Dixie

1009 Kata
Selain menjadi kakak kelas sewaktu SMA dulu, Robert juga seringkali terlibat project bersama Sashi di beberapa event. Pria gemulai itu mempunyai karakter yang unik. Di balik pembawaannya yang ceplas ceplos, Robert memiliki sikap yang care dan dermawan. Ketika dulu mereka ada event acara musik di Dago Festival, Robert mengajak beberapa teman-temannya termasuk Sashi untuk makan malam sebelum pulang. Saat itu hujan sangat deras. Mereka hanya makan sambil mengobrol hingga berjam-jam. Lalu ketika hendak pulang, Robert melihat beberapa tunawisma yang berteduh di halte, ada pula seorang kakek yang tidur berlapiskan kardus tanpa pakaian yang hangat. Melihat pemandangan yang memilukan tersebut, Robert mengajak Sashi kembali ke restoran hendak membeli beberapa kotak makanan untuk dibagikan. Masih banyak sikap Robert yang menyentuh Sashi hingga membuat Sashi sendiri ingin melakukan hal yang sama. Mungkin banyak orang yang mencemooh Robert karena penampilannya yang aneh dan pembawaannya yang gemulai tersebut. Robert sudah tahan banting jika ada yang mengatainya. Bahkan mulutnya akan lebih beracun jika sudah muak dengan orang-orang yang selalu menghinanya. Dulu Robert pernah berkata, berperilaku jahat kepada orang jahat kadang memang diperlukan daripada racun itu memendam dalam tubuh. Kini Robert sudah berada di hadapan Sashi. Memakai topi pantai, baju sifon disertai syal dan celana gombrang. Ia juga memakai kacamata berwarna ungu yang unik. Sepertinya Robert memang suka menjadi bahan perhatian. Mereka sedang menikmati tacos dan segelas mojito. "Jadi orang-orang taunya kalo lu udah metong?" tanya Robert sambil terperangah. Sashi mengangguk sambil tertawa geli, bagaimana kejadian nahas itu menjadi lucu jika Robert yang mengatakannya. "Iya, gue juga kaget pas buka i********: dan nemu banyak komentar belasungkwa. Tadinya gue mau ngabarin temen, ngasih tahu kalo gue masih hidup. Tapi setelah inget masalah di malam sebelumnya, gue jadi urung. Gue ga betah di rumah, Rob. Kantor jadi tempat paling aman buat gue. Tapi sekarang pun kantor jadi ikutan bikin gue bete karena perlakuan pacar dan sahabat gue sendiri." "Emang gila ya orang-orang, bisa-bisanya mereka ngorbanin hubungan baik sebagai pacar atau temen demi nafsu. Coba kemaren gue ada di situ, udah gue jambak tuh rambut si Renata," ujar Robert geram. "Jadi sekarang lo tinggal di mana? Masih sama cowok yang nolongin lo itu?" "Yap! Gue tinggal di rumah belakang. Tadinya itu gudang, cuman udah kami layout jadi layak buat dijadiin kamar. Sebenrnya sih dia nawarin kamar tamu di rumah utama, tapi gue ga enak kalo tinggal satu atap, lagian dia udah punya cewek." "Cakep ga?" tanya Robert tanpa tedeng aling-aling. "Cakep. Dia keturunan Australia. Tinggi, atletis, baek, pinter pulak. Katanya lagi bikin cottage di Ubud gitu." "Gue punya banyak kenalan orang-orang developer yang suka bikin villa atau perumahan di daerah sini. Siapa tadi namanya?" "Jeff." "Keknya familiar. Kalo liat langsung orangnya mungkin gue tahu." Sashi menghabiskan taco-nya dalam sekali suapan, lalu melap mulutnya dengan serbet. "Jadi, please keep in mind, jangan kasih tahu siapapun kalo gue masih hidup. Gue akan pulang kalau gue udah siap." Robert mengangguk mengerti. "Aman. Semua rahasia lo terjaga sama gue." "Dan satu lagi. Gue sekarang lagi butuh kerjaan. Gue ga bisa ngandelin penghasilan cuman dari Forex. Jadi siapa tahu lo butuh karyawan di kafe lo, gue siap." Robert terlihat gelagapan. "Oh, soal ituuu... ya, ya, nanti gue hubungin lo aja. Pastiin hape lo aktif terus, oke?" "Sip! Kalo gitu gue balik, deh, takut keburu hujan. Mau belanja dulu soalnya." "Perlu ditemenin?" "Ga usah, cuman bentar doang. Jangan lupa hubungin gue ya, Rob. Sampe ketemu lagi," kata Sashi sambil cipika cipiki dengan Robert. "Oke, pasti gue kabarin." Tadi pagi Jeff memberi lumayan banyak uang untuk memasak selama seminggu. Namun Sashi tidak langsung membelanjakan semuanya karena kulkas tidak akan cukup muat. Jadi Sashi membeli bahan untuk tiga hari. Ia juga membeli bahan kue. Sudah lama Sashi tidak membuat brownies atau eclaire yang sering dipuji oleh teman-temannya. Ketika semua bahan sudah didapatkan, Sashi segera pulang dan dengan semangat 45 langsung membuat eclaire terlebih dahulu supaya begitu Jeff pulang, cuci mulutnya tersebut sudah beku dan siap dimakan. Ia melakukannya sendirian karena Wayan sama sekali tidak terlihat dari tadi. Mungkin gadis itu tidak datang hari ini. Lagi pula rumah Jeff tidak ada yang perlu dibereskan. Halaman tidak begitu kotor, lagi pula cucian piring di wastafel hanya sedikit. Toh penghuni rumah ini cuman satu orang. Sashi jadi curiga, jangan-jangan Jeff memperkerjakan Wayan atau ibunya hanya untuk membantu biaya hidup mereka saja. Sashi tidak akan heran jika alasannya memang begitu. *** Seperti yang diperintahkan oleh Shaki kemarin, Noni membuka laptop Sashi. Ia memang tahu passwordnya karena Sashi sering meminta tolong untuk mengecekkan beberapa file di situ. "Sas, gue izin buka laptop lu bentar, ya. Ini demi kebutuhan kerjaan kita aja," ucap Noni pelan. Noni pun langsung mencari file yang dimaksud oleh Shaki. Butuh beberapa menit sampai akhirnya ia menemukan file tersebut. Di tengah-tengah menyalin semua keperluan ke flashdisk, tiba-tiba ada notifikasi dari email yang memberitahukan Withdrawal dari sebuah akun Forex. Noni langsung mengkliknya dan bertanya-tanya siapa yang melakukan penarikan uang dari akun Forex milik Sashi? Apa jangan-jangan Jio? Pacar temannya itu pasti tahu password Forex Sashi. Bunyi bel mengalihkan pikiran Noni. Di kantor memang sedang tidak ada orang karena semua pada pamit pulang untuk istirahat. Hanya ada Jio dan Revo yang masih tertidur karena semalaman suntuk mereka mengaransemen lagu yang diperuntukan sebagai tribute untuk Sashi. Jadi Noni turun ke bawah untuk membukakan pintu. Pastinya yang datang bukan salah satu staff karena mereka pasti mempunyai kunci cadangan sendiri-sendiri. Setelah pintu terbuka, tampak sosok seorang wanita muda yang familiar di mata Noni. Wanita itu memakai blouse putih dengan belahan d**a rendah, rambut yang di-curly dan celana jeans ketat, juga sepatu high heels setinggi 8cm. "Hai, gue Dixie. Adiknya Sashi," kata perempuan tersebut sambil mengulurkan tangan. "Ohh iya iyaa... gue Noni, temennya. Ada apa, ya?" "Sorry, gue ke sini mau minta kunci mobil Sashi, bisa? Sama mau periksa juga barang-barang dia yang ada di sini apa aja biar gue bawa ke rumah dan taro di kamarnya dia." Noni menyembunyikan keterkejutannya. Ia tidak menyangka adik tirinya Sashi seberani itu meminta barang milik kakak tirinya yang sama sekali tidak akur dengannya. "Oh... hm, masuk aja dulu. Gue bangunin pacarnya Sashi, biar langsung ngomong sama dia aja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN