Sashi menolak ketika Robert hendak mengantarnya pulang. Ia tidak mau merepotkan, lagi pula Sashi belum merasa nyaman untuk memberitahukan tempat tinggalnya kepada siapapun. Jadi ia pun memesan taksi online karena di luar masih gerimis jika memesan ojeg. Sepanjang di perjalanan, ia memikirkan kembali perihal menghubungi Noni untuk memberitahu bahwa dirinya masih hidup. Temannya itu pasti akan sangat syok.
Masih penasaran siapa yang dimaksud Noni tentang mempermasalahkan warisan, Sashi membuka akun Instagramnya dan langsung mencari akun Dixie. Adik tirinya itu belum tampak menggugah apa pun di laman Instagramnya, namun ia banyak memposting story sampai berbentuk titik titik. Dan benar saja firasatnya, di situ Dixie tampak sedang hang out bersama teman-temannya memakai mobil milik Sashi.
"What the ff-" Sashi merutuk perbuatan adik tirinya tersebut karena apa yang dilakukannya sudah di luar batas. Ia tidak berhak mendapatkan barang-barang Sashi, bahkan mengucapkan belasungkawa pun tidak ada!! Bagaimana adik tirinya itu bisa tidak mempunyai hati nurani.
Ingin rasanya Sashi pulang ke Bandung sekarang juga dan mendamprat Dixie. Tapi ia bisa menenangkan diri, mengingat masih banyak yang harus ia rencanakan.
Taksi berhenti tepat di rumah Jeff. Sashi turun dan langsung pergi ke dapur karena merasa lapar. Tadi di coffee shop ia hanya membeli kopi dan croissant. Perutnya masih belum kenyang.
Rupanya pintu dapur sudah dikunci oleh Jeff, padahal masih jam delapan malam. Biasanya Jeff mengunci pintu jam sebelas. Mungkin dia ingin istirahat lebih cepat, pikir Sashi. Sashi pun mengeluarkan kuci cadangan dari tasnya dan sgera membuka buffet. Sup yang ia masak tadi masih bersisa banyak. Ia pun memanaskannya sambil menggoreng kerupuk.
Tidak ada suara sama sekali. Sepertinya Jeff memang sudah tidur, padahal Sashi ingin bercerita soal tawaran pekerjaan dari Robert. Mungkin besok pagi saja ia bercerita saat sarapan. Kira-kira apa yang harus ia buat untuk sarapan besok? Sashi memikirkannya sambil menyuapkan sup yang masih mengepul. Sepertinya huzarensla sesuai yang Jeff mau. Sepertinya pria itu memang menyukai salad.
Setelah perutnya merasa kenyang, Sashi langsung mengunci pintu dapur dan pergi ke kamarnya sendiri. Sepertinya malam ini ia harus segera menghubungi Noni sebelum semua barangnya raib dikuasai oleh Dixie. Namun Sashi bingung bagaimana cara memberitahu Noni supaya temannya itu pervaya dan tidak terlalu syok.
Apa Sashi harus langsung meneleponnya? Atau melakukan video call? Ia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, karena bisa saja Noni pingsan jika langsung melakukan video call dengannya. Sashi akan dikira hantu. Lebih baik ia mengirim inbox melalui i********: saja.
Sashi memutuskan untuk menggunakan akun instagramnya yang baru.
[Noni, ini Sashi. Gue masih hidup. Tolong jangan kaget dan anggep gue bohong. Lo bisa buktiin sekarang juga pake video call. But pls keep silent. Reply ASAP!!]
Sashi terus memperhatikan pesan yang sudah terkirim itu sambil menahan napas. Semoga Noni cepat membaca dan mempercayainya.
***
Beberapa staff di House of Skills sudah mulai melakukan pekerjaannya masing-masing, karena klien mulai berdatangan lagi dan tugas pun sudah menumpuk. Lagi pula, tidak ada gunanya mereka berdiam diri dan butuh mengalihkan kesedihan dengan bekerja. Karena dengan begini pun sudah merupakan bentuk penghormatan untuk Sashi, karena mereka bekerja untuk memajukan usahanya.
Sementara mengenai kecelakaan pesawat, masih belum ada perkembangan yang signifikan. Badan pesawat ditemukan secara terpencar, pun dengan jenazah hampir semuanya ditemukan dengan anggota badan yang sudah tidak utuh lagi. Revo merencanakan jika sampai minggu depan jenazah Sashi masih belum ditemukan, ia mengajak utnuk emnaburkan buka di Laut jawa. Noni menyetujuinya, begitupun dengan yang lain.
"Non, lu udah siap take vocal belum?" tanya Revo sambil duduk di sebelahnya membawa gitar.
"Jangan sekarang deh, Rev. Besok gimana?"
"Oke, bebas. Cuman lebih cepat lebih baik. By the way, udah hubungin ponakannya Sashi?"
Noni mengangguk. "Udah, dia katanya mau main ke sini lusa. Sekarang masih sibuk sama tugas kuliah."
"Oke deh. Gue lanjut take gitar. Kalo bisa dengerin dulu demonya, supaya lo bisa latihan dulu dan hapalin lirik."
"Gue semaleman udah denger. Lagunya bagus dan gue pasti nangis kalo nyanyiin itu." Lagu ciptaan Jio yang diaransemen oleh Revo memang sangat bagus. Mereka memang tidak pernah gagal jika sudah membuat lagu.
"Gapapa, lebih bagus kalo lu nyanyi sambil keluarin emosinya. Supaya lebih menjiwai," ucap Revo, lalu pergi kembali ke studio setelah menepuk-nepuk kepala Noni pelan.
Sepeninggal temannya itu, Noni kembali melamun. Pikirannya masih terganggu dengan siapa yang mengaktifkan akun forex milik Sashi. Meskipun Jio kadang menyebalkan, tapi Noni tahu bahwa pria itu tidak berbohong ketika mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa mengenai akun forex Sashi. Jio memang menyebalkan, namun dia jarang berbohong, apalagi masalah uang. Jio pria baik dan sayang pada Sashi, meskipun entah setan apa yang merasukinya hingga ia nekat bermain serong dengan Renata.
Noni hanya berharap Jio memang benar-benar dirasuki setan hingga terbawa suasana.
Getaran ponsel di tangannya membuat Noni tersadar dari lamunan. Ia memeriksa notifikasi yang baru saja masuk, ada satu komentar di salah satu fotonya yang lama untuk memeriksa direct messages. Mungkin seseorang yang ingin menawarkan endorse atau oknum iseng seperti yang sudah sering ia terima.
Noni pun membuka inbox tersebut. Matanya melebar ketika ia membaca isinya. Untuk meyakinkan diri, Noni pun membaca ulang hingga tiga kali.
[Noni, ini Sashi. Gue masih hidup. Tolong jangan kaget dan anggep gue bohong. Lo bisa buktiin sekarang juga pake video call. But pls keep silent. Reply ASAP!!]
ntara percaya dan tidak percaya, Noni tidak langsung membalas pesan tersebut. Ia hanya terperangah dengan tangan bergetar. Jika saja itu emmang kerjaan orang iseng, Noni tidak akan segan untuk memakinya.
"Ngapa muka lo kayak abis ngeliat setan?" tanya Emil yang baru saja datang membawa dua kotak martabak.
"Hah, ga ada. Gue abis liat trailer film horror di YouTube aja barusan," jawab Noni, tidak ingin memberitahu siapapun bahwa baru saja ia mendapat inbox dari orang yang mengakui dirinya adalah Sashi.
Emil duduk di hadapan Noni lalu membuka kedua kotak martabak tadi. "Nih martabak ketan kesukaan lo sama martbaak telor daging spesial. Makan gih!"
Kedua martabak itu memang favorit Noni, namun entah mengapa saat ini ia tidak bernafsu untuk makan. "Ehm... gue udah kenyang, Mil. Lo aja makan sama tawarin anak-anak yang lain. Gue mau tidur dulu, Bye!"
Belum sempat Emil menjawab, Noni sudah berlari kecil menuju ke kamar atasnya, sehingga Emil hanya bisa melongo.