Something Fishy

1007 Kata
Selama beberapa saat, Noni hanya mematung. .Orang itu sudah mengirimkannya foto dan tinggal satu kali klik lagi, si pengirim akan ketahuan identitasnya. Tidak ingin membuat diri sendiri penasaran lebih lama lagi, akhirnya Noni pun membuka inbox tersebut. Dan di sanalah foto Sashi dengan tulisan di tangannya sesuai permintaan Noni. "Arrrgh!" Reflek Noni melempar ponselnya ke atas kasur. Itu benar-benar Sashi. Tapi bagaimana mungkin?! Noni butuh untuk menenangkan dirinya sendiri untuk kembali mengambil ponsel tersebut dan membalas pesannya. "Bisa kita video call?" tanya Noni. Ia ingin semuanya lebih meyakinkan. Hatinya kini benar-benar serasa akan pecah karena mendapat berita yang sangat membahagiakan. Sashi tidak menjawab pesan tersebut, melainkan langsung menelepon. Noni yang semakin ngeri, mau tidak mau mengangkatnya. Ia menutup mulut begitu melihat Sashi di sana. Benar-benar masih hidup tanpa ada luka sedikitpun. "Sashi?" tanya Noni pelan setengah tidak percaya. Sashi hanya tersenyum. "Iye, Non. It's me! Gue masih hidup. Please keep silent. Lo di kamar kan ini? Udah lo kunci pintunya?" Noni masih melotot seperti sedang melihat hantu, namun akhirnya ia segera tersadar. "S-sebentar." Noni pun berlari ke arah pintu untuk menguncinya. "How come, Sas? Lo kok masih hidup?" tanya Noni ketika ia sudah kembali duduk di atas tempat tidur. "Tas gue dicuri. Orang yang nyuri kayaknya naik pesawat yang kecelakaan itu pake identitas gue," jawab Sashi yang langsung dimengerti oleh Noni. "Terus kenapa lo baru muncul sekarang! Apa lo gatau gue hampir depresi negbayangin lo kecelakaaan kayak gitu!" Sashi menjelaskan semuanya pada Noni kenapa dia terpaksa melakukan hal tersebut. Sashi benar-benar sudah muak dengan orang-orang di sekelilingnya. Dan ia hanya ingin menyendiri dulu tanpa ada gangguan. "Jadi sampe kapan lo bakalan netap di sana?" "Sampe gue ngerasa kalo waktunya udah tepat. Makanya gue hubungin lo buat mantau keadaan di sana. Sekalian gue juga mau minta tolong soal keuangan. Lo bisa kirim beberapa barang-barang gue, kan?" "Iya iya oke. Gila, gue berasa mimpi. Sass... lo bener-bener, deh," ucap Noni hampir menangis. Noni juga hampir frustasi setiap hari jika mengingat kejadian yang menimpa Sashi. Jadi tidak bisa dibayangkan betapa leganya ia saat ini. Sashi pun tertawa. "Sorry sorry... cuman lo doang loh yang tau dan gue percaya. Jadi bisa nanti kirimin barang-barang gue ke bali? Nanti gue chat mana aja yang perlu dikirim, "Oke siap!" Noni juga menceritakan pada Sashi mengenai adik tirinya yang tiba-tiba muncul menuntut harta warisan. Sashi memang sudah menduga, namun tetap saja dia tidak habis pikir. Atau tentang Wiggy yang hari ini baru datang lagi dan semua waswas dia akan kembali menghajar Jio. "Sebenernya gue juga pengen kasih tahu Wiggy. Tapi nanti deh lo dulu. By the way, nanti kita telpon lagi ya. Gue ada yang mau dikerjain dulu bentar." "Oh iya, baiklah. Gue juga mesti take vokal lagi. Bye!" "Bye." Sambungan telepon terputus. Sashi langsung membuka pintu begitu tahu bahwa Wayan sudah datang. Gadis itu sedang menyapu teras belakang dan menyingkirkan beberapa sepatu Jeff di sana. "Hey, Wayan. Udah sarapan?" "Udah makan roti tadi, Kak." "Masih laper, ga? Tadinya aku bikin salad, pengen dimakan bareng. Ga enak makan sendirian. Mau? Ini kerjaannya nanti dilanjut lagi aja." "Iya, boleh, Kak." Sashi pun berjingkrak senang. "Terus aku mau minta tolong juga kalo nanti udah beres kerja, bantuin aku tanam bibit di halaman, ya. Kita tanam bunga supaya ga gersang keliatannya," kata Sashi sambil membuka tudung saji dan mendekatkan hidangannya pada Wayan yang sudah mengambil piring kecil. "Oke," jawab Wayan lagi sambil menyantap saladnya dengan khidmat. Mereka berdua pun makan sambil mengobrol ringan. Besok ibunya Wayan sudah akan kembali bekerja. Wayan mungkin akan sesekali saja datang ke sini, mungkin tiap weekend. Sashi merasa sedih karena sudah menganggap Wayan seperti seorang adik. *** Jeff baru saja menyelesaikan meeting dengan beberapa anak buahnya. Hari ini ia sedang mengawasi pembuatan kolam renang di cottage. Semua harus ia awasi, karena project sebelumnya ada seorang pekerja yang curang. Jeff selalu ingin memberikan kualitas terbagus untuk membuat sebuah bangunan. Namun ketika ia membuat sebuah hunian di daerah Rinjani, ada beberapa pegawai yang malah membeli bahan dengan kualitas buruk. Mengetahui hal tersebut, tanpa ampun Jeff memecat semuanya dan sekarang memperkerjakan orang baru. "Gue balik duluan, Jeff." Soni beranjak dari kursinya sambil mematikan rokok. "Oke gue juga mau balik bentar lagi. Salam buat bini, ya." "Sip." "Eh by the way si Franky masih suka ngehubungin Robert?" "Robert mana nih?" Soni harus mengingat dulu sebelum pria gemulai itu hadir di bayangannya. "Ah, orang itu. Kenapa lo, mau minta cewek?" tanya Soni sambil mengikik geli. "Kagak! Pengen tahu aja, ada yang mau gue tanyain." "Telpon lah." "Oke. ya udah sana lo balik." Jeff kembali mengingat kejadian kemarin, ketika memergoki Sashi sedang mengobrol dengan temannya yang tidak lain tidak bukan adalah Robert. Franky, salah satu sahabat Jeff yang juga satu kampus dengan Soni, sering kali meminta jasa Robert untuk mencarikan wanita-wanita penghibur yang akan menemani kliennya dari luar kota. Menurut Franky, Robert merupakan orang yang selalu tidak mengecewakan. Kini Sashi berkata padanya bahwa ia akan bekerja dengan seorang teman. Jika temannya adalah Robert, maka pekerjaan Sashi pun tidak jauh dari pada melayani pria-p****************g. Jeff tahu bahwa sebenarnya dia tidak berhak marah. Itu merupakan kehidupan pribadi Sashi, toh ia juga butuh pekerjaan untuk menghidupi diirnya sendiri. Namun entah mengapa Jeff jadi merasa kurang nyaman. Apalagi Sashi tidak terlihat seperti wanita tipe penghibur. Karena merasa pusing, Jeff pun pamit pulang pada beberapa pegawai. Sepanjang jalan hanya Sashi yang dipikirkannya. Ia merasa bersalah ketika tadi menolak sarapan buatan wanita tersebut. Namun Jeff memang tipe orang yang tidak bisa menutupi moodnya. Ia akan selalu melepaskan emosi apa pun secara terbuka. Jika memang benar Sashi bekerja sebagai perempuan penghibur, entah Jeff akan tetap membiarkannya tinggal di rumah belakang atau harus menyuruhnya pergi. Terdengar jahat namun ia terpaksa harus melakukan karena mempunya traumatis dengan perempuan-perempuan seperti itu. Lamunannya tersadar ketika telepon berdering. Dari Alina. [Halo, Jeff.] "Ya sayang, kamu lagi di mana?" [Aku baru sampe apartemen, Mau kasih tahu mungkin awal bulan aku akan ke sana. Kamu jemput aku di bandara, ya. Aku udah beli tiketnya tadi.] "Whoaaa... oke, aku pasti jemput kamu. I miss you, Honey." [Miss you too.] Sambungan terputus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN