Rengekan Manja

1070 Kata
Bianca dan juga Alexandro menghabiskan waktu mereka untuk bersantai selama seharian di apartement. Besok merupakan hari kelulusan mereka, tapi bukannya mereka menyiapkan persiapan mereka untuk besok, tapi mereka malah saling berpelukan di dalam kamar. Sebenarnya ini bukan merupakan kemauan Bianca, tapi ini semua kemauan Alexandro sendiri. Mereka berdua hanya tidur sambil berpelukan tanpa melakukan hal itu karena Bianca yang tadinya mengeluh lelah. Alexandro tentu tidak tega jika ia tiba-tiba menginginkan melakukan hal itu lagi, padahal tadi malam saja mereka baru menyelesaikan malam yang begitu panas dan sangat indah. “Sayang,” panggil Alexandro pada Bianca yang sedang dalam posisi nyaman menyandarkan kepalanya di d**a bidang Alexandro. “Kenapa?” Tanya Bianca tanpa melihat ke arah Alexandro, karena ia telah begitu nyaman dengan posisinya saat ini. “Kamu mau pulang ke rumah kapan setelah wisuda besok?” Tanya Alexandro yang sebenarnya sangat ingin menghindari topik ini, tapi mau bagaimana lagi, ia harus menanyakan hal ini agar setidaknya ia bisa menyiapkan hatinya sebelum berpisah dengan Bianca. Bianca terdiam sebentar, ia tidak langsung menjawab, ia seperti sedang berpikir tentang apa yang akan ia jawab pada Alexandro. “Sehari setelah wisuda aku langsung pulang, aku udah ke buru janji sama Mama buat pulang ke rumah sehari setelah wisuda.” Ucap Bianca yang membuat Alexandro tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu. Sehari setelah wisuda, itu terlalu cepat untuk Bianca pulang ke rumahnya. “Minggu depan aja ya,” ucap Alexandro sambil memelas. “Loh kok gitu? Besok Mama bakal datang loh ke kampus, dan pastinya Mama bakal ingatin aku buat pulang besoknya. Tapi nanti aku bilang sama Mama, kasih aku waktu 2 hari lagi karena kita kan bakal ada party di villa keluarga kamu.” “Aaaa... aku nggak mau pisah sama kamu, aku nanti gimana kalo nggak ada kamu di samping aku?” Alexandro bertambah memeluk Bianca erat karena ia tidak rela melepas Bianca untuk menjauh darinya. Bianca Terkekeh dan menepuk-nepuk punggung Alexandro pelan. “Jangan lebay Andro, kita masih bisa ketemu kok.” “Tapi itu beda sayang, aku pengennya ketemu sama kamu setiap hari, dan aku mau kamu selalu ada di dekat aku terus.” Ucap Alexandro, ia menelusupkan kepalanya leher di Bianca. “Nggak boleh gitu dong, kita belum nikah dan nggak baik kalo kita tinggal bersama terus. Apalagi orangtua kita nggak ada yang tau kalo kita tinggal bareng seperti ini dari 2 tahun lalu.” “Makanya kita nikah aja, aku kurang apa sampai kamu nggak mau nikah sama aku? Aku nggak akan lepasin kamu buat ninggalin aku sendiri disini pokoknya.” “Kamu nggak kurang apa-apa kok, cuma aku aja yang belum mau nikah. Kan kita udah sepakat tadi buat nunggu aku siap dulu.” “Lama buat nunggu kamu siap, ke buru keduluan sama orang lain dan aku nggak mau itu.” “Udah ah, jangan bahas itu lagi, pokoknya nanti kalo aku udah kembali ke rumah, kamu harus lebih mandiri. Kalo perlu kamu pulang ke rumah kamu deh,” ucap Bianca yang mendapatkan gelengan kepala dari Alexandro. “Aku males buat pulang ke rumah, terlalu banyak aturan dan buat aku nggak bisa bebas.” “Dasar anak bandel,” “Biarin bandel, yang penting kamu cinta sama aku.” Ucap Alexandro dengan bangganya. “Udah ah, lepasin dulu pelukannya, ini udah sore dan aku pengen mandi dulu.” Ucap Bianca melepaskan pelukan Alexandro pada tubuhnya dengan mudah, karena pelukan Alexandro yang saat ini melonggar. Bianca turun dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia dan juga Alexandro memang hanya bersantai di dalam rumah terus, dan tadi pagi ia sudah mandi. Tapi rasanya kurang nyaman kalo sore harinya tidak mandi juga. Ini karena sudah menjadi kebiasaan untuk Bianca yang sering mandi dua kali dalam sehari. Air dari shower yang membasahi tubuhnya, membuat Bianca merasakan ketenangan pada pikirannya. Saat sedang asik mengguyur tubuhnya di shower, sepasang tangan kini telah melingkar di belakang tubuhnya. Tidak perlu berpikir lama untuk Bianca mengetahui siapa yang memeluknya itu. Karena sudah di pastikan itu adalah Alexandro. Bianca tidak keberatan ketika tiba-tiba Alexandro menyelinap masuk saat ia sedang mandi seperti ini, karena hal ini merupakan hal biasa bagi mereka berdua. “Jangan minta hal itu,” peringat Bianca yang di angguki oleh Alexandro yang saat ini memeluknya erat dengan dagu yang ia sandarkan di bahu Bianca. “Aku tau kamu lelah, dan aku nggak mungkin maksa kamu kan. Aku mau sama kamu bukan cuma karena hal itu, tapi karena aku mencintai kamu.” Ucap Alexandro dan setelah itu ia mencium dalam leher Bianca hingga menimbulkan bekas kemerahan di leher kekasihnya itu. “Andro ih, kamu pasti buat tanda nih? Kan udah aku bilang jangan buat tanda karena besok kita wisuda.” Decak kesal Bianca yang di tanggapi kekehan oleh Alexandro. “Aku kan cuma mau orang-orang nanti tahu kalo kamu adalah milik aku.” Ucap Alexandro membalikkan tubuh Bianca untuk menghadapnya. Tangannya mematikan keran shower agar mereka bisa dengan muda berbicara. “Tanpa kamu bilang sama mereka aja, mereka udah tau kalo aku itu milik kamu. Kamu lupa seberapa posesif dan protektif kamu sama aku di kampus?” Decak kesal Bianca ketika teringat bagaimana hari-harinya di kampus ketika berpacaran dengan Alexandro “Ya ampun pacar aku cerewet sekali, jadi makin sayang kan jadinya.” Ucap Alexandro dengan satu tangan yang masih melingkar manis di pinggang Bianca dan satu lagi kini sedang mengelus sayang pipi Bianca. “Dih gaje kamu, udah sana aku mau mandi, jangan ganggu aku.” Usir Bianca pada Alexandro. “Dengan keadaan aku yang sama kayak kamu udah nggak pakai apa-apa, kamu mau aku keluar?” Tanya Alexandro seakan tidak percaya. “Iya aku pengen kamu keluar, nggak menjamin kamu nggak akan khilaf nantinya. Jadi mending kamu keluar dan mandinya nanti gantian sama aku.” Ucap Bianca penuh perintah mutlak dan tidak ingin di ganggu gugat. “Yaudah aku keluar,” dengan pasrah, Alexandro mengambil handuk dan memakai handuk itu untuk menutup aset yang harus ia jaga dengan baik. Karena jika tidak ia pastikan Bianca akan berpaling darinya. Cup Setelah mencuri satu kecupan di bibir Bianca, Alexandro keluar dari kamar mandi dan membiarkan Bianca untuk melanjutkan acara mandinya. Bianca kembali mandi dengan tenang tanpa harus merasa was-was dengan keberadaan Alexandro. Ia sedang membutuhkan istirahat karena semalam Alexandro menggempurnya habis-habisan, ia bisa sakit jika terlalu kelelahan apalagi besok adalah acara wisuda mereka. Mencoba melupakan Alexandro sebentar, Bianca mulai menutup matanya dan membiarkan air shower membasahi tubuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN