Jeff sedang memanaskan mobil ketika Jamie baru saja pulang. Ia diantar oleh temannya yang menggunakan mobil open cup warna merah. Teman-teman Jamie memang kebanyakan dari kaum borjuis, tipe-tipe anak orang kaya yang menghamburkan uang orangtuanya. Mereka juga dikelilingi banyak wanita cantik. Jamie sendiri memiliki wajah yang tampan dengan badan yang atletis. Tidak heran jika ia digilai banyak wanita. Menurut Ibunya, Jamie belum pernah mengenalkan perempuan apalagi membawanya ke rumah. Jeff tahu, hal tersebut dikarenakan adiknya tersebut tidak pernah serius dengan satu perempuan saja.
"Jamie, siap-sipa, kita mau pergi," suruh Jeff begitu Jamie melewati mobilnya.
"Mau ke mana?"
"Aku mau ngasih surprise buat papa mama sekalian ngerayain anniversary mereka. Jadi sebaiknya juga kamu ikut."
"Pergi sekarang?"
"Kalo perlu buat siap-sap ya kita tungguin."
Jamie berpikir sebentar. Ia sebenarnya masih kurang tidur dan tidak begitu menyukai acara keluarga. Tapi karena Jeff memintanya dan Jamie tidak ingin lagi bermasalah, karena teringat pesan ibunya yang menyuruh berjanji untuk tidak mencari ribut dengan Jeff. Akhirnya ia pun mengangguk. "Oke, aku mandi sebentar."
Sepeninggal Jamie, Jeff pergi ke dapur untuk mengambil minuman isotonik. Ia lumayan kelelahan karena baru selesai mencuci mobil. badannya masih belum begitu fit.
"Jeff, kamu bukannya pernah bilang kalo rumah itu ada yang nempatin?" tanya Ibunya yang baru saja masuk dapur.
"Iya, Mam. Namanya Sashi."
"Emang kamu ketemu di mana? Kok bisa-bisanya sih ngasih tumpangan ke orang asing."
Jeff sudah terlalu sering mendengar hal tersebut sehingga ia mempertanyakan dirinya sendiri. Apakah memang dirinya berlebihan dengan mengizinkan Sashi tinggal di sana? Dulu ia merasa Sashi memang membutuhkan pertolongan dan hanya dialah yang bisa memberinya. Entah mengapa Jeff tidak mencium aura negatif dari seorang Sashi, meski pada akhirnya ia sedikit terkejut begitu mengetahui profesinya.
"Orangnya emang lagi butuh pertolongan, Mam. Gapapa kok dia orangnya baik, tanya aja Bu Putu."
"Ya semua orang juga kalo pertama ketemu keliatannya baik-baik aja. Terus sekarang ke mana orangnya? kok ga kelihatan dari kemaren?"
"Lagi kerja. Kadang lembur juga, mungkin dia nginep di rumah temennya, barangkali. Jeff ga pernah nanya-nanya juga," jawab Jeff tidak ingin memberitahu bahwa Sashi akan ada di tempat tujuan mereka. "Oya, mam, udah siap-siap sama papa? Bentar lagi kita pergi. Jamie juga ikut."
"Loh, kamu telepon jamie?"
"Itu tadi dia udah pulang. Lagi mandi dulu."
"Oya? Ga liat mama. Bagus deh kalo dia ikut. Biasanya mana mau dia pergi-pergian sama keluarga. Ini aja ikut ke Bali karena ada temen-temennya di sini."
"Iya makanya, mama sama apa barang bawaannya udah disiapin semua, belum?" tanya Jeff lagi.
"Udah kok, kan koper kita aja belum dibongkar. Tinggal diangkut.
"Ya udah nanti biar Jeff yang angkat ke bagasi. Ini juga mau siap-siap dulu. Tunggu ya, Mam," ujar Jeff sambil mengusap lengan ibunya.
"Oke."
Jeff pergi ke kamar sambil membuka kausnya. Ia membersihkan diri selama lima belas menit, lalu memakai baju formal yang santai berupa kemeja biru muda dan celana jeans. Teman-temannya sudah mengabari melalui chat bahwa dekorasi sudah siap semua. Jeff juga memberitahu bahwa sebentar lagi ia dan keluarganya on the way. Ia juga meminta satu pondok lagi untuk dibersihkan karena adiknya akan menempati.
Suhu di Ciwidey mencapai 12 derajat celcius sehingga Noni membawa selimut dari kamar untuk berkumpul di pinggir kolam ikan. Emil membuat api unggun supaya mereka mendapat kehangatan. Semua sudah selesai makan malam yang lezat dengan pencuci mulut berupa potongan buah. Di sana mereka melakukan meeting serius mengenai kinerja House of Skills untuk ke depannya. Jio selaku co-founder meminta pada mereka untuk selalu kompak, produktif dan saling bahu membahu.
"SDM kita memang sedikit, tapi gue lebih suka segini dulu supaya lebih fokus dan teratur. Gue tahu kemampuan lo semua dan gue yakin kalo kalian konsisten, grafik kita bakalan naik lagi. Kemaren grafik kita sempet turun paska Sashi meninggal. Gue tahu kita jadi pincang gara-gara itu. Tapi gue mohon, kita harus inget kalo Sashi mati-matian bikin House of Skills dari nol. Dan elu semua ngikutin kami dari awal, mau berjuang bareng. Yang berarti, House of Skills adalah milik kalian juga. Jadi kita harus perjuangin apa yang udah Sashi perjuangin," jelas Jio.
Emil mengangguk. "Gue setuju. Gue pribadi sempet down buat ngerjain beberapa project. karena biasanya gue selalu sharing sama Sashi. Literally, dia lebih banyak komunikasi sama gue dalam hal kerjaan. Dia ngasih banyak gue masukan, solusi, bahkan bantu ngemanage semua project kita. Sekarang gue pengen buktiin sama dia, kalo kita bisa lebih maju dan ini semua untuk kita, dan untuk bikin Sashi bangga ngelihat kita dari atas sana."
"Okee, kita emang harus move forward. Kita bisa mengenang Sashi dengan bekerja lebih giat. Nama dia akan selalu ada di House of Skills," Noni menambahkan. "Gue cuman pesen, mulai hari ini, kita bener-bener harus kerja sebagai tim. Pisahin area pekerjaan dan pribadi. Gue pengen kita kayak dulu, ga hanya sebagai partner kerja, tapi udah kayak family. Apa pun masalah kalian, jadi masalah kita semua. Karena kalau kita udah kayak family, dan kantor udah kita anggap sebagai home, kerjaan kita juga makin ringan dan hoki bakalan dateng terus."
Semua setuju dengan pernyataan Noni. Malam itu, mereka melanjutkan pembahasan dengan hal receh dan penuh tawa. Tujuan Jio untuk mencairkan suasana akhirnya berhasil. Hingga tengah malam, dilanjutkan dengan bernyanyi, di mana Revo memainkan gitar, lalu Emil dan Noni menyanyikan lagu.
Ketika tengah malam sudah lewat dan suhu semakin dingin, semua memutuskan untuk pergi ke kamar masing-masing. Kamar di sana hanya ada tiga dan ketiganya diisi oleh Noni, Dixie dan Renata, sementara para lelaki menggunakan kasur ekstra dan menghamparkannya di ruang tengah dekat perapian.
Seakan teringat tentang kejadian sore tadi, noni memeriksa ponsel. Benar saja, Sashi sudah mengirimkan pesan dengan panik.
[Non, sumpah gue lupa ngeview story-nya EMil sama Shaki pake akun i********: gue yang asli!! Gimana dong?]
Noni pun segera membalas. [Udah tenang aja, tadi gue bilang ke mereka kalo itu mungkin aja si Arin. Nanti biar gue kasih tahu ke dia biar bisa kita kongkalikong. Btw, sorry baru bales. Kami baru selesai meeting di luar. Dilarang bawa ponsel. Lu sendiri gimana partynya?]
Noni menduga Sashi masih sibuk party atau malah sudah tidur karena chatnya tidak dibaca. Ia pun mematikan lampu dan menaikkan selimutnya sampai dagu.