Jika harus memilih antara pemandangan laut, bukit atau perkotaan, Jeff akan memilih laut. Terbalik dengan ibunya yang lebih menyukai rumah dengan suasana pepohonan. Ibunya itu lebih baik mendengar suara jangkrik, burung atau pohon-pohon rindang yang tertiup angin daripada mendengar suara ombak yang membuatnya selalu parno. Ibunya takut tersapu tsunami.
Itu sebabnya Jeff membuat cottage di atas bukit, supaya ibunya bisa stay dengan tenang jika sedang berlibur di Bali. Ia membuat konsep yang hangat dan cozy yang ingin membuat sioapapun tidak ingin meninggalkan cottage miliknya. Atau minimal, mereka akan merekomendasikan kepada teman dan kerabat, juga kembali menggunakan cottage yang diberi nama 'Rosie & Riley' sesuai nama ibu dan ayahnya.
Pembuatan cottage sudah 85%. Jeff sama sekali tidak memberitahukan orangtuanya mengenai ini karena akan dijadikan surprise. Sudah hampir sepuluh menit Jeff memandangi penginapannya itu dari mobil. Ia memikirkan apa saja yang perlu ditambahkan. Mungkin sebuah ayunan untuk membaca buku.
Ketika melihat salah satu temannya datang membawa bekal untuk di makan di kursi luar, Jeff pun lagsung turun dari mobil.
"Makan apa, Bro?"
Soni, teman sekaligus partner kerja Jeff langsung mendongak. "Biasa, masakan bini. Ayam balado sama telor dadar."
"Nih dessertnya." Jeff meletakkan plastik berisi lima boks eclaire.
"Waahh.. apa nih? Bini lo ngasih bekal apa?"
Jeff tertawa sambil bergumam 'b******k' karena ia tahu Soni sedang sarkas. Alina tidak pernah memasak untuknya.
"Temen gue yang bikin. Cobain deh."
"temen? Cewek?"
"Yaps. Panjang ceritanya."
Soni tertawa samar. 'Sini sini ceritain, mumpung gue lagi makan.
Jeff pun menceritakan seluruh kejadian kemarin pada Soni, sahabatnya sejak kuliah.Mereka sudah seringkali terbuka dalam hal apa pun. So yang sudah menikah dua tahun lalu, berharap Jeff mengikuti jejaknya. Jeff sempat terpengaruh karena melihat Soni lebih bahagia semenjak menikah. Namun ia gagal ketika hendak melamar pacarnya sendiri ketika tahun baru kemarin karena Alina tidak datang.
"Umur berapa emangnya?"
Jeff tidak tahu berapa umur Shaly, jadi ia hanya menebak-nebak. "Di bawah gue delapan tahun, kali."
"Cantik?"
"Lumayan cantik," jawab Jeff sungguh-sungguh. "Gue cuman belum bilang soal ini sama Alina.
"Ya tinggal bilang aja, liat reaksi dia kek gimana."
Jeff tersenyum. "Ntar aja kalo dia dateng ke rumah," jawab Jeff sambil membuka boks eclaire miliknya.
Ia tidak berbohong ketika memuji semua masakan Sashi, terutama si eclaire itu karena memang sangat enak. Creamy dan cokelatnya tidak terlalu manis. Semalam karena Jeff sudah terlalu capek, ia tidak bisa menemani Sashi di dapur, hanya mendengar semua peralatan yang tengah dipakai olehnya.
"Mana punya gue? Kayaknya enak," ujar Soni sambil mengambil salah satu boksnya.
Jeff menunggu Soni menyuap eclaire tersebut dan menunggu reaksinya.
"Whoaaa... mantep, nih! Enak enak!"
Seakan pembuat dessert tersebut, hanya dengan mendengar pujiannya saja Jeff sudah senang. "Iya kan? Si Sashi ini jago masak di rumah. Semua enak-enak, ga ada yang failed."
"Kalo gitu gue makan malem di rumah lo deh nanti."
"Jeff mengiyakan. Harini ini seluruh cottage yang berjumlah 16 pondok akan dicat berwarna pastel. Jeff sudah menjadwalkan soft opeing bagi cottage-nya tersebut dan sudah membelikan tiket pesawat untuk kedua oranguanya minggu depan.
Ia senang karena keinginan untuk membuatkan cottage akhirnya terwujud. Jeff juga berhara Alina akan hadir untuk menemaninya.
***
Hari ini Sashi kehilangan uang karena salah membaca indikator forex. Sedari tadi ia uring-uringan karena hampir 70% uangnya lenyap. Jadi untuk menenangkan diri, ia pun pergi ke minimarket untuk membeli cokelat. Berharap zat phenylethylamine-nya benar-benar bisa membuatnya bahagia.
Sashi sangat menyukai cokelat. Sedari SMP ia bisa menghabiskan minimal satu batang cokelat dalam sekali makan. Kini ia tidak begitu setiap hari membelinya, kadang jika sedang ingin memperbaiki moodnya supaya lebih baik saja. Ketika sedang sibuk membuka bungkus cokelat favoritnya, deringan telpon membuat Sashi beranjak dari kursinya. Ternyata ada panggilan dari Robert.
"Ya halo, Rob"
[Darling! Lo bisa temuin gue sore ini?]
"Di mana?"
[Nanti gue chat alamatnya. Tapi lo bisa, kan?]
"Bisa, sih, kan gue penganguan ga kemana-mana."
[Kasian sekali dkau! Ya udah nanti lo waib dateng karena gue punya kerjaan buat lo, okey!]
"Wahh... seriusan, Rob? Kerjaan apa?" tanya Sashi sambil emmpererat genggaman pada cokelatnya.
[Ada deh nanti gue omongin, ga bisa lewat telepon. Sekarang gue tutup dulu teleponnya dan lo harus dandan secantik mungkin, karena gue mau belanja, seklaian temenin.]
"Siap, Bos! Oke deh gue tunggu chat alamatnya yak."
Telepon pun ditutup. Sashi berjingkrak kesenangan karena akhirnya ia akan mendapatkan pekerjaan dan tidak stress lagi berhadapan dengan indikator di laptopnya. Meskipun kini ia telah kehilangan karir yang bagus, kehilangan pacar, teman, harta, serta kehilangan identitas, Sashi jadi lebih sering mensyukuri hal-hal sekecil apa pun. Kepalanya juga semakin ringan karena tidak memikirkan hal yang berat. Ia lebih menyukai hidup bebas Meski tidak dipungkiri, ingin mempunyai uang banyak juga dengan pekerjaan yang lebih ringan.
Setelah membaca alamat yang dikirimkan oleh Robert, ia berganti baju. Untunglah ada satu baju cantik yang ia beli khsusus untuk bepergian. Sashi langsung mengenakannya karena baru setengah jam yang lalu ia sudah mandi., Setelah itu, ia memakai liptint dan krim pelembab untuk wajahnya saja. Sungguh merasa karena Sashi sama sekali tidak mempunyai makeup.
Wayan sedang mencuci piring ketika Sashi mencarinya untuk pamit pergi.
"Aku janjian sama temen ketemuan di luar, mungkin agak lamaan. Kalo kamu udah beres kerja, ada eclaire buat kamu satu boks di kulkas, ya."
"eclaire itu apa, Kak?" tanya Wayan polos.
"Oh ya ampun, lupa kasih tahu. eclaire itu semacam dessert boks. Jadi nanti kamu makannya setelah makan nasi. Enak banget loh itu, Pak Jeff juga suka. Kalo misalkan ibu kamu boleh makan manis, nanti aku bikinin juga."
"Makasih, kak. Ibu boleh kok makan manis. Oya, lusa dia kembali kerja di sini."
"Syukurlah kalo beliau udah sehatan. Ya udah aku pergi, ya, kayaknya taksi online aku udah dateng. Kalo Pak Jeff nanyain, kasitau aja aku coffee shop deket supermarket yang kita datengin kemarin."
"Oke, Kak. Hati-hati."
Sashi beranjak pergi. Setelah memasuki taksi, selama di perjalanan ia hanya memuka feed i********: Ada satu story milik Noni yang ia pertanyakan. Story tersebut hanya berisi tulisan.
"Orang belum lama meninggal, ini udah sibuk aja mikirin harta peninggalannya. Duh, kalo ga dosa pengin gue sobekin aja tuh mulutnya!"
Entah ditujukan pada siapa tulisan tersebut, namun Sashi menduga mengenai dirinya. SIapa yang meributkan harta peninggalannya? Apakah Jio? Atau Ibu titinya?