Sad

1005 Kata
Semua bibit tanaman sudah ditanam oleh Sashi sehingga badannya penuh keringat dan tanah. Ia belajar bercocok tanam pada neneknya yang selalu mengatakan bahwa rumah tanpa bunga itu bagaikan sayur tanpa garam, pantai tanpa bikini, buku tanpa bookmark atau gorengan tanpa cabe rawit. Sashi juga membeli beberapa pot bunga dengan bunga kaktus yang ia pajang di pinggir halaman. Kalau sudah semi nanti, pasti semuanya akan indah terlihat. Halaman belakang Jeff akan jauh lebih hidup. "Kak, aku pamit pulang dulu, ya," kata Wayan. Ia sedang duduk di teras sambil menggenggam sebotol air isotonik. "Kamu mandi dulu aja, ganti baju pake baju aku. Kemaren aku beli banyak baju, bisa kamu pilih dan sekalian buat kamu aja." "Oh, oke kak. Kalo gitu saya mandi dulu." Sashi menyuruh Wayan masuk ke kamarnya dan menunjukkan lemari tempat baju tersimpan. "Tuh ada di situ semua bajunya. Pilih aja." Wayan pun menghabiskan beberapa menit sampai ia menemukan kaus berwarna putih dengan bahan sifon juga celana kain panjang kotak-kotak. Postur tubuhnya memang hampir sama dengan Sashi, namun Sashi lebih tinggi. Sashi tidak keberatan jika Wayan memilih baju yang paling bagus. Karena ia sudah menghubungi Noni dan akan memintanya ,mengirimkan banyak baju ke sini. "Yang ini boleh, Kak?" tanya Sashi sambil memperlihatkan baju yang ia pilih. "Boleh, bebas. Aku juga mau mandi deh bentar lagi sekalian bikin ayam balado juga buat Jeff." "Oh iya kakak hari ini mau masak lagi? Mau saya bantuin?" "Ga perlu, dikit kok masaknya dan ga butuh waktu lama. Kamu pulang aja, kasian ibu nunggu." jawab Sashi. "Ya udah Wayan mandi dulu ya." Mereka pun membuka pintu belakang rumah Jeff. Wayan ke kamar mandi, sementara Sashi mengambil minuman dari kulkas lagi. Lalu menikmatinya di meja makan. Hari sudah menunjukkan jam tiga sore. Ia pun mengumpulkan bahan untuk dimasak. Ada telur, ayam, dan terung yang bisa dijadikan bahan untuk dibalado. Semua dilakukan dengan cepat. Menurut neneknya masakan akan lebih baik dan enak jika dilakukan secara manual. Neneknya tidak menyukai blender dan lebih menyukai mengulek semua bahan balado dengan tangannya sendiri hingga pegal. Berbeda dengan Sashi. kalau ada yang lebih praktis mengapa harus menyusahkan diri sendiri. Bahan pendamping lainnya, Sashi hendak membuat sayur pakcoy dengan bakso, juga kerupuk. Badannya terasa lelah dan semakin bersimbah keringat. Hingga Wayan pamit pulang pun, ia masih memotong telur rebus. Setelah semua beres, Sashi mandi dengan air panas, sepanas yang bisa ia rasakan. Ia berlama-lama di bawah shower hingga semua tubuhnya dan pikirannya menjadi lebih ringan. Di telepon tadi, Noni mengatakan bahwa Jio dan Revo sedang membuatkan lagu tribute untuknya. Sashi akan merasa geli sendiri jika sampai akhirnya lagu tersebut diupload. Lalu dengan Renata, sejauh ini wanita tersebut belum mampir ke House of Skills lagi. Noni bisa saja menghajar Renata jika taringnya sudah mengepul. Namun Sashi bilang tidak usah. Biarkan saja mereka mau berhubungan lagi. Yang penting Sashi akan mengamankan apa saja yang menjadi haknya di House of Skills. Ia juga merasa lega karena ternyata Dixie hanya pinjam mobilnya, meskipun adik tirinya itu memang terlihat ingin memiliki kendaraan milik Sashi tersebut. *** Langit sudah lumayan gelap begitu mobil Jeff memasuki halaman, Ia tadi mampir di sebuah beer house untuk menghabiskan waktu. Beer house tersebut milik temannya, jadi ia tidak begitu suntuk karena ada teman mengobrol. Kini sesampainya di rumah, ia mendengar ada seseorang di dapur. Pasti Sashi, karena jam segini Wayan sudah pulang. Benar saja, Sashi tiba-tiba muncul dari dapur, "Hey, tumben pulangnya telat." "Oh, saya tadi mampir ke kafe teman dulu. Kenapa?" taya Jeff sambil duduk di kursi untuk membuka sepatu. "Nggak, mau kasih tahu aja kalo aku udah masak ayam balado pake telur rebus dan terung. Udah agak dingin, sih, tapi biar aku angetin bentar, ya." "Tidak usah, saya tadi udah makan di luar. Kamu saja yang makan." Mendengar itu, Sashi kembali kecewa. Ia sudah lelah bekerja seharian di halaman dan masih berusaha menyempatkan diri untuk memasak, namun ternyata Jeff malah maka di luar. "Oh padahal aku udah masak banyak banget." "Sorry." Hanya itu yang Jeff ucapkan. "Aku lupa ga ngabarin kamu dulu. Mulai besok tidak perlu masak, karena saya akan sibuk di luar, oke?" Sashi mengerucutkan bibirnya. "Oke deh kalo gitu, kasih tahu aja kalo kamu pengen dimasakin, nanti aku buatin. Ya udah aku pamit ke kamar dulu. Selamat istireahat, Jeff." "Oya bentar, kata Wayan kamu mau kerja sama temen kamu, ya?" Sashi kembali membalikkan badan. "Iya, mungkin minggu depan mulai kerja. Kenapa?" "Kerja di mana? jam berapa?" "Ehmm... di club punya temenku. Dia bilang kerja dari jam lima sore sampai jam tiga subuh." "Kerja apaan?" tanya Jeff seolah itu pertanyaan angin lalu. "Ehmmm... bikin minuman segala macem. Lumayan buat pemasukan aku selama di sini, karena kalau ngandelin dari forex aja aku bisa sewaktu-waktu miskin." Jeff hanya mengangguk. "Oke deh. Kalo gitu saya istirahat dulu. Kamu juga selamat istirahat." Sashi hanya mengangguk dan merasa ada yang salah dengan cara Jeff bertanya, lebih tepatnya seperti sedang menginterogasi. Namun Sashi tetap dongkol karenaa lagi-lagi masakannya tidak disentuh, bahkan tidak dilihat oleh pria itu. Kalau memang mau makan di luar, setidaknya kasih tahu, jadi Sashi tidak kecapean. Ia pun mengobati kekecewannya dengan melakukan video call lagi dengan Noni. Jam segini pasti Noni sedang istirahat di kamarnya. Ternyata benar, karena temannya itu langsung mengangkat panggilan telepon dari Sashi. [Sas!! Gue lupa kasih tahu kalo kemaren bokap lo dateng ke kantor. Dan kayaknya besok dia bakalan balik lagi buat interogasi Jio. Soalnya si Revo kasih tahu kalo Jio yang ngakibatin lo pualng sendiri pake pesawat.] "Apa bokap gue marah? Apa dia kelihatan sedih?' tanya Sashi penasaran. [Kayaknya dia kesel juga sama si Jio. kalo soal sedih, ya pasti dia sedih lah cuman bokap lo pinter nutupin. Pokoknya pas kemaren gue balik dari Bali, langsung ke kantor, dia udah ada di situ ngobrol sama si Revo.] Sashi sangat merindukan ayahnya sehingga ia tiba-tiba mellow. "By the way, Non. Di lemari gue ada kotak perhiasan dari nyokap. Nanti lo bisa kirimin ke sini?" [Bisa dong, elu nanti list aja apa yang harus gue kirim biar gue siapin dari sekarang. By the way lo baik-baik aja kan di sana? Tinggal di mana lo?"]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN