Hungry

1002 Kata
Jeff membuat cottage Rosie & Riley memang dibuat untuk berlibur. Selain membuat suasana alam yang mampu merilekskan kepala, Jeff menyediakan berbagai jasa untuk memanjakan para tamu. Di belakang, terdapat restoran yang menyediakan menu khas Bali, juga western. Di sebelahnya juga ada kafe yang suasananya lebih santai untuk kaum muda dan buka selama 24 jam penuh. Di seberang cottage, ada Rosie & Riley Spa bagi siapa saja yang mau refleksi dan mempercantik diri. Jeff juga menyediakan beberapa mobil kereta untuk mengantar tamu-tamunya pergi ke sebuah tempat. Sashi tiba-tiba terpikir untuk melamar pekerjaan sebagai chef. Daripada harus bekerja di klub dengan ruangan tertutup, ia akan lebih senang hati bekerja dengan suasana alam yang indah. “Hey, Sashiiii…” Franky tiba-tiba muncul dengan mengenakan kaus hitam dan celana pendek. Rambut keritingnya diikat seperti biasa. “Udah lihat-lihat ke sekeliling?” Sashi menggelengkan kepala. “Belum. Nungguin Bu Putu sama Wayan, mau makan bareng dulu.” “Diketuk aja.” Franky menghampiri pondok Bu Putu dan mengetuk pintunya. “Bu Putu, Wayaan… ayok kita makan!” “Eh, gapapa… mungkin masih beres-beres, aku nyantai kok.” “Kalo gitu makan sama aku aja, ayok! Ada Soni juga di sana, kita ajakin.” Franky menarik lengan Sashi dan Sashi pun tidak dapat menolak. “Kamu harus nyobain nasi goring wagyu di sini, dijamin nagih. Apalagi kalo cuaca lagi dingin dan perut sama sekali belum diisi.” Hanya mendengarnya saja, perut Sashi langsung keroncongan. “Wah, boleh banget, tuh. Perut aku seharian ini baru keisi bubur kacang ijo doang,” jawab Sashi sambil tertawa kecil. "Bagus, karena emang sebaiknya makan nasi goreng wagyu ini dalam keadaan perut lapar banget, biar makin puas makannya." Di halaman tengah, SOni tampak sedang memberdirikan papan. "Oy, makan dulu, yuk!" Soni menoleh dan tersenyum lebar pada Sashi. "Hey!" "Lagi ngapain, Bang?" tanya Sashi memperhatikan papan tersebut. "Ini, mau buat tulisan buat nyambut kedatangan papa mamanya Jeff. Tapi belum dapet ide tulisannya gimana." Franky menepuk bahu Soni. "Udah lah makan aja dulu, biasanya kalo perut udah keisi, ide-ide di kepala bertebaran." Sashi mengangguk tegas. "Setuju banget." Soni pun menurut. Ia menyandarkan papan berukuran 2x1cm tersebut di sebuah pohon, lalu mengikuti Franky dan Sashi ke restoran belakang. Sashi lagi-lagi terpana, karena restoran tersebut cukup eye catching. Ada waterwall dengan suaranya yang menenangkan, sementara di bagian depan terdapat kolam berisi puluhan ikan koi. Franky melambaikan tangan pada sepasang bule yang sedang minum di kursi pojok. "How's the food?" tanya Franky pada mereka. "Lekker! Thank you for the recommendation." Franky menunjuk salah satu sofa dan menyuruh Sashi untuk duduk, sementara ia ke belakang untuk memesan makanan. "Son, lu mau nasi goreng wagyu juga?" "Ga pake nasi goreng deh gue... wagyu 400gr aja." "Okay." Sementara Franky menghilang di dapur, Sashi mengirim pesan pada Wayan untuk segera menyusulnya. "Kamu tadi pergi dari rumah Jeff?" tanya Soni. "Oh nggak, semalem pulang kerja, aku langsung ke rumah Bu Putu. Sengaja biar Pak Sopirnya ga repot harus jemput satu-satu." Soni mengangguk. Ia tidak bisa percaya bahwa Sashi bekerja sebagai wanita penghibur. Ia sama sekali tidak memiliki aura bitchy, bahkan tampak intelek dengan pembawaannya yang alami. Namun karakter terdalam seseorang siapa yang tahu. "By the way, Bang Soni jadi mau dibikinin eclaire?" "Oh iya, dong! Istriku suika banget, katanya pengen pesen banyak kalo bisa. Tapi kalo kamu lagi nyantai aja." Sashi mengangguyk. "Kalo di sini dizinin bikin, boleh nanti aku bikinin banyakan." Soni kembali tersenyum lbear. "Iya juga, ya. Di sini juga masih sepi, dapur ga begitu sibuk. Nanti biar aku atur aja.Atau setelah selesai party biar agak santai sedikit." "Boleh," jawab Sashi. "Gampang kok bikinnya, cuman perlu takaran yang pas sama bahan-bahan yang bagus aja." "Yap! Soalnya aku sempet juga tuh pesen yang sama persis, tapi rasanya jauh beda. da yang kemanisan, kurang lembut, terakhir cokelatnya pait." Sashi tertawa. "Perjuangan banget ya cuman mau nyari eclaire yang enak." "Soalnya aku sama istri suka banget kuliner dari sejak pacaran. Doyan makan." "Oh ya? Kenapa ga dibawa ke sini ikutan party?" "Tadinya sih mau ikut, cuman lagi ada adiknya di rumah, jadinya ga jadi. Kapan-kapan aku kenalin sama kamu, paling dia bakalan minta resep eclaire." Sashi tertawa. "Its okee.." "Food is coming!" ujar Franky membawa kereta makanan. berisi dua nasi goreng wagyu dan sepiring wagyu besar untuk Soni. Ia juga membawakan jus berry dan sebotol air mineral untuk masing-masing dari mereka. "Kata chefnya, cobain jus berry yang baru dibuat hari ini. Lagi demo, katanya terbuat dari strawberry, blueberry sama blackberry," ujar Franky sambil menaruh jus tersebut di hadapan Sashi dan Soni. "Whoaaa... makasih banyak!" Sashi menyendok nasi goreng yang tercium sangat wangi dan menggugah selera. Apalagi ia menyukai nasi goreng yang diberi sedikit mentega. Mengingatkan dulu sewaktu kecil, ibunya selalu memberi sarapan nasi goreng mentega dengan telor cerplok dan nugget atau sosis tiap kali ia mau berangkat sekolah. "Gimana, enak ga?" tanya Franky. Sashi langsung memotong wagyu dan memasukkan pada mulut. Ia langsung memejamkan mata sambil mengunyah. "Whoaaa... surga banget," katanya yang membuat Soni dan Franky tertawa. Mereka pun makan sambil membicarakan mengenai cottage. Sashi yakin, jika marketingnya bagus, cottage ini pasti akan selalu banyak pengunjung. Ia jadi gatal ingin memberitahukan pada Emil. Biasanya, jika ada tempat baru seperti restoran, hotel atau tempat wisata, Emil langsung mencari talent untuk mereviewnya. Kadang staff House of Skills membuat vlog dengan menjadikannya konten yang seru. Ponsel milik Franky berdering. Ia melihat layarnya dan langsung tertawa. "Si Jeff." "Suruh video call," kata Soni. Franky pun menyalakan video dan langsung diterima oleh Jeff. "Siang, ma broooo.... gimana, udah enakan badan?" "Lumayan, ini mau siap-siap jemput nyokap bokap ke bandara. Gimana? Udah disiapin semuanya?" "Baru 30%, santai aja. Sashi juga mau bantuin ngehias. Kami lagi makan siang di restoran belakang. Lagi nyicip masakan demo chef kita." Franky lalu menyorot Soni dan Sashi supaya terlihat di video. Sashi melambaikan tangan pada Jeff dan hanya dibalas dengan senyuman. "Oke deh, gue percayain sama lo ya. Besok gue ke sana sekitar jam 7 malem." "Siaaap... tenang aja, don't worry be happy. Fokus aja jemput nyokap bokap, yang di sini biar kami yang urus."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN