Mobil sudah berbelok ke halaman cottage. Sashi dan Wayan langsung meninggikan lehernya untuk melihat pemandangan sekitar. Sashi sendiri langsung merasa takjub begitu melihat banyak peophonan dan pondok-pondok yang berjajar sangat artistik. Pondok tersebut berbentuk seperti rumah jamur brwarna cokelat tua yang terbuat dari kayu. Halamannya pun cukup luas dan terdapat beberapa ayunan serta kursi santai di bawah pohon besar. Halamannya yang luas membuat cottage cukup nyaman dan leluasa. Sashi pun tidak menyesal karena sudah mengambil cuti sampai akhir minggu. Iaa bisa menenangkan diri hanya dengan memandangi pohon.
Setelah mobil terparkir, semua turun dan diantarkan oleh Pak Tono ke sebuah pondok. "Nih, kata Mas Jeff, Bu Putu sama Wayan di pondok sebelah kanan, sementara Dek Sashi di pondok paling ujung di sebelahnya."
"Loh, saya sendirian?" tanya Sashi. Ia menduga akan satu pondok dengan Bu Putu dan Wayan.
"Iya, tadi Mas Jeff telepon saya bilangnya gitu."
"Lah iya, masa kita mau bertiga satu pondok, ya sempit dong," ujar Bu Putu. "Pak Jeff pasti mikirnya kamu biar leluasa kalo sendirian. Ga takut kan tidur sendirian?"
Sashi tertawa ringan. "Udah biasa, kok, Bu."
"Ya udah masukin dulu aja barang-barang kita ke pondok. Kamu kalo mau terusin istirahat, tidur aja lagi. Kan tadi baru tidur sebentar," kata Bu Putu.
"Barusan di mobil udah tidur lagi sih, Bu. plaing mau rebahan dulu bentar. nanti kalo Ibu udah mulai ada kerjaan buat ngelayout halaman depan, kasih tahu aku aja, ya. Biar nanti aku bantuin."
"Iya, pasti."
Pagi tadi ketika sarapan bubur kacang ijo, Bu Putu mengatakan bahwa surprise party untuk kedua orangtuanya akan diadakan di halaman cottage. Mungkin nanti ada barbeque dan hiasan lampu atau bunga. Sedari dulu, Sashi sangat suka menghias apalagi untuk acara. Kamar di rumahnya hampir satu bulan sekali ia layout ulang, begitupun kantor House of Skills yang wallpaper dan furniturnya hampir 80% Sashi yang memilih dan meletakkan di tempat yang menurutnya bagus.
Sashi membuka pondok yang cukup luas. Sama seperti terlihat dari luar, area dalam juga didominasi oleh kayu. Lantai parkuet, chandelier, juga beberapa furniture dengan perpaduan warna cokelat tua dan cokelat muda, membuat ruangan tersebut tampak hangat. Hal yang membuat Sashi semakin takjub adalah kamarnya yang cukup luas deengan bath tube yang menyatu dilapisi lantai penuh bebatuan. Di sana juga ada jendela selebar tembok yang menyuguhkan pemandangan sawah.
Kini mood Sashi sudah naik berkali kali lupat. Ia menaruh kopernya disudut ruangan, lalu merebahkandiri di atas kasur yang empuk. Ia ingin membiarkan pikirannya kosong.
Baru saja rencananya tersebut terpikirkan, ponselnya berbunyi. Ada panggilan dari Noni. Sashi berharap temannya itu menyampaikan yang baik-baik saja.
[Ya, Non.]
[Lo di mana?} tanya Noni setengah berbisik.
[Lagi ambil cuti nih, mau healing di suatu tempat. Heheheh...kenapa bisik-bisik?
[Gue lagi di ruang tengah. Tuh anak-anak lagi pada nonton sambil makan.]
Sashi bisa mnedengar suara Emil yang sedang tertawa, begitupun Revo dan Jio yang sedang mengobrol entah apa. Untuk sesaat, ia kembali merindukan kantonya. [Awas loh nanti kedengeran. Ada kabar apa?]
[Nggak, kok, gue mojok dan bisa lihat ke segala arah. Tadi cuman mau ngasi tahu aja kalo mantan lo bikin meeting dadakan.]
Sashi merasa aneh mendengar kata mantan, karena sebenarnya mereka sama sekali belum mendeklarasikan kata putus. Meski Sashi juga yakin, jika tidak ada kejadian pesawat kecelakaan, sepulangnya ke Bandung, ia akan memutuskan Jio. [Meeting apaan, Non?]
Noni menceritakan pembahasan Jio tadi mengenai Renata. Bagaimana pria itu ikut malu atas perilaku Renata dan meminta semua orang di kantor untuk melupakannya sementara waktu atas nama pekerjaan. Lalu ketika Noni menanyakan perihal hubungannya dengan Renata saat ini, Jio sendiri tidak menjawab secara jelas. Meski tersirat bahwa mereka masih melanjutkan hubungannya.
"We just had a casual relationship. Gue ga akan bohong sama kalian. Kami memang deket, more than friends. But.... gue ngejalaninnya santai, ga kayak waktu sama Sashi yang lebih resmi. Dan gue harap, kalian ngerti. Gue tahu gue salah. Kalo ditanya apakah gue masih cinta sama Sashi? Yes, i do. Gue sangat cinta sama Sashi. Ga ada niat sekecilpun untuk ninggalin dia. Dan sekarang, karena dia udah ga ada, bukan maksud untuk ga ngehargain Sashi, gue sama Renata jadi lebih deket," jelas Jio saat itu.
Sashi hanya mengangguk perlahan. Dia sudah tidak menganggap itu suatu hal yang menyakitkan. Justru ia salut karena Jio bisa berterus terang dengan teman-temannya, karena Sashi tidak menyukai orang munafik. [Ya udah, bener kata Jio. Mending ga usah dibahas lagi, deg, masalah duit itu. Mungkin Renata lagi khilaf, atau dia lagi butuh duit banget. Pentingin aja kerjaan kalian, ga enak kalo suasana kerja ada perang dingin gitu.]
[Hadeeeh... untung ya si Renata berhadapan sama lo. Kalo sama cewek lain mungkin dia udah dikutuk abis-abisan. Gue kalo jadi lo, waktu di villa kemaren mungkin gue udah jambak tuh cewek, terus si Jio gue tamparin.]
Sashi tertawa. [Ngeri lo ya! Udah ah, pokoknya sekarang gue lagi dalam mode refresing. Kalo bisa selama lima hari ke depan, jangan kasih info yang ga enakin. Oke?]
[Okay! Emang lo refreshing di mana sih? Gue juga pengen, kali, dikira enak udah sebulan ini ngadep layar, mic sama kompor mulu]
[Ya makanya jadwalin ke Bali lagi, doong... nanti gue bawa ke villanya Jeff. Ntar gue otoin suasananya, ya. Gila, keren banget!]
[Si Jeff itu tajir banget ya, Sash? Lo masih ada hutang buat lihatin fotonya dia, loh.]
[Idih sorry gue ga janji, ya.]
[Please, tega amat bikin gue penasaran. Lo pun dari kemaren ga ada sedikit aja ngasi tau ciri-cirinya. Dia tinggi apa pendek? Ganteng apa B aja? Tua apa muda?]
[Umurnya 70 tahun," jawab Sashi.
[Whaat? Ah oke deh kalo gitu. Cukup sampai di situ aja. Lo ga ada rencana jadiin dia sugar daddy, kan?]
[Nooon... jangan mulai deh...]
Noni terbahak dan segera pamit, karena sedari tadi Wiggy memerhatikannya.[Dah yaa... si Raja Es ngeliatin gue mulu. Tar dikira gue lagi ngobrol sama cowok, terus dia mundur teratur buat deketin gue.]
[Pede banget, ya. Oke deh... gue juga bentar lagi mau turun. Inget, bikin suasana kantor enak lagi. Kesampingin dulu emosi-emosi yang ga penting.]
[Oke, will call you later. Bye!]
Sambungan telepon terputus. Perut Sashi kini merasa lapar. Benar kata Wayan, suhu di sini lumayan dingin dan membuat Sashi ingin makan.