Shock

1009 Kata
"Ji, lo tahu password forex si Sashi ga, sih?" tanya Noni ketika mereka sedang makan malam bersama staff lainnya. Seperti biasa, Noni dan Emil sudah mulai memasak. Keduanya disebut mami papi jika sudah tandem di dapur dan memanjakan perut para staff. "Mana gue tahu," jawab Jio. "Gue ga pernah ikut campur soal Forenya Sashi. Liatnya aja udah puyeng, ga ngerti sama sekali." "Hmm... oke." "Kenapa emangnya?" Noni tidak bisa menjawab bahwa ada yang menarik uang dari akun forex milik Sashi. Ia takut membuat kegaduhan. "Ga ada, gue penasaran aja. Selama ini kan Sashi main forex. Duit dia ada di situ ga, sh?" "Yailaah... kenapa lo ngarep ada jutaan duit di situ?" tanya Emil. Noni sadar bahwa perkataannya ambigu. "Bukan gitu! Kan sayang aja kalo ada duit ngendap di situ. Kita bisa pake buat berbagi ke sesama atas nama Sashi. Kemana-mana sih pikiran lo, negatif mulu sama gue!" omel Noni. Emil tertawa. "Maaf maaf." "Kalian semua juga ga ada yang tahu nih password forexnya Sashi?" tanya Noni pada Shaki dan Revo, namun keduanya tampak menggeleng. "Si Wiggy tahu kali," ujar Jio. Semenjak pulang dari Bali, Wiggy belum datang lagi ke kantor HoS. Sepertinya ia masih menghindari Jio. "Mungkin juga, sih. Coba nanti gue telpon dia deh." Setelah selesai makan, Noni kembali ke kamar dan membuka laptop Sashi lagi. Di sana ada email baru yang memberitahukan bahwa akun forex Sashi dibuka dari device lain. Noni melihat secara detail, device tersebut adalah iPhone dan berlokasi di Denpasar, Bali. Seketika keningnya mengkerut. *** Rupanya Robert menyukai eclaire buatan Sashi. Ia juga teringat abhwa Dulu Sashi pernah bekerja sampingan sebagai barista di kedai kopi. Jadi ia pun hendak menawarkan Sashi untuk bekerja di tempatnya. Hanya itu yang bisa Robert bantu daripada iba melihat temannya tidak emmiliki pekerjaan dan terdampar di pulau Bali tanpa identitas apa pun. "Jadi gue kerja dari jam tujuh malem sampe jam tiga pagi?" tanya Sashi terperangah. "Iya, karena club gue bukanya jam segitu. Kalo lu mau, besok udah bisa langsung kerja. Soal gaji ga usah khawatir, gue kasih yang terbaik. Ya bisa lah lo shopping tiap weekend." Sashi sudah terbiasa bergadang. Baginya tidak sulit untuk bekerja pada jam segitu. "Hmmm... menarik, sih. Gue kabarin nanti malem, ya, mau atau nggaknya. Tapi pasti mau sih, gue cuman ga enak sama yang punya rumah kalo gue kerja jam segitu." "Tenang aja, gue bisa utus seseorang bguat antar jemput lo. Ga usah takut, semuanya aman selama ada gue." "Oke, kayaknya gue terima sih, gue cuman harus izin dulu sama yang punya rumah. Lagi pula kan gue tinggal di belakang, misah. Harusnya sih oke." "Ya udah atur aja," ujar Robert. "Daripada lo maen-maen forex begitu, itu kan gambling. Harus pake duit dingin." Sashi tertawa. Sedari tadi matanya memang tertuju pada layar ponsel untuk memeriksa signal indikator. Sepertinya ia harus segera upgrade sistem ke yang lebih manjur. Karena ternyata siistem yang ia pakai tidak begitu akurat. Namun untuk membeli sistem pun uangnya tidak ada. "Oya, gimana soal keluarga lo? Lo udah hubungin mereka apa belom?" tanya Robert di sela-sela meminum matcha-nya. Sashi hanya menggeleng. "Belum waktunya. Tapi mungkin dalam waktu dekat karena gue geram banget sama adek tiri gue." Sashi pun menceritakan apa yang sudah dilakukan oleh adik beda bapak beda ibu tersebut. Seolah kepergian Sashi menjadi kabar gembira baginya. Ia pun langsung bisa menebak ketika baru saja terlintas di kepalanya. Apakah maksud Noni orang yang meributkan harta itu adalah Dixie? Kalau iya, sungguh keterlaluan! "Makanya, lo hubungin kek salah satu keluarga atau temen lo buat nyelametin barang-barang. Lo bisa atur semuanya di sini, kongkalikong sama orang yang lo percaya." Sashi memikirkannya sesaat dan ia pun menyetujui perkataan Robert. Orang pertama yang ia pikirkan adalah Noni. Sahabatnya itu pasti bisa menjaga rahasia dan bisa diandalkan. Lagi pula Sashi melihat Noni lah yang paling bersedih atas kepergiannya. Lagi pula, Sashi butuh teman mengobrol. Ia merasa suntuk setiap malam karena tidak tahu harus berbicara dengan siapa. *** Hujan sangat deras begitu Jeff sampai di rumah. Wayan masih berada di dapur sedang menikmati eclaire buatan Sashi. "Loh, kamu belum pulang, Yan?" tanya Jeff karena jaam sudah menunjukkan pukul lima sore. "Dari tadi hujan deras, Pak. Jadi saya tunggu hujan reda dulu." Ya udah mau saya antar pulang?" tanya Jeff lagi sambil menggulung lengan bajunya sampai ke siku. "Ga usah, Pak, Saya tunggu hujan reda aja, kayaknya sebentar lagi juga selesai," jawab Wayan sambil menengok ke luar jendela. "Gapapa, saya makan dulu, abis itu saya antar kamu pulang, lagian udah mau gelap gini. Oya, Sashi masak apa hari ini?" "Oh tadi dia masak sup ayam jahe, karena udaranya dingin, katanya. Tadi dia juga pamit pergi mau ketemu temannya yang nawarin kerjaan." "Loh, pergi kemana?" tanya Jeff sambil membuka sepatunya. "Katanya sih coffee shop yang deket supermarket di jalan besar sana, Pak," jawab Wayan smabil menunjukkan arah. "Kamu udah makan?" "Sudah, Pak." Jeff pun menikmati makannya setelah Wayan memanaskan sup selama lima menit. Ia mendesah nikmat ketika menyeruput kuahnya. Sashi benar-benar pandai memasak. Jeff sampai menambah nasi dan satu ayam untuk dihabiskan. Sudah lama ia tidak makan maksakan rumah hingga tambah. Setelah perutnya kenyang, Jeff mengantar Wayan pulang. Jarak rumah Wayan hanya sekitar lima kilometer. Ia sempat turun menemui ibunya Wayan yang sudah tampak sehat. Mereka mengobrol sebentar sambil tertawa, lalu Jeff pamit pulang karena sudah lelah dan mengantuk. Mau bagaimana lagi, perutnya sudah kenyang, cuaca dingin dan seharian capek dengan pekerjaan tentu saja membuat Jeff cepat mengantuk. Sampai rumah ia harus segera mandi dan istirahat sampai besok pagi. Ketika mobilnya berbelok di dekat supermarke, ia mengingat perkataan Wayan yang memberitahu bahwa Sashi sedang bertemu dengan temannya di situ. Jeff pun memarkirkan mobilnya sebentar untuk melihat. Siapa tahu Sashi butuh diantar pulang karena hujan masih turun meski tidak sederas tadi. Setelah mencari di antara kursi cofee shop, Jeff pun menemukan wanita itu sedang mengobrol bersama seorang lelaki berambut keriting yang diikat. Penampilan lelaki itu sangat familiar di mata Jeff. Setelah mendekati meja mereka secara sembunyi-sembunyi, ternyata benar. Lelaki itu adalah Robert, yang terkenal di kalangan teman-temannya sebagai mucikari. Seketika Jeff pun terperangah karena ternyata Sashi tengah bekerja pada lelaki tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN