Jio mengambil beberapa kayu bakar yang terletak di belakang villa untuk ditaruh di perapian. Villa tersebut memiliki banyak sekali extra bed. Ia mengambil salah satunya untuk diletakkan di kasur milik Revo, sementara kayu tadi diserahkan pada Emil karena pria tersebut yang kasurnya paling dekat dengan perapian.
Jio teringat ketika Sashi pernah mengatakan bahwa dirinya ingin menjadikan suasana kantor seperti rumah. Hal tersebut juga seringkali disampaikan pada teman-teman lainnya. Ia tidak mau kantornya mempunyai aura tegang dan menciptakan tekanan. Sejauh ini Sashi berhasil, karena itu hampir setiap staff memilih untuk stay di kantor hingga berbagi tugas pekerjaan kebersihan.
"Aku ga mau suasana kerja yang terlalu formal. Kita kerja serius, tapi dibawa enjoy. Aku juga ga mau kita terlalu ambisius nyari penghasilan. Pokoknya kerjain apa yang bisa dikerjakan sebaik mungkin dan tetap harus selektif. Jangan sembarangan nerima job, karena kita harus jaga branding," ucap Sashi kala itu.
"Apa the biggest goal kamu dalam pekerjaan ini?" tanya Jio.
"Bikin mini series, mungkin. Aku selalu pengen jadi sutradara. Kalo udah punya banyak modal, pengen deh bikin mini series. Kita punya kameramen sendiri, editor dan ngadain casting gitu. Yang pasti soundtracknya dari kamu."
"Kenapa dari aku?" tanya Jio lagi sambil memeluk Sashi dari samping.
"Iya dong harus dari kamu, cuz i'm your biggest fan! Aku pengen karya kita rilis sama-sama. That's my goal."
Hanya dengan mengigat moment itu saja, Perasaan Jio langsung melankolis. Matanya mulai berkacan-kaca. Sashi sering memuji lagu-lagu yang ia buat. Sayang sekali impiannya untuk membuat film harus terkubur bersama dengan jasadnya. Jio benar-benar tidak berdaya karena ingin melepas rindu pada Sashi. Ia ingin memeluknya walaupun hanya dalam mimpi.
Karena suasana villa sudah mulai sepi, hanya ada suara dengkuran Emil dan suara napas yang teratur dari teman-teman lainnya, Jio memilih untuk merokok di sofa dalam kegelapan dan berusaha mengosongkan pikiran. Namun semakin lama, pandangan matanya tertuju pada pintu kamar Renata.
Jio kembali membayangkan bagaimana pertama kali mereka saling terjerat hingga kepalanya terasa sakit. Jadi ia memutuskan untuk membuka kamar Renata yang tidak terkunci, lalu menguncinya dari dalam. Ternyata Renata juga belum tidur. Ia seakan tahu bahwa Jio akan datang menghampirinya.
Tanpa berbasa basi, Jio langsung menaiki tempat tidur, dan mencium bibir Renata dengan rakus. Renata pun dengan senang hati menyambutnya. Bagaimanapun ia belum mau berpisah dengan Jio. Meski di sisi lain ia merasa jahat, namun hatinya masih belum bisa menolak. Lagi pula Sashi sudah tidak ada. Renata berpikir bahwa sah sah saja jika ia dan Jio berhubungan sebagai pacar.
Kini keduanya saling melepas rindu. Ruangan yang tadinya dingin menjadi terasa panas dan membuat mereka terengah-engah. Jio sendiri seakan tidak sadar. Ia mencumbui Renata tanpa jeda, sambil membuka pakaiannya satu per satu. Mereka bergulingan ke sana kemari, berpindah posisi, hingga akhirnya Jio menindih tubuh Renata dan mulai memasukinya.
Jio tidak tahu, apakah ia melakukan itu karena merindukan Renata atau hanya ingin mengalihkan ingatan akan Sashi.
***
"Kamu beneran ga mau kasih tahu kita mau ke mana, Jeff?" tanya Ibunya Jeff ketika mereka sudah memasuki mobil.
Jeff dan ayahnya duduk di depan, sementara Jamie dan ibunya berada di belakang. "Rahasia dong, Mam. Tenang aja, ga jauh kok."
"Ah ketahuan banget sih ini mau nginep di hotel atau di villa, iya kan?"
Ayahnya menimpali, "Ga usah ditanya tanya begitu. Bukan rahasia lagi nanti namanya."
"Mama kan paling ga suka kalo dibikin penasaran, Pap."
Jeff hanya tertawa. Sengaja membuat ibunya mengomel. Alih alih menjawab, ia memilih untuk memutar lagu Connie Francis kesukaan ibunya. Dan ternyata memang mempan, ibunya langsung bersenandung tanpa bertanya tanya lagi.
Selama sisa perjalanan, Jeff hanya mengobrol dengan ayahnya tentang perusahaan. Ayahnya bekerja di bidang ekspedisi yang lumayan terkenal. Namun sebelumnya, ia adalah direktur di sebuah perusahaan telekomunikasi. Perusahaan ekspedisi ini sudah dijalani selama hampir lima tahun setelah ia pensiun sebagai direktur. Jeff mengusulkan supaya ayahnya mulai merambah pengiriman eksport hingga jangkauannya semakin luas.
Sudah satu jam lebih berlalu, Jeff langsung menghubungi teman-temannya untuk mengabari bahwa ia sudah mau sampai. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana teman-temannya itu menyambutnya. Karena sewaktu siang tadi, Jeff sempat minta dikirimkan foto apa saja yang sedang mereka kerjakan. Namun ternyata SOni maupun Franky tidak ingin memberitahunya.
Mobil pun berbelok ke halaman cottage. "Mam, Pap, Jamie, udah nyampe nih," ujar Jeff.
Seketika kembang api tampak meluncur, begitupun suara confetti terdengar. "Apa ini, Jeff?" tanya ibunya sembari melongo.
Jeff hanya tersenyum. "Ayok turun."
Ayahnya yang pertama kali turun, diikuti Jamie dan Ibunya. Mereka disambut papan besar bertuliskan, 'WELCOME TO ROSIE & RILEY's COTTAGE. THIS PLACE IS DEDICATED FOR YOU BOTH AS A GIFT TO YOUR WEDDING ANNIVERSARY' yang dihiasi bunga bunga indah, juga lampu tumblr supaya mudah terbaca.
Jeff memeluk pundak ayah dan ibunya sambil tersenyum lebar. "Mam, Pap, selama ini Jeff sebenernya sibuk buat persiapin ini. Karena mama papa sangat berharga bagi Jeff dan udah ngasih pelajaran hidup yang sangat bermanfaat, Jeff hanya ingin membalas budi. Happy wedding anniversary too."
Semua orang yang ada di sana bertepuk tangan, termasuk para chef.
Ayah dan ibunya terlalu haru hingga tidak bisa menjawabSementara Jamie melihat ke sekeliling, masih tidak paham apakah Jeff menyewakan tempat untuk mereka atau membelinya.
"Happy anniversary, Om Tantee..." ujar Franky sambil menyalami keduanya disusul oleh Soni, Bu Putu dan Wayan.
Ketika melihat Sashi hanya berdiri canggung di sana, Jeff pun memanggilnya. "Mam, ini Sashi, yang nempatin rumah belakang kita. Dia juga bantuin siapin ini semua."
"Wahh.. terima kasih banyak, Sashi. Oh ternyata ada di sini, tadi Jeff bilangnya lagi kerja."
"Hehe iya, tante. Happy anniversary, ya. Om, happy anniversary juga."
"Sash, ini adik saya, namanya Jamie," ujar Jeff sambil menunjuk pria di belakang orangtuanya.
Sashi langsung melihat dengan penasaran. Wajah Jamie mirip dengan Jeff, hanya lebih memiliki aura agresif, sementara Jeff terlihat tenang. "Hai, Jamie," Sashi mengilurkan tangan yang langsung disambut oleh Jamie.
Bu Putu dengan suara cemprengnya langsung berseru. "Ayok, semua ke belakang kita makan-makan ngerayain hari pernikahan ayah ibunya Pak Jeff."
Semua tampak bersemangat. Mereka menuju ke belakang, sementara Jeff dan ibunya berjalan pelan sambil menikmati pemandangan. Namun ketika rombongan depan sudah mulai jauh, sang ibu mencubit pinggang Jeff pelan. "Pantesan ya, kamu mau mau aja rumah belakangnya ditempatin. Wong orangnya cantik begitu."