Bianca Pergi

1017 Kata
Hari telah berganti menjadi larut malam, dan sedari tadi Alexandro sama sekali tidak mau melepaskan pelukan mereka, hingga mereka berdua akhirnya harus melewatkan waktu makan siang, dan juga makan malam. Semua itu dilakukan oleh Alexandro, karena saking takutnya ia jika sampai ia dan Bianca berpisah sedikit saja, akan membuat wanitanya itu pergi meninggalkannya. Alexandro benar-benar tidak mau ditinggalkan oleh Bianca. Bianca terbangun dari tidurnya, ketika rasa lapar tiba-tiba melanda perutnya. Tapi bukan itu yang terpenting sekarang, karena sekarang ia harus secepatnya pergi dari apartemen Alexandro, sebelum pria itu terbangun dari tidurnya. Karena satu-satunya kesempatan untuknya pergi dari pria itu, adalah sekarang di saat pria itu kini akhirnya terlelap juga. Sebelum benar-benar akan meninggalkan Alexandro, Bianca terlebih dahulu menatap lekat wajah tampan kekasihnya itu, dalam keadaan sedang tertidur seperti ini. Jika kejadian malam itu tidak terjadi, mungkin ia masih bisa bertahan di sisi Alexandro, tapi sekarang semuanya sudah berbeda. Dan dengan cara ia pergi, adalah satu-satunya cara paling terbaik untuknya sekarang. "Selamat tinggal, Alexandro Melviano. Aku mencintaimu." gumam pelan Bianca, sambil turun dari tempat tidur, setelah ia berhasil melepaskan pelukan dari pria itu. Untung saja Alexandro hanya membuat gerakan mencari posisi ternyaman untuk tidur, saat tadi ia berhasil melepaskan pelukan pria itu, jika tidak mungkin akan terjadi masalah nantinya dengan bangunnya Alexandro. "Aku pergi ya, Andro. Kamu jaga diri kamu, baik-baik ya disini. Semoga kamu bahagia, dengan kehidupan baru kamu nanti." ujar Bianca sambil menghapus air matanya, yang tiba-tiba meluncur bebas di kedua pipinya. "Aku harap, kamu nggak akan pernah menemukan aku. Selain, aku yang kembali sendiri ke Negara ini." Kata terakhir yang di katakan oleh Bianca di kesunyian malam, setelah itu wanita itu pergi meninggalkan apartemen tersebut, tanpa membawa ponsel, sama sekali. Karena Bianca tahu, jika nantinya ia akan mudah di temukan. Saat Bianca telah berada di lobby depan apartemen elite milik kekasihnya itu, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depannya, dan pria yang berada di dalam mobil tersebut tidak lain adalah sahabatnya Farrel, yang Bianca mintai pertolongan untuk menjemputnya malam-malam seperti ini. "Maaf ya, karena aku jadinya ganggu kamu malam-malam begini," ujar Bianca yang sebenarnya merasa tidak enak. "Udah nggak apa-apa, kamu santai aja. Aku juga belum tidur, pas kamu nelpon tadi." balas Farrel yang sekarang sedang sibuk memindahkan koper milik Bianca ke dalam Bagasi mobilnya. "Aku udah boleh naik?" tanya Bianca. "Astaga, naik aja Bianca. Lagian, kamu kenapa masih nungguin aku naik juga sih, ini aku lagi sibuk mindahin koper kamu," ucap Farrel yang mendapatkan anggukan dari wanita itu. Setelah selesai dengan memindahkan koper, Farrel ikut menyusul masuk ke dalam mobil, dan mulai mengendarai mobil tersebut tanpa ada niatan untuk membuka suara, hingga kondisi dalam mobil tersebut sangat sunyi. "Kamu nggak pengen nanya, sesuatu gitu?" tanya Bianca, di saat mereka telah berada di pertengahan jalan menuju ke tempat tujuan. "Aku nggak bakal paksa kamu, buat cerita sama aku, kalo kamu belum siap." jawab Farrel. "Emangnya, kamu nggak penasaran apa?" tanya lagi Bianca. "Tentu udah jelas, aku sangat penasaran. Apalagi mata kamu sekarang, jelas-jelas bengkak, dan itu udah pasti karena kamu nangis kan?" tanya Farrel di akhir kalimatnya. "Rel, kamu bisa kan buat aku nggak bisa di temukan sama Andro? Aku nggak mau ketemu sama dia, aku pengen hidup aku tenang." pinta Bianca tiba-tiba, yang jelas membuat Farrel kaget. "b******k! Aku sudah memberikan kesempatan dia buat jaga, kamu. Tapi ini yang kamu dapatkan, dari pria b******n seperti dia. Kurang ajar, aku nggak akan biarin kamu ketemu sama dia." cetus Farrel yang merasa emosi sendiri, padahal ia belum tahu ceritanya seperti apa. Tapi pria itu, seperti sudah dapat mengerti maksud dari kalimatnya barusan. "Tolong bawa aku pergi, Farrel. Aku nggak mau ketemu, sama Andro lagi. Dia udah jahat sama aku, dan aku nggak mau lagi kalo harus ketemu sama dia besok," ujar Bianca dengan airmata yang mengalir deras di pipinya. Wanita itu menangis, menumpahkan semua kesedihannya karena harus berpisah dengan kekasihnya, karena masalah ini. Ia sudah menahan untuk tidak menangis tadi, di saat ia akan pergi dari apartemen pria itu, walaupun ia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak turun tadi. Tapi untungnya, tidak ada isakan yang terdengar, hanya ada sungai kecil yang terus mengaliri kedua pipi Bianca. "Aku akan bawa kamu, ke tempat dimana pria b******k itu, nggak akan bisa bertemu dengan kamu, walaupun dia datang di Negara itu. Aku akan membuatkan identitas baru, buat kamu selama tinggal di sana nanti, dan aku harap kamu akan betah di sana." ucap Farrel walaupun kedua matanya begitu fokus melihat ke depan. "Makasih Farrel, kamu memang sahabat terbaik aku." ucap Bianca sambil menghapus air matanya di pipinya. "Udah jangan nangis lagi. Mending sekarang kamu persiapkan diri kamu sekarang, sebelum kamu akan pergi dari Negara ini, kamu harus ketemu sama Mama kamu terlebih dahulu. Mama kamu, akan khawatir kalo kamu pergi tanpa pamitan langsung," ujar Farrel menoleh sedikit ke arah Bianca, sebelum pandangannya kembali fokus ke depan. "Tapi Rel, kamu mau janji satu hal kan sama aku?" tanya Bianca tiba-tiba, yang membuat Farrel jelas saja heran. "Ngomong yang jelas, Bianca. Aku males buat menebak-nebak, di situasi seperti ini." jawab Farrel. "Jangan ngomong apapun, tentang Andro ke Mama, aku nanti ya. Pokoknya biar aku yang bicara sama Mama aku nanti," pinta Bianca yang jelas saja membuat Farrel mendengus kesal. "Ck. Kamu kenapa sih, suka banget buat melindungi, Andro. Pria b******k itu, udah jelas-jelas menyakiti kamu, tapi kamu malah masih pengen citranya baik di depan Mama kamu. Memang aku nggak tau, gimana dia nyakitin kamu, tapi dari tingkah kamu sekarang, udah jelas-jelas yang di lakukan ke kamu itu pasti susah untuk di maafkan." Balas Farrel yang membuat Bianca menundukkan kepalanya. "Aku cuma nggak mau, kalo Mama aku jadi benci sama, Andro." kata Bianca. "Terserah kamu." decak Farrel. "Farrel." panggil Bianca. "Nggak sekarang Bi. Aku nggak mau, menjadi emosi karena topik pembahasan kita sekarang pria b******k itu," ujar Farrel. Akhirnya mereka berdua sama-sama saling diam sekarang. Bianca yang sedang sibuk menata perasaannya, agar terlihat baik-baik saja, ketika bertemu dengan ibunya nanti. Berbeda dengan Farrel yang sekarang, sedang mencoba untuk menenangkan emosinya yang sekarang naik. Biar bagaimanapun ia sangat menyayangi Bianca layaknya seorang adik. Apalagi perbedaan umur mereka yang terpaut satu tahun di atas, Bianca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN