Sepulangnya dari klub, Sashi langsung mendatangi rumah Bu Putu. Ia sudah menelepon beliau sebelumnya dan kebetulan Bu Putu terbiasa bangun jam empat subuh. Mereka sudah berjanji akan pergi ke cottage bersama. Sashi berniat untuk membantu menyiapkan surprise party untuk kedua orangtua Jeff, setidaknya ia bisa membalas budi atas kebaikan Jeff. Karena pernah berpengalaman kerja sebagai event organizer, Sashi bisa dengan mudah memberi beberapa ide.
"Wayan masih tidur ya, Bu?" tanya Sashi begitu duduk di kursi.
"Iya, semalam dia sibuk bikin CV banyak -banyak buat lamar pekerjaan. JAdinya mungkin capek. Lagian dia udah kebiasa bangun jam delapanan kalo ga ada kegiatan apa-apa," jawab Bu Putu. "Kamu juga mending tidur dulu, gih, di kamar Ibu. Nanti Ibu bangunin jam9, soalnya kita dijemput jam sepuluh sama pegawainya Pak Jeff."
"Iya deh, Bu. Aku juga ngantuk banget."
"Mau minum teh panas dulu atau s**u cokelat?"
"Teh anget, boleh?" tanya Sashi sambil nyengir manja.
"Boleh dong ah... ya udah sana, cuci muka cuci kakai, simpen tasnya di kamar. Nanti ibu anterin tehnya."
"Oke, Bu."
Sashi pun beranjak ke kamar Bu Putu. Kamar tersebut hanya 3x3 meter persegi. Jauh lebih luas kamar Sashi yang di kantor maupun di rumahnya. Namun meskipun rumah Bu Putu kecil, ia mampu membuatnya bersih dan rapi, sehingga Sashi tidak merasa sumpek. Halaman di depan puns elalu tersapu dengan bersih. Bu Putu memang cekatan dalam hal membersihkan rumah, itu sebabnya Jeff memperkerjakan beliau, meski masih kurang dalam hal masak memasak.
Sashi sungguh mendapat banyak pelajaran beberapa hari ini. Mulai dari Bella maupun Bu Putu. Hidup mereka lebih rumit dan susah, namun lihatlah Bu Putu dan Wayan yang selalu ceria dan bersyukur. Atau Bella yang berani merubah hidupnya dari segala penderitaan yang ia alami. Sashi sunguh takjub dengan orang-orang seperti itu. Terkadang Sashi sendiri masih bersikap egois dan childish.
"Sash, ini teh panasnya." Bu Putu hendak meletakkan gelas teh di meja, namun Sashi keburu mengambilnya.
"Sini, Bu. Wahh... makasih banyak, ya. Aku kebiasa harus minum manis dulu sebelum tidur dan sebangunnya dari tidur."
"Ya udah habiskan, terus tidur yang nyenyak. Jendelanya mau dibuka, biar ga sumpek?"
"Boleh, Bu."
"Nanti mau sarapan apa? Nanti suka ada yang lewat bubur kacang ijo, bubur ayam atau-"
"Bubur kacang ijo aja, Bu. Udah lama aku ga maakn itu," jawab Sashi cepat.
"Okeh. Selamat tidur dan bermimpi indah," ujar Bu Putu sambil tersenyum. Ia mematikan lampu, lalu menutup pintu kamarnya. Tidak butuh waktu lama untuk Sashi hingga jatuh tertidur.
***
Sudah hampir dua jam Jio merayu Renata untuk berbaikan. Hal tersebut ia lakukan demi pekerjaan mereka di House of Skills. Bagaimanapun, Emil memberitahu Jio bahwa Renata dan Wiggy mempunyai banyak job yang harus dilakukannya selama dua bulan ke depan. Jio tidak mau jika harus bekerja dengan suasana perang dingin di sekelilingnya. Terlebih Wiggy masih belum mau menyapanya sejak kepulangan mereka dari Bali.
Namun setiap chat yang Jio kirim untuk Renata selalu dibalas sinis, hingga Jio menjadi lebih kesal, namun ia tetap harus membuang dulu perasaan tersebut. Renata jauh berbeda dengan Sashi yang lebih berpikiran realistis dan mudah menghadapi suatu masalah. Itu sebabnya Sashi dan Jio bisa membangun House of Skills karena mereka sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak hanya mengetahuinya, tapi mereka juga bisa menempatkan diri dan menerima kekurangan tersebut. Sashi dan Jio tidak pernah terlibat pertengkaran atau perang dingin lebih dari dua puluh empat jam.
[Mau sampai kapan ngambeknya? Aku udah minta maaf, aku udah ngaku salah. Jadi please, jangan kelamaan cuekin akunya.]
[Ga segampang itu ya, Ji. Minta maaf doang terus kamu ngarep aku luluh? Nanti kalo kamu gituin aku lagi, tinggal minta maaf lagi?]
Jio mengembuskan napas. Kesabarannya sudah mulai hilang. [Terus aku harus gimana? Bertekuk lutut? Ngasih kamu bunga atau gimana?]
[Ga tau deh! Pikir aja sendiri, yang pasti aku lagi ga mood ngomong sama kamu dulu. Tenang aja, aku bakalan profesional ngerjain semua job dari House of Skills. Aku juga udah minta supaya Emil hold dulu semua tawaran aku setelah ini. Aku kepikiran berenti aja jadi talent kalian.]
[Kok jadi manjang gitu masalahnya?]
[Ya supaya kamu ngerti kalo perkataan kamu yang nyinggung aku itu udah keluar batas, Ji. Aku ga mau punya pacar yang ga percaya sama aku, nuduh aku macem-macem dan lebih percaya sama kecurigaan temennya sendiri.]
Jio ingin sekali mengatakan bahwa sikap Noni yang seperti itu adalah wajar. Namun tentu saja pernyataan tersebut akan lebih menyulut amarah Renata.
[Jadi gara-gara masalah ini doang, kamu mau resign?]
[Doang? Oke, mungkin buat kamu ini hal sepele, sementara buat aku, ini udah nyakitin hati banget. Terserah deh! Dan iya, aku mau resign karena suasana di kantor juga udah ga enak. Si Noni ngeliat aku udah kayak barang najis. Aku yakin yang lain juga suka ngomongin aku di belakang. Ditambah kamu yang kayak gitu kemaren, jadi buat apa aku terus di situ?]
Jio menaruh ponselnya di meja, enggan untuk membalas lagi karena pertikaian mereka tidak akan berujung. Suasananya masih sangat panas. Ia akan membiarkan Renata tenang terlebih dahulu. Masih ada wkatu untuk mengembalikan keadaan seperti semula selama Renata masih terikat kontrak.
Jio pun keluar kamar dan menemukan Wiggy sedang membereskan meja makan yang baru saja ia pakai.
"Anak-anak pada ke mana, Gi?" tanya Jio basa basi. Ini pertama kalinya mereka berkomunikasi sejak kejadian di Bali.
"Noni sama Shaki lgi ke laundry. Yang lain di kamarnya, barangkali," jawab Wiggy dengan nada yang sangat lurus seperti biasanya.
"Eh iya... lo ada akun Netflix, kan? Gue pake dulu dong... pengen nonton. Yang gue lupa password dan belom bayar, karena kelamaan ga dipake."
Shaki hanya menganguk. "Nanti gue kirim email sama passwordnya ke WhatsApp."
"Oke thanks."
Jio pun mengambil minuman kaleng di kulkas, lalu kembali ke kamarnya. Rasanya sudah cukup interaksi dengan Wiggy untuk saat ini. Besok ia bisa lebih mencairkan suasana lagi dengan partner kerjanya itu. Jio memang masih merasa kesal terhadap Wiggy. Namun kembali lagi. Wiggy dan Renata adalah dua talentnya yang paling banyak mendapatkan job. Jio harus mengesampingkan segala permasalahan intern demi keuntungan lainnya.
Ponselnya berdering. Wiggy sudah memberikan email dan password Netflixnya. Jio hanya tersenyum sinis, lalu menyimpan kembali ponsel tersebut karena ia tidak benar-benar ingin menonton.