Eclaire

1015 Kata
"Kamu berbakat banget, Sas. Kalau kayak gini saya ga akan sayang ngeluarin uang buat dimasakin kamu setiap hari," ujar Jeff setelah menikmati eclaire buatan Sashi setelah makan malam. Sashi tersenyum bangga. "Syukur deh kalo kamu suka. By the way tadi aku bikin ekstra dua buat dikirim ke temenku. Tadi aku pake uang pribadi kok buat dia." "Oh, no worries. Kalo kamu mau berbagi, silakan. Yang penting uang yang aku kasih cukup buat seminggu, kalo ada lebihnya bisa kamu gunakan." Sashi hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Ia pun mengeluarkan eclaire sebanyak dua boks, lalu menghubungi Robert untuk meminta alamatnya. "Kamu bikin berapa boks?" tanya Jeff setelah menghabiskan bagiannya dalam waktu singkat. "Bikin tujuh. Buat temenku dua, aku satu, Wayan dan ibunya satu, kamu dua." "Oke, berarti punya saya ada satu lagi. Kalau misalkan saya minta dibuatkan lagi lima boks buat dibawa besok untuk partner saya, bisa?" "Bisa. Aku tadi beli bahannya banyak, kok. Maleman aku bikinin, ya." "Boleh, kalau ga ganggu kerjaan kamu." "Nope. Bikinnya gampang, kok," jawab Sashi sambil mengangkat piring kotor untuk dipindahkan ke wastafel. "Simpan saja piringnya di situ, biar besok pagi Wayan yang kerjain." Sashi mengiyakan karena ia benar-benar benci mencuci piring. "Oke, kalo gitu aku mau cari driver buat nganterin ecalire ke temenku dulu." Sashi pun pergi ke halaman depan, duduk di salah satu kursinya untuk memesan kurir online. Sedari dulu ia suka memasak untuk membahagiakan keluarga atau teman-temannya. Jika dibuat sendiri, kepuasannya akan berkali-kali lipat dibanding dengan membelinya di toko. Si penerima juga akan merasa lebih dihargai. Setelah kurir mengambil paket tersebut, Sashi pun kembali ke kamar sambil mengirim pesan pada Robert, memberitahu bahwa kirimannya sedang diantar. Sashi mengingat bahwa Robert sama sekali tidak pernah mencicipi makanan buatannya. Selama beberapa saat, Sashi hanya berdiri di samping rumah menghadap ke pantai hingga rambutnya awut-awutan diterpa angin. Udaranya sangat segar dan Sashi mendapat ketenangan dengan suara ombaknya. Akhir-akhir ini Ia terus-terusan memikirkan sang Ayah. Segimana pun mereka tidak akur, Sashi tetap menyayangi ayahnya tersebut. Ia berharap semoga ibu dan adik tirinya tidak membuat ayahnya frustasi. ENtah mengapa perilaku ayahnya berubah 180 derajat sejak ibunya meninggal. Ia jadi lebih menyibukkan diri bekerja dan menikah denganw anita yang baru dikenalinya. Sashi hanya berdoa semoga ia bisa melihat ayahnya tertawa lepas seperti dulu, mengajaknya liburan lagi atau sekadar menonton film bersama. Karena angin semakin kencang dan udara semakin menusuk kulit, Sashi pun kembali ke dalam. Tadi pagi ia menarik uang dari Forex untuk membeli bibit tanaman. Melihat halaman belakang yang banyak space, Sashi merasa gatal untuk menanaminya dengan bunga. Kebetulan kemarin ia mendapatkan sedikit profit dari trading. Besok pagi, ia akan meminta tolong Wayan untuk menanam bibit-bibit tersebut. Sekarang ia harus trading lagi dan banyak membaca berita ekonomi untuk mempelajari saham, sebelum kembali berkutat di dapur membuat eclaire untuk Jeff. Sejauh ini ia sudah melakukan yang terbaik, semoga Jeff tidak menyesal telah menawarkannya untuk menempati gudang yang kini menjadi kamar yang nyaman. *** Noni benar-benar muak. Ia sangat mengasihani Sashi karena orang sebaik temannya itu berada di sekitar orang-orang yang tidak tahu diri. Noni sangat tidak ikhlas jika hasil jerih payah Sashi jatuh ke tangan Dixie. Ia akan lebih ikhlas jika menyumbangkan semuanya untuk orang yang lebih membutuhkan. "Kalo menurut aku, soal kayak gini mending dibicarain nanti aja. Karena kan Sashi juga belum lama pergi, bahkan belum seminggu. Sebaiknya nanti dibacarain sama papanya juga," kata Noni menahan geram. "Iya kan saya cuman mau simpan semuanya di kamar dia aja, toh saya serumah sama Kak Sashi. Saya lebih berhak dong daripada kalian. Sekarang ini saya lagi ada urusan ke luar kota dan butuh mobil. Masa gitu aja ga boleh?" "Bukan gitu, tapi barang-barang Sashi di sini juga dibutuhkan untuk kerjaan, untuk kepentingan kantor. Kita cuman minta waktu buat sortir aja mana yang harus kita serahkan ke keluarganya dan mana yang harus kita tahan di sini." "Oke lah kalo soal barang-barang di kantor ini bisa nanti. Kalo soal mobil gimana? Saya butuh urgent," ujar Dixie ngotot. Noni berpandangan dengan Jio. Meminta lelaki itu yang bicara. "Sorry, Dix. Tapi itu mobil bukan punya Sashi aja. Mobil itu juga punya gue, kita nyicil berdua. Tapi kalau lo mau pinjem silakan, cuman kalo bisa dalam tiga hari dibalikin lagi karena gue mau pake." "Ada bukti kalo itu mobil punya kalian berdua, ga?" "Saksinya temen-temen gue. Lo bisa cek juga semua tabungan dia ahli warisnya siapa. Kita bahkan udah rencana nikah dan semua barang yang kita beli emang pake duit berdua." "Ya udah ya udah, mana kunci mobilnya? Gue ga mau ribet. Kok kayak ditahan-tahan banget ya barangnya kakak gue." Noni yang sedari tadi menahan kesabaran, akhirnya meledak. "Lo selama ini kemana aja, sih? Apa pernah lo datang ke sini jenguk kakak lo pas dia lagi sakit? Gue aja ga pernah liat kalian berdua akur. Sekarang pas dia ga ada, ngapain juga lo datang ke sini ujug-ujug nanyain barang dia? Warass lo?" Shaki langsung memegang tangan Noni dan menyuruhnya untuk naik ke kamar atas. "Udah, Non. Biar Jio aja yang hadapin." Melihat itu, Dixie hanya tersenyum sinis. "Bukan berarti gue ga akur sama kakak gue sendiri, berarti kalian berhak nahan barang-barangnya. Ngarep banget, ya?" "Emang anjing tuh orang!" seru Noni sambil diseret oleh Shaki melalui tangga. Jio yang juga merasa kesal dengan perlakuan Dixie memilih untuk berbicara pelan. "Kita bukan mau nahan. Tapi ga bagus, kalau orang baru meninggal, hartanya langsung diributin. Kita ga ada kok yang mau ambil sedikit pun punya Sashi, lo tenang aja. Di sini Sashi itu dihormatin dan diseganin. Ga usah khawatir." "Duh, iya deh. Gue cuman mau minta kunci mobil doang, kok." Jio melemparnya ke atas meja. "Bilangin sama papanya Sashi, minggu depan kita bahas masalah ini. Kalo perlu gue yang dateng ke rumah beliau. Tenang aja, kita ga kabur kemana-mana, toh hidup kita juga bergantung di kantor ini." "Oke, ini nanti mobil gue balikin. Kalo bisa sih lu ada bukti kalo mobil ini emang punya kalian berdua." Dixie pun melenggang pergi. Di luar, ia sempat berpapasan dengan Wiggy. Dixie sudah lama diam-diam menyukai Wiggy dan memfollow Instagramnya malam tadi. Selama ini ia hanya suka stalking karena sahabat kakak tirinya itu adalah tipe pria idamannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN