan Bu Putu jadi mubazir. Jika sedang sakit seperti ini, Jeff mesti makan yang enak di lidah. Ia masih mempunyai trust issue terhadap masakan-masakan asistennya tersebut. "Oh iya, mama sama papa mau dateng tiga hari lagi. Nanti lusa Bu Putu bisa ke cottage bantuin Soni siapin surprise party di sana, ya. Wayan sama adek-adeknya juga ajakin aja sekalian, saya udah janji. Biar mama juga ada temen. Dia kan suka rame." "Wah, ya bener, Pak? Aduh udah lama saya ga ketemu mamanya Pak Jeff. Ya udah kalo gitu lusa saya ke sana sama Wayan." "Oke, nanti saya suruh salah satu pegawai di sana jemput Bu Putu. Bawa baju ganti jangan lupa, ya. Nginep di sana aja temenin mama papa selama di sini. Anak-anak juga sekalian refreshing, ada kolam renang di sana." Bu Putu tersenyum riang, sudah tidak tampak lagi kekecewaan di wajahnya. "Wah, pasti pada seneng banget mereka bisa berenang sepuasnya. Sashi juga ikut?" Jeff teringat bahwa ia juga sempat mengajak Sashi. Namun mengingat Sashi bekerja, ia tidak tahu bahwa Sashi bisa datang atau tidak. "Ya, nanti saya bilang sama dia kalo bisa datang." "Tapi ini Pak Jeff beneran udah sembuh apa belum? Saya masih harus nemenin ibu saya di rumah sampai besok. Atau saya minta Sashi lagi yang jagain?" "Eh jangan, dia kerja. ga enak kalo harus nyuruh bolos. Saya udah baikan, kok. Buktinya udah bisa jalan dan ga muntah-muntah lagi. Bu Putu ga usah khawatir, pulang aja temenin neneknya Wayan. Udah ga ada kerjaan lagi juga kan di sini? Besok kalo mau ga usah dateng juga, biar bisa istirahat dulu sebelum lusa ke cottage." "Loh kan besok saya mau masakin ayam buat Pak Jeff." *** Sudah hampir satu jam Noni menemani Dixie mencari boks perhiasan milik Sashi, meski sebenarnya sangat percuma karena benda dan isinya tersebut sudah Noni kirim ke Bali, ke si empunya barang. Namun tentu saja Noni tidak bisa berkata seperti itu, jadi ia rela membuang-buang waktu demi hal tersebut. Ia juga sangat geram karena Dixie sangat terobsesi dengan barang milik Sashi. "Kali aja dia bawa barangnya ke Bali," kata Noni, yang sebenarnya ingin Dixie segera keluar dari kamar. "Ga mungkin, kata mama itu kotak gede banget. Buat apa coba Kak Sashi bawa-bawa barang begituan." "Ya kan selama muat di koper, pasti mungkin-mungkin aja." Dixie tampak kesal, hingga ia duduk di kursi kerja milik Noni sambil cemberut. "Kamu emang ga ada ambil atau lihat barangnya di mana?" "Hah? Gimana gimana? Aku aja baru denger soal kotak itu dari kamu. Sorry ya, aku ga ada ambil barang-barang milik Sashi, kecuali laptop karena semua job dan deadline House of Skills ada di sana semua. Bisa kamu lihat sendiri itu semua makeup, baju atau barang pribadi milik Sashi masih tersimpan rapi, ga ada yang akan atau mau aku ambil." "Atau Bang Jio yang ambil? Bisa aja, kan?" Dixie terus memaksa. "Ya tanya aja sendiri ke orangnya. Setahu aku, sejak Sashi ga ada, dia ga pernha masuk kamar ini. Aku juga tiap pulang selalu bawa kuncinya." Dixie tampak mengembuskan napas kecewa. Noni menikmati semua itu dan tidak sabar untuk memberitahu Sashi. "Oya, Kak. Emangnya file kerjaan Kak Sashi ga bisa dipindahin ke laptop atau komputer lain, ya? Jadi MacBook itu aku bawa aja." "Duh, ga tahu, ya, nanti deh kalo itu nunggu Jio bangun. Kamu bahas aja sama dia, soalnya barang-barang buat keperluan kantor itu punya mereka berdua. Emang kamu ga bisa beli, ya, minta sama papanya Sashi?" "Ayah udah beliin, sih, tapi aku ga suka merk-nya." "Ya pake aja yang ada. Aku ga yakin ini bisa dibawa pergi." "Sama sekalian baju-baju dia di sini mau aku sortir buat dibawa. Tapi kok aneh, ya, bajunya Kak Sashi juga cuman dikit di sini. Banyak yang ga ada." Noni memijat pelispisnya, tidak tahu harus menjawab apa. "Kan kemaren kami ke Bali, Sashi bawa berkoper-koper barang, termasuk baju." "Tapi kayaknya di lemari ini dikit banget, lemari yang di rumah juga bajunya kak Sashi cuman dikit. Padahal kan dia suka gonta ganti baju yang bagus-bagus. Emang bawa berapa koper sih ke Bali?" "Dua, kali. Ga tahu juga gue ga merhatiin kayak lo." Dixie sepertinya tidak tampak tersinggung dengan perkataan Noni. "Siapa sih yang suka keluar masuk kamar ini? Di sini apa ada cctv?" Noni sudah kehabisan rasa sabar. "Ga ada orang yang ambil barang Sashi di sini. Lagian kok kayaknya hapal anget barang-barang Sashi. Aku sendiri berani sumpah pocong, demi apa pun ga ada ambil barang-barang dia." Noni kesal karena Dixie melihatnya dengan penuh curiga. Ia memang bisa menjadi tersangka utama jika barang Sashi hilang, karena hanya dirinyalah yang mempunyai akses keluar masuk kamar Sashi. "Ya udah deh, nanti aku ke sini lagi buat ambil baju-bajunya karena sekarang mau ke kampus dulu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN