Happiness

1002 Kata
Acara berlangsung meriah. Jeff bersyukur karena teman-temannya telah menyiapkan semua dengan baik. Ia bahagai melihat senyum dari kedua orangtuanya yang tidak pernah lepas. Jamie juga mengundang beberapa temannya untuk datang ke acara tersebut demi memeriahkan suasana, serta memamerkan cottage terbaru kakaknya. Franky mengisi gallon dengan bir dan menyediakan tumpukkan gelas kertas di sampingnya. Sebagai penggila party, Franky rela menjamu para tamu supaya mereka puas. “Ayok, ga usah sungkan-sungkan… ambil sepuasnyaaa!!” seru Franky dari kolam renang. Meskipun usianya sudah kepala tiga, tampaknya ia yang paling energik dan bersemangat. Namun berkat perilakunya, hampir semua teman Jamie jadi merasa tidak canggung mengikuti pesta. Jamie sendiri sudah mengenal Franky. Mereka kerap bertemu di klub ataupun di acara konser. Keduanya sama-sama suka party. Sashi berada di posisi tengah sambil menikmati barbeque dan mojito bersama Soni dan Wayan, sementara Bu Putu sibuk mondar mandir untuk membantu para pelayan. Padahal Jeff sudah memberitahu bahwa dia mengajak Bu Putu ke sini hanya untuk liburan, bukannya bekerja. Namun wanita paruh baya tersebut berdalih bahwa dirinya tidak enak jika berdiam diri. “Mam, Pap, ini dari Alina,” kata Jeff yang menyerahkan dua buah kotak. Satu kotak berupa cake dengan ucapan Happy Wedding Anniversary,  sementara kotak lainnya merupakan hadiah jam tangan couple untuk kedua orangtua Jeff. “Waaw… cantik banget, Jeff,” kata mamanya sambil menempelkan jam tersebut di pergelangan tangannya. “Sampaikan terima kasih kami untuk Alina,” sambung papanya. “Oke, Pap,” jawab Jeff. “Papa kalo udah capek istirahat aja, jangan dipaksain. Mama juga, kalo mau Jeff anter ke pondok yang udah disiapin Bu Putu.” Ibunya mengangguk. “Sebenernya papa emang udah ga kuat begadang, tapi mama masih sanggup. Cuman karena mama pengen lihat pondoknya kayak gimana dan berhubung ini adalah wedding anniversary papa dan mama, jadi kayaknya kita udahan dulu partynya. Biar anak-anak muda aja yang nerusin.” “Ya udah yuk, Jeff anter ke depan.” Jeff berdiri, lalu menarik kedua tangan ibunya. “Guys, bokap sama nyokap pamit istirahat duluan, ya. Gue anterin mereka dulu ke pondok,” ujar Jeff pada teman-temannya. “Oke, Om, Tantee… selamat istirahaat.” Ayah dan ibunya masih terkagum-kagum dengan suasana cottage yang seperti negeri dongeng. Mereka terharu karena Jeff memakai nama mereka berdua. “Mama masih ga nyangka kamu siapin ini semua udah sejak tahun lalu.” “Malah niatnya udah sejak tiga tahun lalu, Mam. Sejak mama ngeluh selalu ketakutan nginep di rumah karena takut kesapu tsunami.” Ibunya tertawa. “Sebenernya rumah kamu juga nyaman, cuman gatau… mama kan selalu ngeri kalo berhadapan sama air laut. Sekali lagi makasih ya, Nak.” “Anytime, Mam.” “Kamu punya brosurnya? Biar nanti papa kasih ke temen-temen papa di Australia dan partner bisnis yang mau liburan di Bali, supaya nginep di sini aja.” “Ga ada brosur, Pap, sekarang udah jamannya internet. Nanti Jeff kirim linknya ke w*****p papa, ya.” “Hahahahaa… maklum papa jarang main internet. Tapi bolehlah dikirim linknya yang langsung sekalik klik masuk ke foto-foto cottage ini.” Mereka sudah sampai di pondok paling depan yang lebih besar dari ponsok lainnya. “Yuk, masuk. Kamar mama sama papa ada di atas. Di bawah cuman ruang santai buat nonton, dapur sama kamar mandi aja.” Begitu membuka pintu, aroma bunga peony langsung tercium yang dihasilkan dari lilin aromatherapy. “Besok pagi, mama telepon Bu Putu aja kalau mau sarapan. Dia kan bangun pagi terus, biar nanti dianter ke restoran depan. Di sebrang juga ada tempat spa, bisa refleksi di sana. “ “Waaahh… kalo gitu kayaknya kita perpanjang aja liburan kita sampe dua minggu ya, Pap?” “Perpanjang aja sampai dua tiga hari, kalo tambah seminggu lagi, kerjaan papa nanti gimana? Banyak meeting yang harus di-reschedule.” “Iya iyaaa… mama kan bercanda," jawabnya sambil mencubit lengan suaminya. Jeff tersenyum. “Jeff balik lagi ke balakang, ya. Met istirahat.” Ayahnya menepuk bahu Jeff pelan. “Oke. Good night.” *** Franky mulai menyalakan lagu EDM dan semakin liar. Ia mulai mengajak seorang wanita bule masuk ke kolam renang. Sementara ketika Jeff kembali, Bu Putu dan Wayan langsung pamit untuk tidur terlebih dahulu. "Oke, Bu. Makasih banyak, ya, udah bantu nyiapin. Besok kalo saya bangun telat, tolong temenin mama papa sarapan." "Oh siap kalo itu, Pak Jeff. Ya udah kalau gitu kami masuk ke pondok dulu. Met malem, Pake Jeff." "Malaam." Jeff pun menghampiri kursi Sashi dan Soni yang sedang asyik mengobrol. Ternyata mereka sedang membicarakan mengenai rekomendasi TV Series. "But seriously, dari semua TV series yang aku tonton, Breaking Bad yang dari episode awal sampe terakhir grafiknya naik terus. Perkembangan karakternya keren, konfliknya ga lebay, dan endingnya klimaks abis. Game of Thrones juga bagus, meskipun season terakhir alurnya kecepetan dan under my expectation aja." Soni mnjentikkan jarinya. "Setuju banget. Which is slogan 'Winter is Coming' selalu digaungkan dari awal season, hampir semua nyangkain kalo itu bakalan jadi Big War yang penuh emosional, eh malah cepet banget udahannya. Gue juga ga setuju kalo Daenerys mati dan malah si Bran yang jadi raja. Jeff, lo udah nonton Game of Thrones, belum?" Jeff hanya menggeleng. "Dia sih sukanya film kayak Marvel, Sherlock Holmes, atau apa kemaren TV series yang lagi lo tonton?" tanya Soni. "Lucifer," jawab Jeff sebelum meminum birnya. "Nah iya, yang dibintangin Tom Ellis." "Aahh... aku juga nonton sih season pertama, belum sempet lanjut lagi. Tapi beneran bagus juga. Lucu." Mereka pun terus membicarakan mengenai film, seakan dunianya terpisah dengan orang-orang yang sedang party di sekelilingnya. Hingga ketika waktu sudah larut malam, Jeff melihat Sashi menguap beberapa kali. "Kamu kalo udah ngantuk, istirahat aja. Biar aku anter ke pondok." Sashi mengangguk. "Iya nih, payah udah ga kuat begadang. Suasananya bikin cepet ngantuk. Bang Soni, aku tidur duluan ya." "Iya iyaaa... istirahat, Sash. Thank you udah kasih rekomendasi. Makasih juga udah ikutan sibuk ngehias papan tadi." "My pleasure. Jeff, aku gapapa sendiri aja ke pondoknya." "Nggak, ayo biar aku anter aja." Sashi pun menurut. Padahal jaraknya tidak begitu jauh dan tentu saja masih di area cottage sehingga sama sekali tidak bahaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN