Papan sudah dipasang di pekarangan depan. Para chef juga sudah sibuk memasak sedari pagi untuk membuat menu special. Sashi memutuskan untuk membuat eclaire atas permintaan Soni. Menurut pria itu, hidangan yang akan disantap nanti malam akan sempurna jika pencuci mulutnya adalah eclaire buatan Sashi. Dibantu oleh Wayan, Sashi pun membuat 20 boks dessert tersebut dalam kotak berukuran 10x10.
"Kamu udah berapa kali ketemu orangtuanya Jeff?" tanya Sashi pada Wayan.
"Udah tiga kali, Kak. Tapi ga lama-lama ketemunya."
"Mereka kayak gimana sih? Asik ga orangnya?"
Sashi tiba-tiba merasa insecure untuk bertemu kedua orang tua Jeff. Ia tidak mau menjadi penyebab kecanggungan mereka karena hanya orang asing.
"Baik banget, Kak. Ibunya Pak Jeff suka bawain kami oleh-oleh dari Australia, terus katanya Ibu juga sering dibawa makan di luar sambil nemenin belanja. Aku juga sering dibeliin beberapa barang kalo ibunya Pak Jeff pergi shopping."
"Aaahh... gitu, ya. by the way, nanti yang nyalain confeeti pas mereka dateng, aku sama kamu aja, ya."
"Oh iyaa... tadi juga ada cake dateng dari Mbak Alina. Udah disimpen sama Pak Franky di belakang."
Sashi merasa geli karena Wayan dan Bu Putu memanggil Jeff, Soni maupun Franky ditambah embel-embel bapak. Ia pernah menanyakan pada mereka dan menurut Bu Putu, meskipun ketiga pria itu belum tampak seperti baak-bapak, itu hanya untuk kesopanan saja. Jeff pernah meminta Bu Putu untuk memanggilnya 'Mas' saja, namun rupanya Bu Putu sudah terbiasa.
Semua peralatan untuk membuat eclaire sudah dibereskan. Ada staff yang untuk mencuci piring, jadi tugas Sashi dan Wayan tidak begitu repot. Semua boks eclaire itu sudah ditaruh di dalam kulkas. Nanti malam sudah bisa dinikmati.
"Udah, yuk. Kita balik ke pondok, mandi dulu. Udah mau sore juga," ajak Sashi.
"Oke, Kak. Nanti kata Pak Franky jam enam ngumpul di area depan. Pak Jeff bakalan telepon kalo udah nyampe sekitar lima menit lagi."
"Sip."
Sashi berjalan ke arah pondoknya sendiri sambil ememriksa ponsel. Noni mengirim beberapa fotopemandangan villa, dengan tulisan: [Emang lo aja yang bisa refreshing, nih gue juga lagi di villa. :p ]
Sashi tertawa. [Di mana tuh? Sama siapa, hayooo?]
[Hehehee... sama Wiggy.]
Noni pun mengirim fotonya bersama Wiggy sedang di atas motor. Sashi tampak shock, sehingga ia mengetik dengan cepat untuk membalas. [Sumpah kalian cuman berdua nginep di villa?]
[Hahahah... percaya gaaa?]
Sashi pun langsung membuka i********: untuk melihat akun Emil dan Shaki. Kedua temannya itu juga menggugah story sedang berada di villa yang sama. Sashi meng-screenshot update-an tersebut dan mengirimnya pada Noni. [Gue dapet bukti, kalo lo ke villa bareng rombongan, yaa. Aduuh, hampir aja gue pingsan kesenenngan.]
[Wkwkwwk ketahuan deh... gue lagi di supermarket nih berdua sama Wiggy. Bete aja di villa ada si Dixie. Maap yee selalu sensi sama adek tiri lo.]
[Kok dia bisa ikut?]
"Tahu tuh, kebetulan aja tadi dia dateng pas kita lagi siap-siap. Terus si Jio basa basi aja ngajakin dia, eh malah diseriusin.]
Sashi tertawa. [Emang kalian itu ke villa dalam rangka apa?]
[Dalam rangka refreshing setelah beberapa hari ini kepala kita tegang dan emosional. Semua biaya ditanggung sama si Jio. Dia juga minta untuk cairin suasana sama si Renata demi kerjaan.]
[Oohh.. oke deh, have fun, ya. Jangan dibawa bete gitu, dong. Mubazir nanti liburannya."
[Oke, udah dulu ya. Gue udah selesai belanjanya. Mau balik villa. Bye!"
Sashi sudah sampai di pondok. Ia pun meletakkan ponselnya untuk mandi. Namun setelah mengambil handuk, ada perasaan yang ganjil. Setelah dipikir-pikir, ia baru sadar bahwa ternyata tadi menggunakan akun i********: aslinya untuk melihat story Emil dan Shaki.
***
Ternyata benar, Wiggy sangat jago memancing. Dalam satu jam, ia sudah mendapatkan 12 ikan, sementara Emil yang lebih lama duduk di pinggir kolam hanya mendapatkan tiga ikan saja. Noni sendiri sudah memblender semua bumbunya. kini tugasnya adalah mencuci ikan yang akan dibakar.
"Ren, bantuin gue cuci ikan, dong," ajak Noni. Ia lebih memilih untuk meminta tolong pada Renata daripada kepada Dixie."
"Ewww... gue ga pernah megang ikan, sih."
Noni berdecak. "Makanya sini, gue ajarin supaya bisa. Kan ga mungkin juga gue yang kerja sendirian dari tadi."
Akhirnya Renata beranjak dari kursi. Ia mengikuti Noni ke dapur yang langsung menyimpan tumpukkan ikan tersebut di wastafel. "Gini aja deh... biar gue yang cuci semua, lo gliran yang lumurin bumbu ke ikannya. Gampang kan kalo ngasih bumbu doang?" tanya Noni. Bukan untuk berbelas kasihan, namun ia ingin bekerja dengan cepat. Renata pasti akan memperlambat pekerjaannya karena merasa geli dan jjik dengan ikan mentah.
"Oh iya, boleh."
Mereka pun memulai pekerjaannya masing-masing sambil mengobrol berbasa basi. Meskipun suasana di antara keduanya masih tampak canggung, namun mereka bersyukur karena Noni mau berbicara lagi padanya. Renata bukannya tidak tahu kalo dirinya jahat telah mengkhianati Sashi. Namun siapa yang bisa menolak jatuh cinta? Perasaan itu sangat alami dan Renata tidak mampu menolaknya. Tidak ada yang tahu bahwa setiap hari ia merasa bersalah pada Sashi dan ingin meminta maaf. Namun rasanya percuma, kecuali ia siap untuk berpisah dengan Jio.
Setelah semua tugas selesai dikerjakan, Noni dan Renata kembali keluar hendak menyerahkan ikan-ikan yang sudah dilumuri bumbu tersebut kepada Emil.
"Non, sini deh!" seru Emil keika Noni keluar dari rumah. "Cepetan!"
"Apaan sih?"
"Lo ada aktifin Instagramnya Sashi?" tanya Emil dengan wajah masih shock.
"i********: Sashi? Nggak, passwordnya aja gue ga tahu."
"Nah, aneh kan? Si Jio juga bilangnya ga tau password i********: Sashi."
"Kenapa emang?" tanya Noni penasaran.
"Nih lihat." Emil menunjukkan viewers story i********:. Di sana ada akun Sashi yang asli, baru saja nge-view story-nya Emil. "Dia juga ngeview punya si Shaki."
Noni langsung berpura-pura bego. Ia yakin, Sashi pasti lupa meng-twitch akunnya. "Papanya, kali."
Dixie langsung menjawab. "Papa ga pernah main i********:. Lagian masa sih papa tahu passwordnya Kak Sashi."
"Ohhh... Arin! Mereka kan deket banget. Mungkin Arin lagi ngerasa kangen sama Sashi, terus buka-buka i********: dia." Noni terpaksa berbohong. Ia hanya tinggal menghubungi Arin untuk mengonfirmasi kebohongan tersebut.
"Mungkin juga, sih," jawab Emil. Cuman tadi gue ngerasa kaget aja. Gue ngerasa Sashi bener-bener masih ada, dia tiba-tiba muncul.
"Ya kan ga mungkin juga dia terdampar di suatu pulau dan ga ngehubungin kita."
Emil mengangguk lesu. "Oke deh, mana ikannya? Siapa mau bantuin gue bakar-bakar?"