Warisan

1020 Kata
Sashi bangun pagi-pagi sekali. Ia jogging selama setengah jam di pinggir pantai menggunakan celana pendek, jaket dan sandal jepit. Sashi harus mengingatkan diri untuk membeli sepasang sepatu kets untuk lari supaya lebih nyaman. Ia harus fokus untuk menjaga pola hidup lebih sehat. Selama di Bandung dan sibuk oleh pekerjaan, Sashi seringkali bergadang hingga jam tiga dini hari dan saking sibuknya selalu memesan junk food untuk makan seperti Jeff. Kini ia harus mengurus badannya supaya tampak lebih segar. Jadi ketika pulang ke Bandung nanti, orang-orang tidak akan mengiranya hantu. Setelah merasa cukup mengeluarkan keringat, Sashi langsung membuka dapur untuk membuat sarapan. Menu yang ia idam-idamkan kali ini ialah pancake dengan segelas cokelat dingin. Bahan-bahannya sudah Sashi beli di supermarket kemarin. Sepertinya Jeff juga belum bangun. Sashi hanya membuat pancake untuk dua orang karena Wayan biasanya datang jam sepuluh. Ia bisa membuatkannya nanti. Setelah aroma serbuk kayu manis menguar di udara, Jeff dengan suara beratnya sehabis baru bangun tidur, berseru dari ruangan lain. "Wah, kayaknya enak, nih." Sashi tersenyum. "Bentar lagi siap, Bos! Silakan duduk di meja makan." Enam tumpuk pancake berukuran besar sudah Sashi hidangkan di atas meja makan dengan segelas cokelat dingin untuknya dan segelas cokelat panas untuk Jeff. Ia juga menyiapkan sirup maple juga semangkuk kecil keju parut. Jeff datang masih dengan mengenakan kaus Woody Woodpecker kemarin dengan celana pendek. Matanya masih menyipit karena baru bangun tidur. "Kamu minum cokelat dingin sepagi ini?" tanya Jeff memerhatikan gelas Sashi. "Iya, aku suka minum dingin mau cuacanya sedingin apa pun." Sashi memang seringkali diprotes oleh keluarga maupun teman-temannya karena kebiasaan tersebut. Ia tidak suka air hangat apalagi panas. Sashi tidak bisa hidup tanpa kulkas dan batu es. Syukurlah, ternyata Jeff tidak protes. Pria itu langsung mengambil satu pancake dengan garpunya, menaburkan sejumput keju, lalu dilapisi sirup maple. Ia mengunyah pelan sambil menganggukkan perlahan, seolah mengatakan bahwa pancake buatan Sashi enak. "Kamu bisa bikin salad?" tanya Jeff. "Bisa. Aku bahkan bisa bikin huzarensla." "Huzarensla?" "Yep, salad dari belanda. Besok mau aku bikinin? Kebetulan hari ini aku mau ketemu temen, jadi bisa sekalian belanja." "Ketemu siapa? Bukannya kamu lagi menyembunyikan diri?" tanya Jeff sambil mencomot lagi pancake keduanya. "Kemaren waktu aku ke supermarket sama Wayan, ga sengaja ketemu temen lama. Hari ini kita janji ketemu dan aku juga mau ngomongin soal masalah kecelakaan itu, sebelum dia tahu sendiri dan koar-koar kalo ternyata aku masih hidup." "Emang orangnya bisa dipercaya?" Sashi mengangguk yakin. "Aku udah kenal lama sama dia. Kami dulu kerja bareng." "Oke, nanti saya kasih uang untuk masak seminggu. Terserah kamu mau beli bahan apa aja. Saya orangnya tidak pemilih soal makanan." "Oke, beres!" *** Suasana di kantor House of Skills masih berduka. Semua tidak ada yang mengerjakan apa pun. Mereka hanya membereskan barang-barang Sashi dan membicarakan apa yang harus dilakukan tanpa salah satu owner HoS itu. Yang masih sangat terpukul oleh perginya Sashi adalah Noni. Ia seringkali menangis dan melamun. "Kalo lu udah baikan, nanti kita take lagu buat tribute Sashi. Semalam gue udah bikin," kata Revo. "Selama satu bulan ini lebih baik kita take a rest dulu. Masalah iklan atau scoring masih bisa dikerjain karena itu udah dikontrak. Tapi untuk konten, jangan dulu diisi." Noni mengangguk. "Dari kemaren, gue cuman nganggep kalo Sashi cuman lagi pergi keluar, dia cuman pergi main. Tapi makin lama, gue jadi malah makin kehilangan dia. Gue ga bisa hubungin dia, ngobrol, rasany-" Noni kembali terisak sehingga Revo mengusap punggungnya. "Udah udaah... Sashi udah tenang sekarang. Kita cuman bisa kasih yang terbaik untuk kantor ini sebagai penghargaan buat dia," kata Revo menenangkan. "Gue cuman mau kasih tahu, gimanapun lo benci sama Jio dan Renata, tolong jangan tinggalin kantor ini. Kita boleh ngomongin mereka berdua, tapi mereka udah dewasa dan ga bisa kita paksain untuk ga berhubungan." Noni hanya diam meskipun hatinya berat dan mulutnya gatal ingin mengeluarkan kata-kata kasar. Ia akan bertahan sekuat tenaga demi Sashi . Ia tidak mau jika kantor ini malah dikuasai oleh Renata. Kalau wanita itu tahu malu dan punya empati, seharusnya dia yang pergi dari sini, bukannya Noni. Shaki datang membawa bubur ayam untuk sarapan. "Guys, sarapan dulu nih." Mereka pun berkumpul di meja makan. "Si Jio ada hubungin lo, udah sampe mana mereka?" tanya noni pada Revo. "Pagi ini katanya harusnya udah nyampe sini. Bentar lagi, kali." "Oh iya, Non, laptop Sashi ada di kamar, kan? Lo tahu passwordnya ga?" tanya Shaki sambil menuangkan bubur ke dalam mangkuk. "Tahu. Kenapa?" "Bisa buka file-file dia, ga? Soalnya ada beberapa project yang dia tulis di sana. Sama catatan soal klien. Nanti tolong lihatin, ya." "Oke," jawab Noni. "By the way, kita apain barang-barang Sashi ?" Mobil Sashi masih terparkir di halaman kantor, ditutup oleh terpal. Di kamarnya ada satu lemari penuh berisi baju, sepatu, tas, laptop, dan beberapa barang yang digunakan untuk pekerjaan. "apa kita taruh di sini atau serahin ke keluarganya dia?" "Kemaren ayahnya ada bahas soal itu ga sih?" tanya Shaki pada Revo yang lebih banyak mengobrol dengan Ayahnya Sashi sebelum yang lain datang. "Ga ada. Tapi sebaiknya kita bahas sama beliau bagusnya gimana. Soal barang yang masih kita perluin buat kerja, kita minta buat disimpan di sini aja. Nanti kalau ada royalti dari sini tinggal disharing untuk keluarganya Sashi," jawab Revo. Noni mengangguk. "Tapi Sashi sering ngeluhin soal ibu dan adik tirinya. Gue jadi keberatan kalo sampe barang dia jatoh ke adik tirinya." "Ya namanya dia anak tunggal. Terus siapa lagi yang layak buat dapetin warisan Sashi?" tanya Revo. "Ada keponakannya yang suka dia bawa ke sini. Yang namanya Arin. Sashi sayang banget tuh sama dia, udah kayak adek kakak juga. Gue lebih ikhlas ngasihin barang-barangnya Sashi ke dia aja." "Lo bisa hubungin si Arin ini, ga?" Noni pun membuka akun Sashi untuk mencari daftar following di i********: milik Sashi . Tidak susah menemukan akun keponakan Shaly tersebut. Postingan terbarunya adalah foto Shaly dengan ucapan duka yang mengandung kesedihan mendalam. "Nih dapet! Bentar, gue inbox dia deh." Ketika sedang sibuk mengobrol, pintu terbuka. Emil, Jio dan Renata datang dengan wajah lelah. Noni langsung masuk ke kamar, rasanya malas jika pagi-pagi sudah melihat wajah Renata. Wajah cantiknya yang dulu ia kagumi, sekarang memiliki aura yang sangat jelek di mata Noni.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN