Payday!

1011 Kata
Jam lima sore, Sashi ikut Bu Putu ke rumahnya untuk menjemput Wayan. Ia sudah tidak sabar menjelajah berbagai toko untuk belanja, setelah satu bulan lebih ia mengalami kantong kering. Robert memang pernah menawarkan pinjaman uang, namun Sashi menolaknya dengan alasan ia masih mempunyai beberapa barang untuk dijual. Meski sebenarnya Sashi tidak tega melakukannya. Ia bukan tipe orang yang gampang menjual barang, kecuali sangat terpaksa seperti menjual jam tangan dan berlian kemarin. Menggunakan uang dari haisl kerja keras sendiri akan terasa lebih nyaman digunakan tanpa beban. Beberapa menit yang lalu, Noni juga mentransfer sejumlah uang dari hasil royalti House of Skills bulan kemarin. Jadi hari ini Sashi ingin membagi kebahagiaan bersama Wayan dan bu Putu. "Ayo, Bu, ikut hangout sama kami," ajak Sashi sambil menggandeng lengan Bu Putu yang hendak memasak. "Aduuuh... udah, kalian aja anak-anak muda! Masa iya orangtua ikut-ikutan. Udah sana berdua aja pergi senang-senang." "Gapapa, kita kan cuman belanja sama makan doang. Yuk!" "Nggak, ibu nunggu di rumah aja. Terus kamu Sashi pulang ke sini aja, nginepBiar ibu masakin makan malem buat kalian nanti pulang jalan-jalan." Sashi mengangguk setuju. "Boleh, aku tidur di sini aja nanti. Tapi Bu Putu ga usah masak. Mending istirahat, nonton sambil rebahan atau apa, kek. Ibu kan pasti capek tiap hari masak di rumah Jeff. nanti biar aku bawain makanan enak buat Bu Putu. Mau apa? seafood? Steak?" Bu Putu tertawa. "Apa aja deh terserah kamu, tapi jangan sampai repot-repot dan jangan beli yang mahal. Inget, ini baru gaji pertama dan baru sehari, jangan kebablasan malah habis." "Oke siap! Tenang aja, aku orangnya ga boros, kok." Tepat setelah Sashi mengatakan itu, Wayan keluar dari kamar mengenakan babydoll dan cardigan. Ia terlihat sangat manis. Meskipun dari keluarga sederhana, Wayan pintar bergaya dan memadu padankan pakaian. "Wah, cantik! Dah siap berangkat? Aku pesenin taksi online-nya sekarang." "Udah, Kak. Ayok!" Sashi pun membuka applikasi online untuk memesan taksi. Lalu ia teringat sesuatu. "Oh iya, menurut kalian, aku cocok diwarnain apa rambutnya?" "Kak Sashi mau warnain rambut?" tanya Wayan. "Iya, kira-kira kamu mau nungguin ga? Kamu sekalian creambath atau massage, kek. Biar kakak yang bayarin. Pokoknya kita relaksasi. Mau?" "Boleh boleh... aku kebetulan pengen potong rambut juga. Tapi menurut aku, Kak Sashi lebih cocok pake warna rambut merah. Pasti cantik!" "Whoaa... sebenernya aku ga berani pake warna yang begitu mencolok. Lagian ntar dikiranya aku niru pacarnya Jeff, pake warna merah." "Emang Mbak Alina ada di rumah?" Sashi mengangguk. "Iya, baru aja dateng hari ini." "Wah, dulu sih rambut dia warna pirang. Aku jadi penasaran kalo rambutnya merah kayak gimana. Pasti makin cantik." "Yah namanya orang cantik pake warna apa aja pasti cocok. Eh, nih taksinya udah nyampe depan," kata Sashi. "Bu Putu, kami pergi dulu yaa..." Bu Putu keluar dari dapur sambil melap tangannya. "Iya iyaa.. hati-hati." "Oke, Bos!" Setelah memasuki mobil, Sashi meng-googling warna rambut yang keren dan cocok untukya. Ia hendak langsung ke salon terlebih dahulu, karena salon jarang ada yang buka hingga larut malam. Lagi pula jika mereka ke salon dulu, jalan-jalan di sekitaran pusat perbelanjaan pun akan semakin pede dengan rambut yang rapi dan wangi. *** Ternyata selama ini Dixie ikut menemani Wiggy ke Malang. Kini mereka balik ke kantor bertiga bersama Shaki. Dixie berkilah bahwa ia ingin belajar menjadi manager Wiggy karena pria itu mulai disibukkan dengan berbagai job. Noni yang sedang makan siang dengan Emil seketika muak. Sepertinya tidak ada harapan untuk mendepak Dixie dari House of Skills. Noni juga muak karena Wiggy sama sekali tidak terganggu dengan adik tirinya Sashi itu. Ia menyangka, mungkin Dixie menggunakan pelet hingga Wiggy menuruti kemauannya. "Jam dua besok ada meeting sama sponsor di restoran hotel Hilton sambil makan siang. Kamu nanti kayaknya cocok pake baju yang kemaren kita beli, yang aku pilihin," kata Dixie dari ruang sebelah, membuat Noni ingin menutup kuping. "Wah, selain jadi manager, bisa juga lo jadi fashion stylistnya Wiggy," kata Shaki. "Iya dong, gue kan multitalent. Selera gue tinggi, jadi ga usah takut kalo diarahin sama gue gayanya." "Mantap! Nanti kalo gue ada acara-acara, lo pilihin juga baju buat gue, ya." "Bisa diatur. Itu pun kalo gue lagi ga sibuk. Oh by the way, gue bisa bawa mobil Kak Sashi, kan? Itu mobil kan jarang dipake, sementara gue harus bolak balik kampus sama ke sini dan ke rumah. Rencananya mau gue pake, boleh ga?" "Tanya Jio aja," jawab Shaki. "Itu kan mobil Sashi sama dia." Noni langsung mendatangi ruangan sebelah seakan kepalanya sudah siap meledak. Tetapi sesampainya di sana, ia berusaha berkata setenang mungkin. "Dix, mobil besok mau gue pake dulu. Gue juga lagi ada meeting di luar bareng Emil." Bibir Dixie seketika merengut. "Emang kalian ga bisa nyewa mobil or naik transportasi umum gitu?" "Oh ga bisa, karena kita udah booking duluan mobilnya. Mending lo aja yang pake transportasi umum." "Maksudnya, itu kan mobil punya Kak Sashi, gue adik kandungnya dan otomatis lebih berhak." Noni tertawa sinis. "Selain mobil Sashi, itu juga mobil Jio. Jadi di sini Jio juga lebih berhak dan gue udah minta izin dia semalem. Lagian kalopun lo adik kandung Sashi, itu mobil dia beli emang buat keperluan kantor. Kalo buat keperluan pribadi, kayak lo mau ke kampus atau hangout ya pake aja taksi online atau bus, kek." "Aduuuh... iya deh sana sana ambil. Gitu aja dibahas panjang!" omel Dixie. "Eh denger ya, bocil, kalo emang mau kerja di sini, lo harus tau etika. Gue senior lu dan gue lebih tua dari lo. Jangan seenaknya mentang-mentang lo adek kandung Sashi. Hellaaaw... dari kemaren kemana aja waktu kakak lo masih hidup? Itu kenapa dia lebih milih Arin daripada lo yang nerima warisannya." "Salah aku apa, sih? Aku cuman pengen kerja di sini. Aku ga ada minta kamu gaji aku, karena aku sadar masih belajar. Dan jangan banding-bandinginaku sama Arin, dong. Jelas dia lebih deket karena kenal lebih lama sama kak Sashi. Sedangkan aku adik tiri dan Kak Sashi ga pernah anggep aku karena dia iri, aku dapet perhatian dari papanya." Whatever! Pokoknya kalo sikap lomasih ngeyel dan cara ngmong lo ga sopan sama gue atau siapapun di sini, gue ga akan segan-segan ngelarang lo nginjek kantor ini lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN