Bianca memakan sarapannya dengan tidak terlalu berselera. Pikirannya masih terbayang akan kejadian semalam, yang ia lihat sendiri dengan menggunakan matanya. Bagaimana orang yang sangat ia cintai, mengkhianatinya. Sementara Bianca sibuk dengan pikirannya itu, tiba-tiba ia merasa terkejut ketika seseorang memberikan sebuah kecupan di keningnya, dan setelah itu duduk di sampingnya.
"Morning sayang," ucap Alexandro sambil tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa.
Bianca sama sekali tidak memberikan sebuah balasan, ia hanya memberikan senyuman tipis untuk menanggapi sapaan dari Alexandro itu.
"Setelah apa yang kamu lakukan semalam, bisa-bisanya kamu masih bisa tersenyum di depan aku kayak gini." Batin Bianca sambil memakan makanannya.
Bianca bisa melihat jika Alexandro terlihat begitu santai saat mengobrol sambil sarapan bersama dengan teman-teman mereka di meja makan itu. Wanita itu seketika merasa jika nasibnya begitu miris, karena telah dikhianati oleh orang yang ia kira sangat mencintai dirinya itu, hingga ia rela memberikan semuanya pada pria di sampingnya itu.
Memikirkan hal itu, membuat Bianca semakin tidak bisa berlama-lama dekat bersama dengan Alexandro, karena rasanya terlalu sakit. Tanpa menghabiskan makanannya, Bianca berdiri dari duduknya, dan berniat ingin pergi dari meja makan tersebut, tapi Alexandro langsung menahan tangannya.
"Sayang, kamu mau kemana?" Tanya Alexandro.
"Aku mau istirahat," ucap Bianca dan setelah itu gadis itu langsung pergi, tanpa mau menghiraukan Alexandro lagi.
"Guys, gue susul cewek gue dulu ya." Ucap Alexandro karena merasa khawatir dengan kekasihnya itu. Tidak biasanya Bianca seperti ini, apa wanita itu sedang tidak enak badan sekarang? Memikirkan hal itu saja, membuat Alexandro sudah di buat sangat khawatir.
"Dasar bucin, kerjaannya mau sama Bianca terus." Ucap Reno mengejek.
"Bilang aja lo iri, makanya cari pacar tuh sana." Ucap Alexandro sambil berdiri dari duduknya.
"Ah males gue. Gue belum siap buat jadi bucin, gue masih pengen hidup normal. Liat kelakuan lo pas pacaran aja, udah buat geli sendiri." Ucap Reno sambil bergidik ngeri sendiri ketika ia membayangkan dirinya yang menjadi bucin.
"Terserah lo deh, gue ke kamar cewek gue dulu." Ucap Alexandro dan kini benar-benar pergi menyusul Bianca yang tanpa ia ketahui sekarang sedang merapikan barang bawaannya itu.
Tok...Tok...Tok
"Sayang,"
"Bi,"
"Bianca, kamu lagi didalam kan?" Tanya Alexandro sambil terus mengetuk pintu kamar tersebut dengan tidak sabaran, karena perasaan khawatir dengan keadaan kekasihnya.
"Kenapa?" Tanya Bianca dengan begitu tenang ketika ia telah membuka pintu kamar tersebut.
"Kamu nggak apa-apa kan? Nggak ada sakit atau apa gitu?" Tanya Alexandro sambil memperhatikan seluruh tubuh kekasihnya, seakan ingin tahu apakah ada luka atau apa.
"Aku nggak apa-apa kok. Cuma aku pengen pulang sekarang," ucap Bianca masih dengan ekspresi wajah tenang.
"Pulang? Maksud kamu?" Tanya Alexandro seakan tidak mengerti.
"Aku pengen pulang ke apartemen kita sekarang, aku agak kurang nyaman lama-lama disini. Semalam aku nggak bisa tidur dengan nyenyak. Jadi aku pengen pulang, kalo kamu masih mau disini ya nggak apa-apa, nanti biar supir keluarga aku yang jemput aku kesini." Ucap Bianca masih berusaha menyembunyikan apa yang ia lihat semalam, ia tidak ingin ribut dengan Alexandro di saat ada banyak teman-teman mereka di tempat ini.
"Yaudah kalo kamu udah mau pulang, sekarang kita pulang. Buat apa aku disini lama-lama kalo nggak ada kamu." Ucap Alexandro yang hanya mendapatkan anggukan dari wanita itu.
***
Setelah melewati perjalanan yang memakan waktu beberapa jam, kini mereka berdua telah sampai di apartemen tempat tinggal mereka berdua. Tanpa sepatah katapun Bianca langsung menuju ke kamar mereka, dan
memasukan semua pakaiannya kedalam koper, yang membuat Alexandro seketika panik bercampur kebingungan.
"Apa yang kamu lakukan Bi?"
"Kenapa kamu masukin semua baju-baju kamu kedalam koper?"
"Kamu mau kemana?" Tanya Alexandro dengan panik, tapi sama sekali tidak di jawab oleh Wanita itu. Bianca hanya diam, dan memilih untuk menutup kopernya dan menarik koper tersebut untuk keluar dari kamar mereka.
Hal tersebut, tentu tidak akan di biarkan oleh Alexandro. Ia langsung menyusul Bianca dan menarik koper dari genggaman wanita itu, dan melemparkan ke sembarang arah, asalkan tidak berada dekat dengan kekasihnya.
"Alexandro, kamu apa-apaan sih?" Tanya Bianca dengan nada suara yang ia naikkan beberapa oktaf.
"Aku kenapa? Kamu yang kenapa Bi?" Tanya balik Alexandro yang membuat Bianca melihat ke arah lain, sambil menghela nafasnya pelan.
"Kenapa cuma diam? Aku tanya kamu kenapa? Kamu mau ninggalin aku gitu aja, tanpa ada alasan jelas kenapa kamu sampai mau pergi seperti ini?" Tanya Alexandro membutuhkan sebuah kejelasan.
"Tanpa kamu tanya juga sama aku, seharusnya kamu udah tau kenapa aku mau pergi sekarang. Kalo emang kamu udah nggak sayang sama aku, seharusnya kamu bilang sama aku, bukan kamu malah khianati aku diam-diam di belakang aku." Ucap Bianca dengan mata yang mulai berkaca-kaca, karena begitu sakit rasanya ketika bayang-bayang Alexandro telah tidur bersama seorang wanita yang ia tidak tahu siapa itu.
"Maksud kamu?" Tanya Alexandro.
"Nggak usah pura-pura Alexandro. Semalam aku liat kamu di kamar tidur sama perempuan yang aku nggak tau sama siapa. Dan kayaknya, kamu sama dia baru aja selesai melewati hal yang begitu indah, sampai kalian tertidur begitu pulas." Ucap Bianca yang membuat energi di tubuh Alexandro seketika terasa hilang. Ia sama sekali tidak pernah berharap, jika Bianca akan melihat hal, yang ia saja tidak tahu kenapa bisa ada Gemini di dalam kamar bersamanya.
"Kamu salah paham sayang, semalam aku sama sekali nggak melakukan apa-apa sama Gemini. Sepertinya aku di jebak, karena semalam aku mabuk." Ucap Alexandro yang berharap Bianca akan percaya padanya. Senyuman miris terbit di kedua sudut bibir Bianca ketika mendengar alasan yang terucap dari bibir kekasihnya itu.
"Oh jadi namanya Gemini? Aku nggak mungkin salah paham, kalo nama dari perempuan itu aja kamu tau Andro. Buat apa dia jebak kamu, kalo kamu juga menyukainya." Ucap Bianca yang membuat Alexandro langsung mengacak rambutnya dengan kasar.
"Sayang, please percaya sama aku. Aku sama sekali nggak ngapa-ngapain sama perempuan itu. Aku harus apa biar kamu percaya sama aku?" Ucap Alexandro dengan ekspresi wajah penuh permohonan. Ia tidak ingin kehilangan wanita di depannya ini, hanya karena sebuah jebakan yang sama sekali ia tidak tahu itu.
"Kita putus aja Andro, aku nggak mau jalani hubungan sama orang yang udah bohong sama aku." Ucap Bianca memilih untuk tidak menanggapi perkataan dari Alexandro, dan membuka sebuah percakapan baru.
"Nggak! Sampai kapanpun, aku nggak akan pernah setuju dengan kemauan putus kamu." Ucap Alexandro keras kepala. Ia merasa tidak membuat kesalahan, jadi ia tidak akan melepaskan Bianca apapun yang terjadi. Cintanya pada wanita di depannya ini begitu besar dan dalam. Ia bisa hancur jika kekasihnya itu benar-benar pergi dan meninggalkannya.
"Aku nggak butuh persetujuan dari kamu, karena yang paling penting sekarang, biarin aku untuk pergi. Aku nggak mau semakin bertambah sakit hati, karena saat aku lihat kamu, yang ada hati aku makin sakit karena langsung terbayang dengan kejadian semalam." Ucap Bianca kini tidak bisa lagi menahan airmatanya yang akhirnya terjatuh.
"Coba kamu pikir, perempuan mana yang nggak akan sakit hati, ketika melihat pria yang sangat ia cintai, tidur sama perempuan lain. Dan yang lebih parah lagi, setelah sehari mereka wisuda. Kamu pikir hati aku nggak sakit apa liat kamu sama dia? Hati aku sakit Andro, sakit banget sampai rasanya aku pengen menghilang aja dari muka bumi ini." Ucap Bianca dengan penuh penekanan di setiap perkataannya.
"Maafin aku Bi, maaf. Tapi tolong percaya sama aku, aku sama sekali nggak melakukan itu sama dia. Walaupun aku mabuk, aku yakin aku nggak mungkin telah melakukan sesuatu sama dia." Ucap Alexandro berusaha untuk meyakinkan Bianca yang langsung menggelengkan kepalanya, karena ia sama sekali tidak bisa percaya dengan perkataan dari pria itu.
"Sayang maafin aku, tolong jangan pergi. Aku nggak bisa tanpa kamu Bi, dan hidup aku sama sekali nggak ada artinya kalo kamu ninggalin aku." Ucap Alexandro sambil berlutut di depan Bianca yang kini menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
"Biarin aku pergi Andro, aku nggak bisa lagi punya hubungan sama kamu. Kepercayaan yang udah aku berikan sama kamu, udah kamu hancurkan." Ucap Bianca yang membuat Alexandro langsung menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa kehilangan sosok yang telah membuat ia sadar dengan artinya cinta. Alexandro langsung memeluk perut Bianca dengan erat, dengan airmata yang kini juga membahasi wajahnya.
"Aku mohon Bi, jangan tinggalin aku. Aku nggak mau, aku nggak mau kamu pergi. Tolong kamu kasih aku kesempatan untuk membuktikan, kalo semua yang kamu lihat semalam itu nggak benar." Ucap Alexandro.
"Apa lagi yang mau kamu buktikan Alexandro, semuanya udah jelas. Dan aku sama sekali udah nggak butuh bukti apa-apa lagi. Dan sekarang, tolong biarin aku pergi." Ucap Bianca memohon yang lagi-lagi mendapatkan gelengan kepala dari Alexandro. Pria itu berdiri dari berlututnya dan langsung menggendong Bianca untuk masuk kedalam kamar mereka kembali.
"Turunin aku Alexandro, biarin aku pergi." Berontak Bianca di dalam gendongan pria itu.
"Nggak akan, aku nggak akan biarin kamu ninggalin aku." Ucap Alexandro sambil meletakkan tubuh Bianca secara perlahan di atas tempat tidur.
"Sekarang kamu tidur dulu, kamu pasti terlalu capek makanya sampai jadi mikir yang nggak-nggak." Ucap Alexandro dengan suara seraknya sehabis menangis tadi.
"Aku nggak mau tidur, aku maunya pergi dari sini. Tolong, biarin aku pergi Alexandro." Mohon Bianca yang membuat Alexandro menutup matanya karena menahan rasa sakit yang lagi-lagi bertambah ketika kekasihnya itu memohon untuk membiarkan ia pergi.
"Udah nggak usah ngomong yang aneh-aneh deh sayang. Mending sekarang kita istirahat aja." Ucap Alexandro sambil memaksakan senyumannya dan langsung menarik Bianca untuk masuk kedalam pelukannya dalam keadaan berbaring.
Kali ini Bianca tidak lagi memberontak, ia seakan memberikan kesempatan Alexandro untuk memeluknya seperti ini. Ia hanya diam dan sama sekali tidak membuka suara. Mungkin saat Alexandro tidur nanti, ia akan diam-diam pergi dari apartemen mereka. Itu yang ada di pikiran seorang Bianca sekarang. Karena nyatanya, tidak semudah itu untuk pergi dari Alexandro, ketika pria itu dalam keadaan sadar seperti tadi.