Warna yang dipilih Sashi akhirnya ash grey di bagian atas dan light grey di bagian bawah. Ia berpikir jika keseluruhan rambutnya gelap, tidak akan ada perubahan yang signifikan. Namun jika keseluruhan berwarna terang, Sashi akan merasa kurang percaya diri, jadi ia memlih untuk memadukan keduanya. Lagi pula warna two tone sedang digemari oleh banyak orang. Hair stylist, Wayan dan Bu Putu pun tidak henti-hentinya memuji Sashi yang tampak lebih cantik dan lebih fresh. Karena selain diwarnai, Sashi juga memotong sedikit rambutnya dan lebih ditipiskan.
Semalam ia mengitari pusat perbelanjaan hingga jam sebelas malam. Sashi membeli jam tangan sebagai ganti karena sudah menjual jam Michael Kors kesayangannya. Ia juga membeli beberapa baju, parfum, serta beberapa barang lain. Kini Sashi memutuskan untuk pulang bersama Bu Putu yang juga akan bekerja setelah menginap di rumah Wanita paruh baya tersebut. Ia bersyukur karena memiliki Bu Putu dan Wayan yang sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, sehingga Sashi tidak merasa kesepian.
"Udah, Pak, stop di pagar gerbang yang warna hitam," kata Sashi setelah sampai di rumah Jeff.
Ia pun turun dan mengambil beberapa barang belanjaannya di bagasi.
"Sini biar ibu yang bawa," kata Bu Putu.
"Ga usah, Bu, dikit doang kok ini. Gampang."
Mereka pun masuk ke dalam. Semalam Sashi tidur dengan sangat pulas dan sekarang ia merasa segar dan bersemangat untuk kembali bekerja.
[Ga ada niat, sih. Lagian si Shaki capek baru pulang dari Malang bareng si Wiggy sama Dixie. Tadi pas kita pergi, dia masih tidur.|
"Dixie ikut?"
[Yaps! Dan itulah yang jadi alasan gue berdua pergi keluar sama Emil.]
Noni menjelaskan semuanya ketika kemarin Dixie hendak meminjam mobil untuk keperluan kuliah. Ia juga mengadu kepada Sashi, betapa tidak sopannya Dixie ketika menyuruh Noni dan Emil untuk naik transportasi umum saja.
Noni memang berbohong bahwa dia telah membooking mobil pada Jio untuk keperluan job. Padahal sama sekali belum ada job dan Noni meminta Emil untuk menuruti skenarionya. Kini mereka menghabiskan waktu di luar mengelilingi separuh kota sambil mencari kulineran yang lezat hanya karena tidak ingin melihat Dixie menguasai mobil tersebut.
Di teras, ternyata ada Jeff dan Alina yang sedang menikmati teh. Sashi menyapa mereka, begitupun dengan Bu Putu. Ia langsung ke belakang karena tidak sabar untuk memeriksa kembali barang belanjaan dan ingin segera memakainya. Soal produk wewangian, Sashi memang sering kalap. Dulu ai terlalu impulsif jika sedang mendatangi counter parfum langgananya. Kemarin malam pun, ia membeli dua buah parfum, namun sudah merasa cukup dan berusaha keras untuk tidak lapar mata.
Setelah membuka semua produk yang dibeli, Sashi memotret semuanya dan mengirimkan foto tersebut pada Noni. Tidak lama kemudian, temannya itu langsung membalas chatnya.
[Mantaaap! Kerasuka setan apa lo sampe beli segambreng begitu?]
"Setan shopaholc! Wkwkwk makasih ya udah ksih gue gajian. Seneng deh hari ini."
[Itu emang udah hak lo, Beb. By the way yang Arin juga udah gue kasih, ya. Ntar gue kirim bukti transfernya.]
"Ga perlu. Gue percaya sama lo. Lo sekarang di kantor?"
[nggak, gue lagi jalan-jalan sama si Emil keliling kota Bandung sambil kulineran. mau gue fotoin makanan-makanannya?]
"No thanks. nanti gue ga bisa tidur lagi kalo lu liatin mulu makanan Bandung. Lagian tumbenan ga sama si Shaki. Biasanya kan lo bertiga kemana-mana kayak The Three Musketeers."
[Ga ada niat sih tadinya. Lagian Shaki capek abis pulang dari malang bareng si Wiggy sama Dixie. Tadi pas kami pergi, dia masih tidur nyenyak."
"Dixie ikut ke Malang?"
[Yap, dan itu jadi alasan kenapa sekarang gue sama Emil keliaran di jalan.]
Noni menceritakan tentang keributannya dengan Dixie kemarin. Ia juga mengadu pada Sashi betapa tidak sopannya Dixie karena menyuruh Noni dan Emil naik transportasi umum. Noni memang berbohong ketika mengatakan bahwa ia hendak pergi menggunakan mobil untuk keperluan job. Dia juga mengajak Emil untuk mengikuti semua skenarionya, berpura-pura akan meeting hanya supaya Dixie tidak memakai mobil tersebut.
"Hahahha! Dasar lo berdua."
[Lo ga marah kan kalo gue dzolimin adek tirin lo]
"Nggak lah. Kalo dia emang kurang ajar, ya kasih pelajaran aja. Gue sebagai kakak tirinya minta maaf kalo dia udah bikin mood lo jelek tiap hari di kantor. Hahahah!"
[Puas banget lo ya!]
***
Jeff tidak tahu, apakah Alina sediam ini karena marah kepadanya atau sedang mengalami masalah di pekerjaannya. Alina tidak seperti biasa yang cheerful dan banyak mengobrol.Sejak keluar dari pesawat, Alina memang tampak lesu. Dan kini suasana hatinya terlihat lebih parah. Kemarin, ia juga menolak ketika Jeff mengajaknya tidur di hotel bintang lima.
"Si Sashi itu kerja apaan sih emang? Kamu bukannya kemaren bilang kalo dia itu cuman waiters, ya?" tanya Alina tiba-tiba dengan nada yang agak sinis.
Ada jeda beberapa saat sebelum Jeff menjawab. "Oh, iya. Dia waiters."
"Emang waiters di sini gajinya gede, ya, sampe dia bisa beli barang-barang mahal?"
"Kamu tau dari mana?" tanya Jeff penasaran
"Kamu ga liat tadi dia bawa banyak kantung belanjaan? Itu semua barang branded yang harganya rata-rata jutaan. Dia juga tadi kayaknya bawa sampe lima paperbag gitu."
"Oya? Aku ga begitu merhatiin."
Alina mendelik. "Aku kan cewek, jadi hapal banget kalo itu barang mahal dengan sekali lirik doang."
"Ya mungkin dia dapet tips gede dari pelanggan. Ini Bali, banyak orang-orang berduit lagi liburan dan ga sedikit yang suka kash tips banyak."
"Hhh... tau deh... kapan kita pergi ke cottage?" tanya Alina sambil menyesap teh.
"Hari ini ayok... si Franky juga dari tadi ngechat nyuruh ke sana. Aku takutnya kamu amsih capek."
"Ya udah deh aku mandi dulu. Aku juga ga sabar pengen liat cottage-nya."
Terakhir kali Alina ke lokasi cottage, tempat itu masih berupa pondasi. Ia pasti takjub melihat perubahannya.
Jeff tersenyum. Sepertinya Alina sedang cemburu dengan Sashi. Selama berpacaran, Jeff tidak pernah melihat Alina cemburu dengan wanita manapun. Namun melihat Sashi tadi, Jeff sempat pangling karena gadis itu mengubah warna rambutnya. Sashi terlihat semakin cantik. Barang-barang yang ia beli sudah pasti dari para lelaki hidung belang yang dilayaninya. Jeff tidak heran jika pria-pria itu memberi tips banyak karena Sashi memang menarik. Hal tersebut membuat Jeff flashback ke malam itu yang selalu muncul ketika ia hendak tidur.
Bahkan semalam, ketika ia tidur di samping Alina, bayangan Sashi yang b******u mesra dengannya tiba-tiba muncul.