Sudah hampir delapan bulan sejak terakhir kali orangtua Jeff datang ke Bali. Jeff sendiri sudah setahun lebih tidak menjenguk mereka di Australia. Selain karena sibuk mengurus cottage, ia juga bermasalah dengan adiknya yang problematik. Jeff mempunyai seorang adik laki-laki berumur 24 tahun. Sewaktu berlibur di Bali, adiknya itu sempat ketahuan menggunakan drugs bersama teman-temannya. Drugs yang ia gunakan berupa sabu. Namun Jeff tidak memberitahu kedua orangtuanya tentang masalah tersebut. Yang mereka tahu, Jeff dan adiknya yang bernama Jamie itu hanya selalu berbeda pendapat mengenai banyak hal.
Waktu sudah meunjukkan pukul tiga sore. Jeff langsung menggas mobilnya begitu percakapan di telepon bersama Franky selesai. Ia masih merasa aneh melihat Sashi bisa berbaur dengan kedua sahabatnya. Terutama, Jeff selalu menginginkan Alina bisa seperti itu. Pacarnya tersebut memang baik dan ramah, namun mereka terlalu formal tiap kali berinteraksi. Franky sendiri selalu terlihat berusaha membuat Alina nyaman dengan sikap santainya, namun ternyata hal tersebut sia-sia. Jeff tidak pernah sekalipun melihat Alina duduk mengobrol dengan Soni atau Franky tanpa dirinya.
Jalanan pada sore hari lumayan macet. Jeff sudah mengirim pesan pada ibunya jika dia akan menunggu di coffee shop seperti biasa. Ia juga mengirim pesan pada Alina untuk memberitahukan rencananya.
[I wish you were here,] tulis Jeff pada kolom pesan. Ia menunggu cukup lama untuk mendapat balasan.
[I hope so, cuman aku lagi hectic banget, babe. Next time aku gabung sama acara keluarga kamu, ya. Salamin aja buat mereka. Nanti aku pesenin cake buat mama papa dari sini.]
Jeff menaruh ponselnya sambil menghela napas. Alina sudah tidak sehangat dulu. Pekerjaan membuatnya menjadi lebih dingin. Itu sebabnya Jeff mengusulkan supaya pacarnya tersebut membuka cabang di Indonesia. Bagaimanapun Jeff yakin, jika mereka berdekatan, semuanya akan seperti dulu lagi. Jeff benar-benar ingin menikah dengannya. Sedari dulu, ia sudah bercita-cita untuk menikah muda dan memiliki anak yang bisa bermain dengannya. Ia tidak mau jarak usia dengan anaknya terlampau jauh.
[Setelah semua urusan di sini beres, aku akan langsung terbang ke sana,] tulis Jeff lagi.
[Of course. Can't wait!]
Jeff tidak bisa membayangkan harus menjalin hubungan baru dengan wanita lain dan memulai semuanya dari nol lagi. Ia dan Alina sudah lama saling mengenal dan tahu kelebihan atau kekurangannya.
"Jeff!" seru seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah Ibunya.
Jeff langsung memasang senyum lebar sambil berdiri untuk menyambut. "You looks good, Mam. Sehat-sehat aja, kan?"
"Sehat. Kamu juga semakin berotot." Ibunya memegang lengan Jeff yang tampak besar.
"Mana Papa?"
"Itu tadi lagi beli minum di counter sama Jamie."
Kening Jeff berkerut. "Jamie? Dia ikut ke sini?"
"Iya, maaf ga kasih tahu kamu sebelumnya. Dia ikut ke sini karena mau ketemu sama temen-temennya juga."
Tidak lama setelah itu, ayah dan adiknya pun muncul. Sang Ayah langsung merentangkan tangan untuk memeluk Jeff, sementara Jami hanya melakukan high five. Jeff hanya berharap adiknya itu tidak banyak bertingkah dan menyusahkan dirinya, terutama kedua orangtuanya.
"Oke, mau langsung ke rumah? Atau mau makan dulu?" tanya Jeff sambil mengambil alih koper yang dibawa oleh ayahnya.
"Cari makan dulu dong, Sayang. Mama tadi di pesawat ga makan, ga suka makanannya."
"Oke, yuk"
Jeff menggandeng ibunya sementara sebelah tangannya mendorong koper.
***
Sashi dan Wayan sibuk mencari toko yang menjual keperluan untuk party lewat internet. Setelah mendapatkannya, Sashi memesan confetti, lampu hias, rangkaian bunga, serta beberapa balon. Setelah semua barang pesanannya datang, mereka pun bergabung dengan Soni dan Franky di halaman depan.
WELCOME TO ROSIE & RILEY's COTTAGE. THIS PLACE IS DEDICATED FOR YOU BOTH AS A GIFT TO YOUR WEDDING ANNIVERSARY.
Sashi bisa merasakan kebahagiaan kedua orangtua Jeff ketika nanti membaca papan tersebut. Jeff tampak sangat menyayangi mereka. Banyak orang yang bilang, jika hendak mencari suami, carilah pria yang memperlakukan ibunya dengan baik. Sashi bisa melihat bahwa Jeff tipe orang yang romantic kepada pasangannya. Ia teringat ketika pertama kali mereka bertemu. Jeff tampak sangat bahagia ketika hendak menunggu kekasihnya. Candle light dinner, anggur, dan sebucket bunga yang ia persiapkan membuat Sashi mendambakan pria romantic seperti itu.
Jio bukannya orang yang tidak romantis. Namun keromantisannya masih sangat standar jika dibandingkan dengan Jeff.
"Sash, bisa mabilin lampu hias yang itu?" tanya Soni yang sedang di atas tangga kayu. Ia hendak memasang lampu lilit di beberapa pohon.
"Oh bentar." Sashi mengambil lampu tersebut dan menyerahkannya pada Soni. "By the way, aku boleh hias sedikit papannya, ga?"
"Sure, hias aja," jawab Soni sambil menggigit paku.
Sashi memberi lem pada beberapa bunga plastik untuk ditempel pada papan, supaya terlihat semakin cantik. Sementara Wayan dn Bu Putu mempersiapkan pondok paling depan untuk ditempati oleh kedua orangtua Jeff. Mereka mengepel, memasang hordeng, menaruh bunga segar di meja sebelah tempat tidur, juga beberapa lilin aromatherapy.
Mereka menghabiskan waktu mempersiapkan semuanya hingga matahari terbenam. Soni mendesah senang karena hasilnya bagus, terutama papan yang dihias oleh Sashi. Papan tersebut ia taruh terlebih dahulu di samping salah satu pondok dan akan mereka pasang beberapa jam sebelum kedatangan Jeff dan keluarganya.
"Lumayan pegel juga pinggang gue," ujar Franky yang sedari tadi menghias area kolam renang, karena acara barbeque dan party akan diadakan di sana.
"Tempat spa yang di depan itu udah jalan belum, sih?" tanya Sashi, tiba-tiba seluruh badannya ingin diurut.
"Masih pada training, sih, therapisnya. Tapi ga ada salahnya juga kita jadi kelinci percobaan. Ya gak, Son? Ke sana kita, yuk."
"Ayoook... bener juga, kenapa ga dari kemaren kita gunain trainer-trainer itungerawat badan kita."
"Ajakin Bu Putu sama Wayan, boleh?" tanya Sashi.
"Ajakin aja, sekalian aku juga mau ganti baju dulu, ga enak keringetan," jawab Franky.
Sashi pun mencari Bu Putu dan Wayan di pondok depan. Keduanya sangat antusias mengenai ide untuk spa. "Udah lama banget ibu ga diurut. Aduh, ini otot pasti udah padaan tegang."
"Ya udah, kita tunggu di luar aja. BAng Franky sama Bang Soni mau ganti baju dulu, katanya."
""Mereka ada bilang, Pak Jeff datang jam berapa sama mama papanya?"
"Katanya sih jam tujuhan malem udah nyampe sini. Jadi besok jam lima, kita siapin lagi semuanya. Make sure ga ada yang ketinggalan," jawab Sashi.
"Wailaaah... pasti ayah ibunya seneng banget. Bangga mereka, punya anak ganteng, sukses, baik juga sama orangtua. Beruntung banget nanti yang jadi istrinya Pak Jeff."