Prove

1003 Kata
Sashi terbangun oleh alarm. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Ia sengaja mengatur waktu supaya bisa menyiapkan sarapan untuk Jeff, karena pria itu biasanya pergi jam sembilan pagi. Pintu dapur masih dikunci, mungkin saja Jeff belum bangun. Sashi menyiapkan semua bahan dari kulkas, lalu mulai merebus telur. Hari ini sepertinya ia akan memulai menanam bunga setelah Wayan datang. Sashi juga berkali-kali memeriksa akun i********:, namun Noni tidak kunjung membalas pesannya padahal ia sudah membaca. Apakah temannya itu tidak mempercayainya? Jika sampai nanti malam masih belum ada balasan, sebaiknya Sashi menelepon Noni langsung. Ia ingin mengetahui apa saja yang terjadi selama dirinya tidak ada di sana. Apakah kantor jadi kacau balau atau berjalan seperti biasanya? Apakah ayahnya ada datang mengkhawatirkannya, atau apakah Jio dan Renata semakin memperlihatkan hubungan mereka? Pikiran tersebut terus berulang-ulang di kepala Sashi hingga huzarensla yang ia buat telah siap dihidangkan. Sashi selalu suka melihat hasil masakannya yang cantik dan aesthetic. Ia pun memotret huzarensla tersebut. Makanan cantik, enak dan sehat pulak. Semoga saja Jeff menyukainya. Tepat setelah itu, Jeff datang ke dapur dengan pakaian rapi dan rambut yang masih basah. Ia terlihat tampan mengenakan kemeja hitam. Jeff menghampiri mesin kopi untuk membuat espresso dan hanya melirik Sashi sekilas saja. "Morning. Tidur kamu nyenyak semalem?" tanya Sashi basa basi. "Yaps," jawab Jeff singkat. "Aku udah bikin pesenan kamu, nih. Salad huzarensla, fresh from the oven." "Oh! Thank you, but sorry aku harus cepet-cepet pergi ke cottage. Kamu makan aja sama Wayan, ya. Saya bisa cari makan di luar," jawab Jeff tidak peduli. "Oh gitu... hm, ya udah nanti biar aku kasih Wayan aja." Sashi menutup kekecewaannya Sebab ia sudah sengaja bangun pagi karena ingin menyiapkan sarapan untuk Jeff. Jeff pun langsung pergi begitu saja ke kursi depan membawa cangkir kopi. "Kan bisa dilihat dulu, dicicipin dikit," gumam Sashi geram. Jadi ia menutup makanan tersebut dengan tudung saji. Ia sendiri menjadi tidak nafsu untuk sarapan dan lebih baik segera kembali ke kamar untuk meneruskan tidurnya. Sebelum tubuhnya menyentuh kasur, Sashi kembali mengirim pesan pada Noni. Ia mengetiknya sambil geram. [Pls bales, Non. Gue ga becanda. Lo mau minta bukti apa? Gue kasih sekarang juga.] Sashi menjatuhkan diri ke kasur setelah menaruh ponsel di atas meja kerja. Ia menyelimuti dirinya sampai ke kepala. Merasa kesal dengan semua orang, apalagi ketika mendengar suara mobil Jeff yang perlahan pergi menjauh. *** Subuh tadi, karena merasa suntuk dan insomnianya kambuh, Noni mencoba untuk take vokal bersama Jio dan Revo di studio recording lantai dasar. Namun tidak pernah berhasil menyelesaikan reff-nya karena ia terus-terusan menangis. Nada dan liriknya benar-benar menyentuh. HIngga Noni pun izin untuk mengambil waktu sebentar. Noni duduk di balkon, menghirup udara segar pada jam tujuh pagi. hingga tertidur di kursi santai. Ia terbangun ketika sinar matahari membuatnya kepanasan. Noni pun pindah ke kamar sambil memeriksa ponsel. Ada satu inbox dari orang yang semalam. Ia membuka dan membaca pesannya perlahan. [Pls bales, Non. Gue ga becanda. Lo mau minta bukti apa? Gue kasih sekarang juga.] "Beneran ga sih ni orang?" gumam Noni pada dirinya sendiri. Ia memikirkan untuk meminta bukti apa yang akurat. Apa harus melontarkan pertanyaan? Noni benar-benar bingung, antara percaya dan takut jika Sashi memang masih hidup. Apa dia salah satu korban selamat dan terdampar entah dimana? [Apa rahasia terbesar gue kalo lu beneran Sashi.] Noni penasaran orang itu akan menjawab apa. Ia menunggunya dengan sabar sambil merebahkan diri di atas tempat tidur. Hingga berjam-jam pesan itu belum kunjung dibalas. Jadi Noni yakin, orang itu hanya iseng. Sungguh keterlaluan menjahili orang di tengah duka. Apa zaman sekarang orang memang pada miskin attitude? Hingga akhirnya Noni terbangun jam dua siang ketika Shaki mengetuk pintu kamarnya. "Kenapa?" kata Noni. "Ada Wiggy di bawah," bisik Shaki sambil memegang lengan Noni. "Berantem lagi dia sama si Jio?" "Kagak! Si Jio masih tidur. Jadi lo tolong turun, temenin si Wiggy Ajak ngobrol atau apa, kek, alihin aja perhatian dia biar ga ribut lagi sama si Jio." Kemarin Wiggy sempat datang untuk mengambil sepatu. Dia di sini hanya beberapa menit, sementara Jio ada di kamarnya sehingga mereka tidak berpapasan. Noni juga memberitahu Wiggy bahwa baru saja adik tirinya Sashi datang untuk mengambil mobil. Wiggy memang berkata bahwa ia akan kembali ke kantor, karena siapa tahu Dixie akan datang lagi, jadi Wiggy bisa mendampratnya. Noni pun turun ke bawah setelah mencuci muka. Wiggy ada di ruang tengah sedang makan siang bersama Emil. Entah mengapa Noni selalu melihat Emil sedang makan kapanpun mereka berpapasan. Perutnya kini semakin gendut. Ketika protes mengenai hal tersebut, Emil mengatakan bahwa salah satu pengalih kesedihan adalah makan enak. "Hai, Gy. Ada pemotretan hari ini?" tanya Noni sambil duduk di sebelahnya. Wiggy hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan nasi goreng. "Lo udah makan, Non?" Emil bertanya. "Belom. Ni mau pesen GoFood kayaknya." Noni hendak membuka applikasi Gojek, namun matanya teralihkan karena ternyata pesan di i********: tadi sudah dibalas oleh oknum yang mengaku sebagai Sashi. [Rahasia terbesar lo adalah lo suka sama Wiggy dan pernah diem-diem semprotin parfum lo sendiri ke jaketnya Wiggy pas dia lagi tidur. Ngarep banget Wiggy nginget lo sepanjang hari.] "Anjir!" seru Noni keceplosan sehingga Wiggy dan Emil memandanginya. "Kenapa lo?" tanya Emil. Noni pun gelagapan. Apakah ada orang yang tahu rahasianya tersebut selain Sashi? Ia melihat sekeliling, mengira salah satu staff House of Skills sedang menjahilinya. Tapi ini benar-benar tidak lucu. Karena ingin bukti yang lebih akurat, Noni pun berlari lagi ke kamar, sehingga Emil dibuat heran. "Ngapa sih ni anak, dari kemaren maen kabur aja. Ditawarin martabak malah kabur, sekarang ditanya kenapa juga malah kabur! Dasar Noni!" Noni tidak peduli ketika Emil protes begitu. Ia hanya langsung memasuki kamar dan mengunci pintunya. Setelah mengembuskan napas, Noni mengetikkan pesan dengan cepat. [Jangan becanda sama gue! Kalo lu beneran Sashi, selfie sekarang juga dan coret tangan lo sendiri tulis nama Noni. Ga pake lama, gue tungguin! Kalo sampe hari ini lo ga bales, jangan harap gue percaya. Langsung gue blockir!] Lihat saja, apa alasan yang akan orang itu kasih. Tidak sampai sepuluh menit, pesan tersebut akhirnya dibalas. Noni merasa ngeri sendiri ketika hendak membukanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN