Sashi baru saja menghabiskan bubur kacang hijaunya ketika sopir Jeff datang menjemput mereka. Sopir tersebut bernama Tono. Ia berperawakan gemuk, kulit cokelat, botak dan sering tertawa. Bu Putu sempat mengajaknya duduk di dalam, namun Pak Tono lebih memilih untuk menunggu di luar, ditemani dengan segelas sirup yang dibeli oleh Bu Putu dari tetangga depan.
“Kak, kamu ga pake baju hangat?” tanya Wayan yang sudah berpakaian serba tebal.
“Ngga ah, masih panas gini di luar.”
“Tapi bawa baju hangat, kan? Soalnya di sana dingin banget. Apalagi pas tengah malem.”
“Ada kayaknya, aku bawa sweater di koper. Emangnya kamu pernah ke sana?”
“Pernah sekali, diajakin Mbak Alina. Soalnya waktu itu Pak Jeff masih sibuk di sana, terus Mbak Alina ga mau sendirian, jadinya ngajakin aku.”
Sashi mengangguk sambil memajukan bibir bawahnya. “Enak ga sih di sana?”
Wayan menyengir. “Lihat aja nanti. Dulu sih pas aku ke sana, belum jadi aja udah keliatan bagus. Apalagi sekarang kali, ya.”
Mereka pun bersiap untuk pergi. Sashi sudah terbiasa tinggal di tempat yang dingin. Jadi ia tidak begitu emmerlukan pakaian hangat. Apalagi untuk sekarang, ia lebih memilih kaus panjang berwarna putih, dengan celana pendek yang panjangnya sampai pertengahan paha. Rambutnya diikat ekor kuda dengan wajah yang hanya dipoles dengan sunblock dan liptint.
Bu Putu duduk di depan, di samping pak Tono, sementara Sashi dan Wayan duduk di belakang. Menurut Pak Tono, jarak tempuh ke cottage memakan waktu sekitar hampir dua jam. Jika tidak macet dan lajur kendaraan lancar, mereka akan sampai dam satu jam tiga puluh menit saja.
"Sekarang ada siapa aja di cottage?" tanya Bu Putu.
"Mas Soni sama Mas Franky udah ada di sana. Tadi sih pas saya pergi, mereka masih pada tidur."
"Oh iya lah, Pak Franky itu kan pria malam. Jam segini pasti masih mimpi," ujar Bu Putu yang membuat Pak Tono tertawa.
Selama sisa perjalanan, Sashi lebih memilih tidur lagi, karena rasanya belum cukup. Sekalian ia bisa merecharge energi karena di cottage nanti sepertinya akan sangat sibuk. Sementara Pak Tono dan Bu Putu masih asyik mengobrol random. Begitupun dengan Wayan yang sedari tadi sibuk berselancar di media sosial lewat ponsel.
Sebenarnya Sashi merasa canggung karena ini adalah acara keluarga dan yang datang hanyalah orang-orang terdekat Jeff. Sementara Sashi hanyalah orang luar yang baru dikenal. Ia tidak tahu bagaimana tanggapan kedua orangtua Jeff mengenai dirinya yang tinggal di rumah belakang.
"Sayang sekali Mbak Alina ga ikut gabung. Ga ada kabar dia mau ke sini lagi ya, Pak?" tanya Bu Putu.
"Wah saya juga kurang tahu. Kemarin di cottage juga cuman sebentar dan banyak diam. Padahal harusnya datang ya, Bu. Denger-denger mereka mau nikah juga, kan."
"Ya iya, udah seharusnya mereka cepat menikah. Udah bertahun-tahun pacaran, kok, mau nunggu apa lagi. Pak Jeff udah mapan, Mbak Alina juga sudah punya usaha sendiri, umur juga sudah sama-sama matang. Wah.. udah pasti anaknya lucu kalo mereka jadi menikah."
Sashi tertawa tanpa bersuara sambil memejamkan mata. Mendengar Bu Putu yang sepanjang perjalanan hanya bergosip dengan Pak Tono, juga pikirannya tentang pernikahan. Di hari ketika ia dikhianati oleh Jio dan Renata, Sashi sudah tidak percaya lagi dengan ikatan pernikahan. Ia bersyukur bisa lebih cepat mengetahui tabiat Jio. Mungkin dirinya akan semakin frustasi jika keadannya mereka sudah menikah. Tentu saja Sashi harus memikirkan berulang kali untuk memutuskan hubungan. Karena di Indonesia, gelar janda itu bisa dipandang sebelah mata.
Kini ia setuju dengan Wiggy. Menurut temannya itu, pernikahan bukanlah lambang kesuksesan atas suatu hubungan. Namun awal dari segala masalah.
***
Pintu kamar Noni diketuk berulang kali ketika Noni sedang di kamar mandi. Ia bersungut-sungut sambil membuka pintu, apalagi ketika mendapati Shaki yang berdiri di sana.
"Kenapa, sih? Awas lo ya kalo ga ada yang penting!"
"Itu si Jio ngajakin meeting bentar di bawah. Udah beli pizza sama pasta juga dia buat makan siang," jawab Shaki tanpa merasa bersalah.
"Ya kan tinggal ngechat doang apa susahnya? Gue lagi di kamar mandi barusan!"
Shaki hanya nyengir. "Gue kira lo tidur. Soalnya kata Jio ini meeting penting banget, harus semua hadir."
"Ya udah duluan, gue mau ganti baju dulu."
"Oke! Ditunggu lima menit, ya."
Shaki pun turun ke lantai bawah, sementara Noni duduk di pinggir tempat tidur. Bertanya-tanya apa yang akan dibahas oleh Jio. Ia yakin, pasti tidak akan jauh-jauh mengenai Renata. Supaya tidak penasaran, noni pun dengan cepat mengganti baju dan menyisir rambutnya, lalu ke lantai bawah. Di sana sudah ada Jio, Shaki, Emil, Wiggy, serta Revo. Mereka duduk di karpet ruang tengah sambil menikmati pizza.
"Eh, Non. Sini makan," ajak Emil begitu melihat Noni menuruni tangga.
"Mau meeting apaan, nih?" tanya Noni tanpa berbasa basi.
Semua mata kini tertuju ke arah Jio yang sedang melilit spagheti dengan garpunya.
"Ohh... cuman mau ngomongin masalah yang kemaren. Soal utang Sashi ke Renata."
Mendengar itu, Noni langsung duduk di hadapan Jio sambil memeluk bantal kursi. "Gimana? Udah ada proof-nya?"
Sebelum menjelaskan, Jio menaruh piring berisi spaghetinya di atas karpet. "Gue udah dari kemaren ngebujuk Renata buat ke bank. Bahkan gue menawarkan diri untuk nganterin dia dan ngantri buat dia. Cuman Renata tetep ga mau. Alesannya dia udah keburu sakit hati karena dituduh fitnah Sashi."
Noni langsung tertawa geli. "Beneran alesannya itu atau karena dia takut ga bisa buktiin? nih yaa... kalo gue jadi dia, dan gue beneran ga bohong soal itu, mendingan langsung aja ke bank, ga peduli mau ngantri seharian yang penting gue dapet proofnya dan kalo perlu gue lempar ke wajah orang yang nuduh gue bohong."
Jio mengangguk mengerti. "Gue ga akan ngebela dia, Non. Kalaupun dia bohong soal ini, gue juga sangat marah dan malu. Yang pengen gue minta di sini, plis jangan dulu ungkit-ungkit masalah itu. Renata lagi ada job atas nama House of Skills. Kita lagi butuhin dia banget dan jangan sampe moodnya dia ancur berantakan. Sampe kontrak dia selesai, gue mohon bikin dia nyaman di sini."
Noni mengembuskan napas karena dia sudah menduga Jio akan berkata seperti itu. "Oke, tapi sebelumnya, jawab pertanyaan gue dengan jujur. Hubungan kalian sekarang ini apa? Temen, partner kerja atau pacar?"