Rumah Robert bernuansa sangat Bali dan cukup homey untuk ditempati seorang diri. Lokasinya berada di sebuah perumahan mewah yang cukup sepi, karena kebanyakan yang tinggal di situ adalah orang kantoran dan pejabat-pejabat daerah. Dengan balkon belakang yang mempunyai pemandangan pantai, juga sepanjang halamannya ditumbuhi pohon palem, cukup membuat Sashi iri dengan pencapaian Robert.
Robert mengatakan bahwa ia mengawali karir di Bali sebagai event organizer, melanjutkan apa yang dikerjakan sewaktu di Bandung dulu. Robert bersama teman-temannya mengerjakan berbagai acara pernikahan mewah dengan berbagai konsep, acara music, reuni dan sebagainya. Namun salah satu temannya membawa kabur uang mereka, hingga beberapa acara menjadi kacau. Robert bersama teman lainnya harus mengganti rugi serta nama mereka pun ikut tercoreng.
Dengan uang tabungan yang masih tersisa, Robert menggunakannya dengan mengerjakan berbagai usaha, mulai dari menjual makanan, aksesoris, bahkan menjadi guide tour. Saat itulah ia bertemu dengan David, investor yang menggelontorkan dana untuk klubnya saat ini. Robert memang sudah tahu sedari awal bahwa David seorang hypersex. Hampir setiap malam selama liburan di Bali, pria itu selalu membawa wanita yang berbeda-beda.
Sejak Robert membuka klub, David pun sering memintanya untuk mencarikan seorang wanita. Robert menurut karena ia pun mengenal beberapa wanita bahkan turis yang mau melakukan one night stand demi mendapatkan uang. Semakin lama, David mulai meminta Robert mencarikan wanita untuk teman-temannya, bahkan ketika David berada di negaranya pun, ia tetap meminta Robert menjamu teman-temannya yang sedang berada di Bali. Entah sejak kapan, namanya mulai terkenal sebagai mucikari, hingga penduduk local pun banyak yang mencarinya demi mendapatkan wanita-wanita cantik untuk ditiduri.
“Jadi lo sama sekali ga bisa berhenti?” tanya Sashi sebelum menyeruput air limunnya.
“Ya gimana gue mau berhenti? Mayoritas orang yang dateng ke klub gue emang tujuannya itu. Gue ga munafik juga kalo pemasukan terbesar gue ya dari situ. Can you see?” Robert merentangkan tangannya, menunjukkan rumahnya yang megah. “Lo pikir gue bisa beli ini karena pemasukan dari klub doang?”
"So, you'll never stop?"
"Not now. As I said before, gue lagi usahain pinjem duit ke bank supaya terbebas dari si Bos Besar. Kalo gue bertindak sekarang, gue bisa kehilangan semuanya, Sash."
"Setelah apa yang terjadi sama Bella?" tanya Sashi serius.
Robert terdiam sejenak sambil mengembuskan napas. "Ada yang kasih tahu lo soal Bella?"
"Kayaknya itu udah jadi rahasia umum juga," jawab Sashi, tidak mau mengatakan bahwa yang memberitahunya adalah Mora.
Robert mengangguk. "Gue emang ngerasa bersalah banget karena ga bisa jagain dia. Gue harap sekarang dia ada di tempat yang aman dan baik-baik aja. Dan gue juga sangat berharap suatu hari nanti dia mau ngabarin gue, gimanapun keadaannya."
"Lu ga ada clue banget ke mana dia pergi? Mungkin pulang ke kampung halamannya?"
"Itu ga mungkin, sih. Orangtua dia udah meninggal. Di kampungnya cuman ada bibi sama pamannya, dan sedari SMP, si Bella suka jadi korban pelecehan seksual pamannya yang bejad itu. Dia dateng ke Bali dengan harapan bisa merubah hidupnya. Dia mau kerja apa pun, anaknya gesit dan ga punya gengsi. Sampe akhirnya dia ketemu si Bos Besar. Awalnya Bella happy-happy aja karena ngira kalo si Bos Besar suka sama dia dan pengen jadiin dia istri. Gue bisa lihat mukanya berbina2-binar. Dia puas lahir batin, duitnya melimpah dan tinggal di apartemen. Meskipun gitu, dia masih suka dateng ke bgian kitchen, bawain pekerja di sana makanan yang banyak."
Sashi mengangguk, karena ia sendiri sudah tahu mengenai hal tersebut. "Terus, kenapa dia bisa kabur?"
Wajah Robert terlihat muramdiselimuti empati. "Dulu, dia tiba-tiba dateng ke sini pagi-pagi banget. Dia nangis sesenggukan sampe gue bingung ada apa. Terus dia cerita, kalo semalam si David ngadain party di penthouse gitu. Bella dikasih minum yang banyak sampe mabok banget. Dan di penghujung malam, David bawa dia ke kamar, di sana juga ada tiga temennya David yang mau pake dia bergiliran."
Sashi meringis. "Berengsek banget!"
"Dia bener-bener nangis sementara orang-orang itu ngelakuin sikap bejadnya. Tapi David ga peduli, malah ketawa-ketawa. Bella sama sekali ga bisa ngelawan. Selain dia udah pusing banget, orang-orang itu juga badannya gede-gede."
"So? Dia minta putus hubungan sama si David?"
"Iya lah! Tapi pas dia ke apartemen mau ambil barang-barangnya, ternyata si David ada di sana. Cowok itu sita semua barang-barangnya Bella supaya dia ga kabur. Sampe akhirnya mereka berantem di luar klub, karena David ngajakin Bella ke penthouse lagi. Kayaknya si Bella yakin kalo David bakalan kasih dia ke temen-temennya lagi. Makanya, gue juga turun tangan. Sampe tarik-tarikan rebutin si Bella. David juga sempet ngancem gue mau ambil klub lagi."
Sashi hanya terdiam. Mendengar itu, ia merasa bahwa masalah yang dialami Bella lebih berat darinya.
Robert menambahkan, "Mungkin gara-gara David ngancem gue kayak gitu, Bella akhirnya ga enak sama gue dan milih pergi. Gue ga tahu sekarang dia ada di mana."
"Ya semoga dia baik-baik aja. Mungkin lagi pengen menyendiri dulu. Lo juga jangan ngerasa bersalah banget, karena ini semua udah tentu si David yang salah," ujar Sashi menenangkan.
"Yaps, karena kalo dipikirin terus, gue bisa ga fokus kerja dan ga bisa ngerubah apa pun.. Yang penting, gue pengen masalah bisnis gue sama si David kelar dulu."
Sashi mengangguk. "Oh iya, by the way, gue mau cuti 4-5 harian gitu, boleh ga?"
"Mau ke mana lo?"
"Temen gue ada buka cottage baru di daerah Ubud. Besok ortunya mau dateng dan dia mau kasih surprise party gitu buat anniv pernikahan mereka. Nah rencananaya gue mau bantu buat siapin anniversary-nya. Sekalian pengen refreshing aja."
"Sure, take your time kalo gitu."
"Jadi malem ini nanti gue sama Mora bikin eclaire beberapa kali lipat lebih banyak buat stock beberapa hari."
"Ga usah, bikin aja kayak biasa. Nanti biar gue suruh asistennya Chef Made bikin dessert lain dulu aja."
"Ya pokoknya sekuat tenaga gue sama Mora deh, ya."
Robert mengangguk setuju. "Oh ya, lo jadi mau cari kosan baru?"
"Ho-oh, ada?"
"Ada sih punya temen gue, sekitar 1.4 kilometer dari klub. Kosnya kayak joglo gitu, udah ada furniture lengkap. Bawa baju doang pun aman deh di situ. Kalo mau gue minta keep dulu sama dia."
Sashi tampak berpikir. Gue bisa kabarin setelah balik dari cottage, ga?"
"Boleh dong... kabarin aja."