Sashi merutuki Dixie begitu mendengar cerita dari Noni. Meskipun tidak heran jika adik tirinya itu sangat terobsesi dengan barang-barangnya. Sudah sering Sashi perhatikan, jika Sashi memakai baju atau sepatu baru, beberapa hari kemudian, Dixie mempunyai barang yang sama.
“Sorry ya, Non, gara-gara gue, lo malah jadi dicurigain sama dia.”
“Udah gapapa, nyantai aja. By the way, kayaknya bisa nih bulan depan gue ke Bali sekitar empat hari stay di sana.”
“Serius? Asik! Nanti gue cariin hotel atau kalo perlu kita nginep di cottage-nya Jeff.”
“Who is Jeff?”
“Jeff yang rumahnya gue tumpangin sekarang.”
Noni langsung menepuk jidatnya sendiri. “Oh iya, kok tiba-tiba lupa gue. Emang dia punya cottage?”
“Punya, baru aja selesai pembangunannya. Cottagenya di daerah Ubud, pasti bagus deh. Gue juga belum ke sana, sih.”
“Eh, lo ga bisa apa fotoin mukanya si Jeff itu? Gue penasaran kayak gimana orangnya.”
Sasi tersenyum. “Nope. Gue gam au liatin dia. Hehehe… lo bayangin aja cowok tinggi berotot, body oke, matanya tajam tapi hangat dan punya senyum yang menawan. That’s actually him.”
“Ganteng banget, ya?” tanya Noni penasaran.
“Ganteng banget sih nggak, tapi dia menarik dan mengintimidasi.”
“Cakepan mana sama si Jio?”
“Aduh, jangan dibandingin sama dia, dong. Males banget.”
“Hahahah… ya udah,tapi beneran gue mati penasaran kalo ga punya kesempatan liat si Jeff ini.”
“Ya berdoa aja lo bisa ketemu dia. Eh udah dulu, ya, gue mau mandi, makan terus berangkat kerja. Plis jagain barang-barang gue, jangan sampe ada yang diambil sama si Dixie.”
“Iya siaap, lo tenang aja selama ada Noni di sini, barang lo aman.”
“Percayaa…. Oke deh, see ya!”
Sashi keluar ketika sudah meutup telepon. Ia ingin menyiram bunga-bunganya terlebih dahulu yang maulai tumbuh pesat. Sashi tidak sabar halaman tersebut menjadi lebih hidup dan berwarna-warni. Sepertinya butuh waktu antara satu sampai dua bulan hingga bunganya mekar.
“Sash,” panggil Jeff yang datang dari arah pantai.
“Hey… kok kamu udah bisa jalan-jalan aja? Udah enakan, ya?”
“Lumayan. Barusan nyari kelapa ijo. Nih dapet dua,” Jeff mengangkat dua buah kelapa yang dijinjingnya.
“Oh iya… bagus tuh buat recovery. By the way, Bu Putu udah pulang, ya?”
“Yaps, sejam yang lalu udah pulang. Aku sekalian mau kasi tahu juga kalo tiga harian lagi mama sama papa dateng dari Australia. Aku udah ajakin Bu Putu dan keluarganya nginep di cottage, sekalian nemenin mama papa. Kamu kalo mau dateng juga, nanti biar saya minta tolong pegawai buat jemput kamu. Gimana?”
“Boleh boleh kalo ga ngerepotin. Makasih udah ngajakin,”
Jeff tersenyum hangat. “Anytime. Kalo gitu saya masuk dulu.”
“Oke, istirahat ya. Jangan dulu banyak gerak kalo baru mulai enakan.”
“Siap. Lanjut, Sash.”
Sashi berencana untuk mengajukan cuti setidaknya selama dua hari. Robert pasti mengizinkan, karena malam sebelumnya Sashi berkata jujur bahwa ia sudah mulai suntuk bekerja sebagai chef. Bukannya membuat Robert marah, temannya itu malah terbahak-bahak karena ia juga sudah bisa menebaknya.
Sashi butuh refreshing dan sepertinya berdiam diri di cottage milik Jeff akan membuat emosinya kembali stabil. Apalagi ada Wayan yang bisa diajak ngobrol atau menonton Netflix.
***
Emil baru saja mendatangi Jio di ruangan studio sembari membawa list job yang harus dikerjakan oleh Renata dan beberapa talent lainnya.
“Tadi gue telepon si Renatanya, tapi dia minta dibatalin semua, sementara ni orang yang minta endorse udah bayar full payment. Ga enak kalo kita cancel, pas H-1 pula. Lo bisa bujuk dia ga?”
Jio mengangguk. "Oke nanti gue coba hubungin Renata."
"Oke thanks, Bro. Gue ke kamar si Wiggy dulu, dia juga lagi banyak tawaran endorse. Semangat bikin lagunya!" Emil mengepalkan tinju.
"Thanks brother."
Sepeninggal managernya tersebut, Jio langsung memencet nomor Renata. Ia harus membuang egonya terlebih dahulu untuk mementingkan pekerjaan dan meminta maaf pada wanita tersebut. Lagi pula Jio sadar bahwa sikapnya tadi agak keterlaluan. Ia hanya sedang bad mood dan tidak bisa mengontrol emosi.
"Oke deh ga usah bahas masalah tadi. Aku balik lagi ke kantor karena pekerjaan ini doang, ya. Kamu tetep diem aja di studio, ga usah samperin aku. Thanks," jawab Renata ketika Jio memberitahu kedatangan Emil tadi.
"Oke, kalo kamu ga mau ketemu aku dulu, gapapa. Tapi jangan lama-lama marahnya. Pintu aku selalu terbuka kalo udah mau ketemu."
Alih-alih menjawab, Renata malah menutup teleponnya. Jio tertawa. Ia tidak begitu mempedulikannya juga.Yang terpenting Renata sudah mau kembali bekerja dan Jio tidak perlu mengeluarkan effort besar untuk membujuknya.
***
Noni duduk bersila di sofa ruang tengah bersama Shaki dan Emil sambil memkana kacang tanah. Mereka sedang membicarakan Dixie yang masih mengincar barang-barang milik Sashi. Noni juga akan berusaha berbicara pada Jio. Namun jika pria itu sedang berkutat di dalam studio, tidak ada satu pun orang yang berani mengganggunya. Noni pun sabar menunggu untuk meminta Jio supaya tidak memberikan apa pun barang milik Sashi kepada Dixie.
"Gue curiga juga sih dia ini disuruh sama emaknya. DIkit-dikit kata mama begini begitu, katanya. Gimana coba mamanya bisa tahu kalo Sashi naruh kotak gede berisi perhiasan dan si Dixie juga notice baju di lemari Sashi banyak yang ilag. Freak ga sih tuh anak?"
"Papanya Sashi bukannya kaya, ya? Apa dia ga mau minta aja gitu beli barang-barang yang dimau."
Noni menggelengkan kepala. "lo pikir Sashi punya banyak duit itu gara-gara dikasih bokapnya? Nggak! Bokapnya selalu ngajari untuk berusaha kalo mau apa pun. selama ini Sashi nyari duit sendiri. Bokapnya emang ada juga beliin barang-barang bagus, itu pun kalo Sashi punya pencapaian. Nah si Dixie ini mungkin ga punya pencapaian apa-apa."
"Terus dia tadi bawa apa aja dari kamar Sashi?"
Belum sempet ngambil apa-apa, karena ada tugas kuliah. Lagian ngeselin banget, dikira barang Sashi gue yang ambil semua, padahal gue cuman ambil barang-barang kantor, amanin doang akrena banyak file job di situ. Kalo barang pribadinya sih gue ga mau nyentuh."
"Ga enak kan lo dituduh nyuri barang?" kata Renata yang baru saja datang. "Makanya jangan suka nuduh orang maen fitnah juga."