Sharing

1008 Kata
Sebagai anak sulung, Jeff memang lebih dekat dengan ibunya. Ia seringkali menceritakan hal apa pun sedari kecil dulu. Bagi Jeff, Ibunya adalah teman dan merupakan life diary-nya. Meskipun mereka jarang bertemu, di saat-saat melepas rindu seperti ini, banyak hal yang ingin Jeff ceritakan pada ibunya tersebut. Kini mereka duduk di ruang makan, sementara ayahnya sudah beristirahat dan Jamie pergi keluar menemui teman-temannya. "Bagaimana kabar kamu dengan Alina?" tanya Ibunya sembari makan brownies yang mereka beli di toko kue dalam perjalanan ke rumah Jeff. "We are fine. Beberapa minggu lalu dia dateng ke sini, cuman beberapa hari. Jadi yaa... udah jarang banget ketemu. Alina sibuk sama kerjaannya, Jeff juga lumayan sibuk." "Terus gimnana kalian mau nikah kalo LDR kayak gitu?" Jeff menyandarkan punggung ke sandaran kursi. "Jeff udah nyuruh dia buka cabang di sini. Biar yang di Singapore diurus sama managernya aja. Dia masih mikirin, sih." Ibunya mencebik. "Ya kalo dia emang mau nikah sama kamu, harusnya mau pindah ke sini. Apa jadinya kalau berumah tangga tapi pisah negara gitu. Atau kamu mau tinggal di Singapore?" Jeff tertawa. "Nggak lah, Mam. Mana betah Jeff di sana. Kehidupan di Singapore itu lumayan kaku. Nggak ada pantai, ga ada bukit. Enaknya ke sana cuman buat belanja doang." "Nah kan... nanti kamu keburu tua kalo diundur-undur terus. Mama kan mau gendong cucu." "Tipikal mama-mama banget, ya," goda Jeff. Ibunya pun menepuk pundak Jeff. "Kamu ini... ya itu kan emang impian setiap orang tua. Udah punya anak, giliran punya cucu biar ga kesepian. Tapi ya balik lagi, itupun kalo kamu emang udah siap menikah dan punya anak. Kalo belum ya jangan dipaksain. Mama ga mau nanti rumah tangga kamu malah ga bener." "Oke, Mam." "Coba mama tanya sekarang. Apa kamu udah yakin mau nikah sama Alina?" tanya sang Ibu sambil memajukan badannya sedikit ke arah Jeff. "Sure." Jeff hanya bisa menjawab itu, meski terdengar artinya sangat kosong. Ia tidak tahu apa yang patut dipertahankan dari hubungan mereka yang mulai mendingin. "We'll see, semuanya butuh persiapan yang ga mudah. Mama doain aja Jeff sama Alina bisa ketemu waktu yang tepat dalam waktu yang dekat." "Oke, mama percaya sama pilihan kamu." Jeff meraih ponsel untuk melihat jam. "Udah malem banget nih, Mam. Tidur gih.. besok kan kita mau pergi." "Kamu itu dari kemaren bilang mau pergi mau pergi, tapi ga kasih tahu mau ke mana." "Ya kan namanya juga surprise, mau ngajakin liburan." Jeff menarik tangan ibunya untuk berdiri, lalu mendorong punggung beliau untuk segera memasuki kamar. "Jamie nanti pulang, ga?" tanya Jeff. "Tadi sih bilangnya mau nginep sama temen-temennya. Kamu juga tidur, Jamie ga usah ditungguin." "Oke." Jeff menutup pintu kamar orangtuanya, lalu memasuki kamarnya sendiri. Ia kembali memikirkan perkataan ibunya mengenai keyakinan untuk menikah. Jeff memang ingin segera menikah, namun apakah Alina sosok yang tepat? Ia sendiri belum begitu yakin. Jeff sangat mencintai Alina, namun akhir-akhir ini ia hanya merasa perasaan cintanya tersebut tidak berbalas sebagaimana mestinya. Dulu, hampir setiap waktu Alina menghubungi Jeff dan menceritakan hari-hari yang sudah dilaluinya. ALina juga sering mengingatkan Jeff untuk sekadar makan atau tidur cepat. Saat ini kekasihnya itu hampir tidak pernah membicarakan apa pun. Jeff memerhatikan layar ponsel sambil bersandar di atas kasur. Ia melihat kontak ALina yang sedang online. Ia tidak tahu saat ini Alina sedang berkomunikasi dengan siapa, yang pasti ia terlalu malas untuk menyapanya. *** Jio mengajak semua staff untuk menginap di sebuah villa daerah Ciwidey, tepatnya di kaki gunung. Di sana terdapat kolam pemancingan dan swipping pool air panas. Selain untuk service endorse yang pemotretannya bervariasi, Jio juga ingin mencairkan suasana antara Renata dengan teman-temannya, terutama dengan dirinya sendiri. Mereka pergi siang hari, menggunakan dua mobil, mobil Jio dan mobil Revo. Sementara Wiggy ingin menggunakan motor kawasakinya saja supaya lebih leluasa. Sesampainya di sana, beberapa staff sangat takjub dengan pemandangan villa. Benar-benar berada di kaki gunung dengan perkebunan sayuran sepanjang mata memandang. "Ji, ini ada ikannya?" tanya Emil menunjuk kolam pemancingan. "Ada, kok. Tapi tetep harus bayar. Nanti gue bilangin ke penjaga villanya. Biar makan malem kita makan ikan bakar aja," ujar Jio sambil menatap Noni. "Ngapa liat gue? Ogah yaa, kalo gue masak sendirian." "Ya nggak lah, kan ada Emil." "Oke, aku sama Emil masak, Renata sama Dixie yang cuci piring." Dixie yang mendengarnya langsung cemberut. "Ih airnya kayak es di sini, nanti aku kedinginan." Noni hanya memutar bola mata. Ia kesal kenapa Dixie termasuk orang yang harus diajak berlibur di villa. Karena dia sama sekali belum resmi menjadi bagian dari House of Skills. Lagi pula, ia baru sadar bahwa selama di kantor, Noni dan EMil yang selalu memasak, sementara Shaki bagian mencuci piring. Tidak pernah sekalipun Noni melihat Renata maupun Dixie berkontribusi dalam urusan pekerjaan seperti itu. Jio yang melihat Noni tampak kesal, akhirnya berusaha menengahi. "Oke, gini aja deh... semua harus turun tangan. Non, lu yang bikin bumbunya, karena cuman lo yang bisa masak. Emil yang bakar, Renata sama Dixie siapin tempat dan peralatan makan, nanti yang cuci piring biar gue sama Shaki." "Terus si Wiggy ngapain?" tanya Noni ingin mendengar keadilan. Wiggy yang mendengar pertanyaan tersebut, langsung menjawab sambil lewat memegangi alat pancing. "Gue ya mancing lah." "Anterin gue belanja dulu. Pake motor supaya cepet.," pinta Noni. Wiggy pun menyerahkan pancingannya pada Shaki. "Ya udah, ayok." "Shaki kan bisa pake motor juga. Biar dia yang anter, Wiggy mancing dari sekarang biar dapet banyak ikan," kata Dixie yang tiba-tiba terbakar cemburu, sementara Noni ingin tertawa. "Tenang aja, Wiggy udah pro dalam hal mancing memancing. Cetek buat dia. Lagian aku pengennya belanja sama Wiggy aja. Bosen sama yang lain," jawab Noni dengan nada yang dibuat selembut mungkin. Emil yang berada di dekat mereka, berusaha menahan tawa. Sementara WIggy tidak memperlihatkan reaksi apa pun. Begitu menaiki motor, Noni berbisik pada WIggy. "Pinjem jaket lo, dong. Gue kedinginan." "Lo tadi bukannya udah bawa jaket super tebel?" "Males turun lagi. Cepet, buka jaket lo!" Wiggy pun melepaskan jaketnya, sementara Noni melempar senyum pada Dixie yang terus memerhatikan mereka berdua dengan wajah masam. "Thank you, gue peluk lo biar lo ga begitu kedinginan." Badan Wiggy langsung berubah kaku. "Eh, ga usah." "Gapapa, nyantai aja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN